Minggu, 26 Juli 2009

Pembuktian doktrin Tritunggal

Kekristenan itu unik, dan keunikan itu membuat kekristenan berbeda dari semua agama dan kepercayaan yang ada di muka bumi ini. ada begitu banyak keunikan di dalam kekristenan dan salah satu kepercayan kekristenan yang unik dan berbeda dari semua agama dan kepercayaan yang ada adalah kepercayaan terhadap Allah Tritunggal (Allah yang Tunggal yang menyatakan diri dalam 3 pribadi, Bapa Putra dan Roh Kudus). di dalam semua ajaran agama dan kepercayaan tidak ada konsep yang seperti ini. Yudaisme dan Islam mengakui bahwa Allah adalah esa (satu), ini tertuang dalam shemanya orang Yahudi yang terkenal dalam Ulangan 6:4, dan juga dalam syahadatnya orang Islam bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, atau dengan kata lain terjebak dalam monoteisme mutlak, sedangakan pada sisi yang lain ada yang bergerak dalam politeisme yang amburadul seperti yang kita temukan dalam trimurtinya orang hindu, sehingga kepercayaan terhadap Allah tritunggal adalah suatu konsep kepercayaan yang benar-benar berbeda dari semua kepercayaan karena kekristenan bergerak dalam monoteisme bahwa Allah itu Esa tetapi tidak seperti ajaran Yudaisme dan Islam dan juga mengakui bahwa Allah yang Esa itu menyatakan diri-Nya dalam 3 pribadi yaitu Bapa, Anak dan Roh Kudus tetapi tidak terjebak dalam konsep politeisme yang amburadul.

Hal ini membuat konsep Tritunggal yang diajarkan oleh Alkitab terus dipertanyakan sepanjang sejarah Gereja karena konsep ini pada kenyataannya begitu sulit untuk dipahami oleh begitu banyak orang. tetapi ini bukan berarti bahwa kepercayaan terhadap Allah Tritunggal adalah kepercayaan yang irasional (Tidak masuk akal). Filsuf Inggris, John Locke membagi pengetahuan menjadi 3 macam yaitu : (1) Yang masuk akal (rasional) yang menyangkut hal-hal yang kebenarannya dapat ditemukan melalui menguji, dan menelusuri pikiran-pikiran yang dimiliki dari sensasi dan refleksi itu; dan melalui deduksi secara alamiah mengetahui benar atau mungkin. (2) Yang tak masuk akal (kontra rasional), yaitu hal-hal yang tidak sesuai, atau tidak dapat dipadankan dengan pikiran maupun ide-ide yang jelas dan nyata. (3) Yang berada di atas kemampuan akal atau melampaui akal (supra rasional), yaitu hal-hal yang kebenaran atau kemungkinannya tidak dapat diperoleh dari prinsip-prinsip sebagaimana yang terdapat dalam pengetahuan yang rasional. (Colin Brown: Filsafat dan Iman Kristen I; 1994: 84; lihat juga Stephen Tong: Siapakah Kristus (Sifat & Karya Kristus); 1992, hal.3). Dan Tritunggal berada dalam ranah ketiga. Walaupun para skeptisi, kaum Unitarian dan saksi Yehovah mengejek doktrin ini sebagai hal yang tidak mungkin secara matematis, tetapi doktrin ini adalah ajaran Alkitab dan pada dasarnya realistis, baik dipandang dari segi trial-and-error maupun segi ilmiah..

Pada kesempatan ini penulis merasa perlu untuk menjelaskan mengenai keabsahan dan kebenaran dari doktrin tritunggal secara sudut historis, Filosofis dan Teologis. mengapa dari sudut sejarah? penulis merasa perlu membahas dari sudut sejarah untuk membuktikan bahwa Tritunggal bukanlah kepercayaan yang baru muncul pada abad ke-IV tetapi telah berakar kuat dalam pemikiran bapak Gereja mula-mula, karena pada kenyataannya ada begitu banyak orang yang menyatakan bahwa Tritunggal sebenarnya adalah hasil dari konsili Khalsedon dan Nicea yang penuh dengan intrik politik imperium Romawi, dan mereka menyatakan bahwa Bapak Gereja mula-mula tidak mengajarkan hal ini.

Dari sudut filosofis penulis merasa perlu untuk membahas bahwa Tritunggal adalah ajaran Alkitab yang dapat dipercaya, dan pada kenyataannya merupakan kebenaran yang sejati. dan dari sudut teologis penulis akan memaparkan tentang bukti-bukti Alkitab bahwa memang doktrin Tritunggal pada hakikatnya diajarkan oleh Alkitab dan bukan hasil dari rekonstruksi pemikiran manusia yang sempit, dangkal dan telah di cemari oleh dosa. Tritunggal adalah ajaran Alkitab. namun sebelum kita membahas tentang pembuktian Tritunggal adri sudut sejarah, filosofis dan teologis adalah lebih baik untuk kita membahas terlebih dahulu apa itu Tritunggal.

Apa itu Tritunggal

Sebelum kita membahas arti Tritunggal, maka pertama-tama yang harus dipikirkan adalah tentang masalah terminologi (penggunaan istilah) dalam konteks ini. Selain Tritunggal, kata lain yang sering dipakai adalah kata Trinitas (Ing: Trinity). Louis Berkhof berkata bahwa kata bahasa Inggris Trinity tidaklah seefektif kata bahasa Belanda Drie enheid sebab kata itu bisa saja hanya untuk menunjukkan arti tiga tanpa adanya implikasi kesatuan dari ketigaannya. (Louis Berkhof; Teologi Sistematika (Doktrin Allah); 1993: 145). Karena itu selain kata ini banyak digunakan, tetapi demi ketidaksimpangan pengertian, lebih baik digunakan kata Tritunggal.

Memang pada kenyataannya istilah Tritunggal, Trinity, Trinitas tidak ditemukan di dalam Alkitab, namun ini bukan berarti bahwa Tritunggal, bukan ajaran Alkitab. Jika suatu kata tidak di pakai dalam Alkitab tidaklah secara otomatis bahwa hal tersebut tidak diajarkan oleh Alkitab, tetapi di dalam Alkitab terdapat maksud tertulis yang memang secara gamblang ditemukan di dalam Alkitab, tetapi juga ada maksud yang tersirat, yaitu yang tidak secara langsung tertulis tetapi konsepnya jelas ada di dalam Alkitab, sebagai perbandingan adalah istilah Inkarnasi, kata ini tidak ada dalam Alkitab tetapi konsepnya jelas ada dan diajarkan oleh Alkitab.

Secara etimologi, kata Tritunggal berasal dari kata bahasa Latin Trinitas yang terdiri dari dua kata, yaitu tres yang artinya tiga, dan unus yang berarti esa, tunggal atau satu. (Thomas N. Raltson: Elements of Divinity; 1924: 58). Jadi, Tritunggal artinya tiga satu. Tiga satu apa? Atau apa yang tiga satu ? Memang sulit mengartikan kata ini di luar konteks kekristenan, sebab kata ini secara eksklusif hanya digunakan dalam dunia teologia Kristen, sehingga arti yang dikenakan kepadanya menjadi eksklusif pula.

Adapun pengertian Tritunggal (tiga satu) ini dalam konteks teologia Kristen adalah pengertian yang seimbang antara tiga dan satu. Penekanan terhadap tiga dan mengabaikan satu ataupun penekanan terhadap satu dan mengabaikan tiga, menjadikan kata ini kehilangan pengertiannya yang benar di dalam teologia Kristen. Pandangan para teolog Injili biasanya adalah pandangan dengan konsep seperti di jelaskan di atas. Seperti pandangan yang dikemukakan oleh Warfield bahwa ada satu Allah yang benar dan satu-satunya, tetapi di dalam keesaan dari keallahan ini ada tiga pribadi yang sama kekal dan sepadan, sama di dalam hakikat, tetapi berbeda di dalam pribadi (Charles C. Ryrie; Basic Theology; 1988: 53). Pandangan A.W.Tozer mengatakan bahwa di dalam Tritunggal ini tidak ada yang lebih dahulu atau lebih kemudian, tidak ada yang lebih besar atau lebih kecil, tetapi ketiga pribadi itu sama-sama kekal, bersama-sama, dan setara (A.W.Tozer: Mengenal Yang Maha Kudus; 1995: 35; lihat juga Peter Wongso: Doktrin Tentang Allah (Diktat); 1988: 31). Mungkin pandangan yang paling lengkap adalah pandangan atau pengertian yang disampaikan oleh Stephen Tong : “Doktrin Tritunggal termasuk doktrin monoteisme yang percaya kepada Allah Yang Maha Esa. Dan Allah Yang Maha Esa itu mempunyai tiga pribadi, bukan satu. Pribadi pertama adalah Allah Bapa, pribadi kedua adalah Allah Anak (Yesus Kristus) dan pribadi ketiga Roh Kudus. Tiga pribadi bukan berarti tiga Allah, dan satu Allah bukan berarti satu pribadi. Tiga pribadi itu mempunyai satu esensi atau sifat dasar (Yunani: Ousia; Inggris : substance) yang sama, yaitu Allah. Allah Bapa adalah Allah, Allah Anak adalah Allah dan Roh Kudus adalah Allah, namun ketiga-Nya mempunyai satu ousia, yaitu esensi Allah”. (Stephen Tong ; Allah Tritunggal; 1990 : 20-21).

Dari pengertian-pengertian ini dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa Konsep Allah Tritunggal adalah suatu konsep yang tidak mungkin
bisa dipahami sepenuhnya oleh manusia, apalagi dijelaskan. Kebesaran
Tuhan jauh melampaui pikiran kita dan karena itu kita tidak boleh
berharap bahwa kita akan bisa mengerti Tuhan sepenuhnya. Alkitab
mengajarkan bahwa Bapa adalah Allah, bahwa Yesus adalah Allah dan bahwa
Roh Kudus adalah Allah. Alkitab juga mengajarkan bahwa hanya ada satu
Tuhan. Dan pengertian akan Trinitas ini hanya diberikan kepada Allah kepada orang orang yang dipiLih-Nya untuk mengerti.

Pembuktian Doktrin Allah Tritunggal

1. Historis

Asumsi umum yang berlaku di kalangan umat Kristen Tauhid, Unitarian, saksi Yehuwa dan aliran-aliran sesat adalah bahwa konsep Allah Tritunggal adalah produk ciptaan dari konsili Nicea dan Khalsedon, dengan alasan bahwa setelah kematian para Rasul, bapak-bapak Gereja mula-mula tidak mengajarkan atau bahkan menyinggung tentang ketritunggalan. Pada bagian ini penulis akan membahas bukti-bukti sejarah bahwa pembahasan tentang Allah Tritunggal juga telah dibicarakan oleh para bapak-bapak Gereja pra-Nicea.

Gembala dari Hermas (tahun 115-140)

Sang Bapa menghasilkan Logos-Nya yang kreatif. Logos ini hadir di dalam Yesus Kristus yang historis. Roh Kudus, Pemberi Ilham dan Ide, telah hadir sebelum Kristus di antara para nabi dan setelah Kristus di dalam komunitas

Yustinus Martir (tahun 150)

Menyatakan bahwa Roh Allah yang melayang-layang di atas permukaan air (Kej 1:2) itu adalah Logos, serta Roh Kudus yang memperkandungkan Yesus (Matius 1:20) sesungguhnya adalah Logos juga yang menginkarnasikan diri-Nya sendiri (baca: J.N.D. Kelly, Early Christian Doctrine hlm 102 dst).

Novatian (Tahun 235 M)

Novatian mengatakan : Alkitab menjelaskan Kristus sebagai Allah sebanyak menjelaskan Allah sebagai manusia. Alkitab menjelaskan Yesus Kristus sebagai manusia terlebih lagi menjelaskan Kristus Tuhan sebagai Allah. Karena tidak dirancangkan untuk Dia sebagai Anak Allah saja, tetapi juga sebagai Anak Manusia, atau bukan saja dikatakan sebagai Anak Manusia tetapi Dia juga biasa berbicara sebagai Anak Allah. Jadi Dia adalah Anak Allah dan Anak Manusia. Dia dua-duanya. Menjadi tidak sempurna jika Dia hanya salah satu, Dia tidak dapat menjadi salah satu saja. Dan sebagaimana natur telah menentukan bahwa Dia harus dipercayai sebagai manusia yang berasal dari manusia, maka natur yang sama juga telah menentukan Dia sebagai Anak Allah yang adalah Allah…. karena itu, biarlah mereka yang membaca bahwa Yesus Kristus Anak Manusia itu adalah manusia juga membaca bahwa Yesus yang sama juga adalah Allah dan Anak Allah. (Treatise on the Trinity 11). Jelas bahwa Novatianus mempercayai rumusan Kristologi seperti yang dipercaya saat ini.

Ignatius dari Anthiokia (Tahun 250 M)

Ignatius dalam suratnya kepada jemaat Efesus mengatakan bahwa “Kita juga punya seorang tabib yaitu Tuhan Allah kita, Yesus Kristus, sang Firman dan Anak tunggal Allah sebelum waktu ada, yang kemudian menjadi manusia dari perawan Maria. (Letter to the Ephesians). Dalam suratnya kepada jemaat di Roma, ia menulis : “Bagi Allah kita Yesus Kristus, ada di dalam Bapa adalah penyataan yang lebih jelas. Pekerjaan ….” (Letter to the Romans).

Cyprian dari Carthage (Tahun 253 M)

Cyprian mengatakan : Siapa yang menyangkal Yesus sebagai Allah tidak dapat menjadi bait Roh Kudus”. (Letters 73:12)

Gregory the Wonder-worker (Tahun 262 M)

Gregory the Wonder-worker mengatakan : “Tetapi beberapa orang telah memperlakukan Roh Kudus secara tidak benar, ketika mereka dengan yakinnya menyatakan bahwa tidak ada 3 pribadi dan memperkenalkan (ide) satu pribadi tanpa subsistence. Alasan kita berbeda dari Sabellius yang percaya bahwa Bapa dan Yesus adalah pribadi yang sama…inilah keyakinan kita, karena kita percaya bahwa 3 pribadi yang disebut Bapa, Anak dan Roh Kudus menyatakan memiliki satu ketuhanan: karena satu keilahian ditunjukkan berdasarkan natur dalam Tritunggal yang menguatkan keesaan dari natur.
(A Sectional Confession of Faith 8). Ia melanjutkan : Tetapi jika mereka berkata, bagaimana mungkin ada 3 pribadi tetapi satu keilahian? Kita seharusnya menjawab: Bahwa memang ada 3 pribadi, karena ada Pribadi Allah Bapa dan Pribadi Anak dan Pribadi Roh Kudus; memang tiga tetapi satu keilahian, karena hanya ada satu substansi dalam Tritunggal. (A Sectional Confession of Faith, 14). Jelas ia percaya kepada doktrin Tritunggal.

Methodius (Tahun 305 M)

Methodius mengatakan : “Karena kerajaan Bapa, Anak dan Roh Kudus adalah satu, bahkan substansi mereka adalah satu dan kedaulatanNya satu. Yang mana, dengan pemujaan yang satu dan sama, kita menyembah satu Allah dalam 3 pribadi, sumber hidup tanpa awal, tidak diciptakan, tanpa akhir dan tak tergantikan. Karena Allah Bapa tidak akan pernah berhenti menjadi Bapa, maupun Anak berhenti menjadi Anak dan Raja, pun Roh Kudus berhenti menjadi sebagaimana adanya Ia. Karena Pribadi dalam Tritunggal tidak akan mengalami pengurangan dalam kekekalan, komunikasi dan dalam kedaulatan. (Oration on the Psalms 5).

Arnobius (Tahun 305 M)

Arnobius berkata : Memang ada beberapa orang yang gusar, marah dan dengan bersemangat berkata, Apakah Kristus Tuhanmu? Memang Dia Tuhan, dan Allah dari kuasa yang tersembunyi” menjadi jawaban kita. (Against the Pagans 1:42).

Lactantius (Tahun 307 M)

Lactantius jelas mempercayai rumusan Kristologi seperti yang dipercaya sekarang ini. Ia berkata : “Dia adalah Anak Allah dalam roh dan Anak manusia dalam daging. Jadi Dia Allah dan manusia. (Divine Institutes 4:13:5).

Ireneus bapak Gereja mula-mula juga menulis “Jadi inilah urutan ketetapan iman kita …. …. Alah Bapa, tidak dijadikan, tidak bersifat material, tidak kelihatan; satu Allah, penciptan segala sesuatu: ini adalah pokok pertama dari iman kita. Pokok kedua adalah ini: Firman Allah, Anak Allah, Kristus Yesus Tuhan kita, Dia yang dimanifestasikan kepada nabi-nabi seturut bentuk nubuat mereka dan sesuai dengan cara penyataan Bapa; melalui Dia (yaitu Firman itu) segala sesuatu telah diciptakan; Dia juga yang pada akhir jaman, menyempurnakan dan mengumpulkan segala sesuatu, dijadikan manusia di antara umat manusia, kelihatan dan dapat disentuh, supaya menghapuskan kematian dan melahirkan kehidupan dan menghasilkan pendamaian yang sempurna antara Allah dan manusia. Pokok ketiga adalah: Roh Kudus, melalui Dia nabi-nabi bernubuat, dan para leluhur belajar tentang segala sesuatu yang berasal dari Allah, dan orang benar dituntun ke jalan kebenaran; Dia yang pada akhir zaman dicurahkan dalam suatu cara yang baru ke atas umat manusia di seluruh bumi, yang membaharui manusia bagi Allah” (Irenaeus, Proof of the Apocaliptic Preaching psl 6 dikutip dari: J.N.D Kelly, Early Christian Doctrine).

Dari sini kita lihat bahwa sejak awal konsep Kristen berbicara tentang Bapa, Anak, dan Roh Kudus (Matius 28:19), walaupun belum ada terminologi Tritunggal yang dipakai, sampai kepada Tertulianus orang pertama yang memakai istilah ini, namun konsep yang nyata terlihat dari tulisan bapak-bapak Gereja pada waktu itu. (baca: J.N.D. Kelly, Early Christian Doctrine hlm 102 dst). dan juga walaupun walaupun pembicaran mereka masih merupakan suatu pembicaraan yang memiliki cacat dan sepertinya memperlihatkan hirarki antara ketiga pribadi tersebut (karena sampai pada permulaan abad ke-IV, Gereja masih berkutat dengan persoalan penganiayaan yang di lakukan oleh imperium Romawi pada saat itu, dan juga , dan juga tulisan-tulisan tersebut tidak menawarkan teologi sistematis, melainkan lebih pada upaya-upaya menjawab kecenderungan-kecenderungan yang ada dalam jemaat berdasarkan pada pemahaman Alkitab yang menyeluruh (inipun dialami oleh para penulis surat-surat am dalam PB bahkan umumnya surat-surat Paulus), tetapi tetap saja ini menunjukkan bahwa ajaran Tritunggal bukanlah hasil dari konsili Nicea tetapi pada kenyataannya diajarkan juga oleh bapak Gereja mula-mula.

2. Filosofis

Jika berbicara tentang persoalan filosofis maka, sebenarnya pembicaraan ini akan lebih mengarah kepada persoalan epistemologis yaitu suatu upaya mengkaji dan mencoba menemukan ciri-ciri umum dan hakikat pengetahuan manusia, darimana sumber pengetahuan, serta batasan-batasan pengetahuan manusia. Epistemologi juga bermaksud mengkritisi asumsi-asumsi dan syarat-syarat kelogisan yang mendasari dimungkinkannya pengetahuan. Juga mencoba memberi pertanggung-jawaban yang rasional terhadap klaim kebenaran.

Dalam hubungannya dengan pembahasan tentang Allah Tritunggal maka akan berbenturan dengan pembahasan mengenai persoalan mendasar dalam epistemologi yaitu apakah konsep Allah Tritunggal dapat diuji kebenarannya berdasarkan kepada Rasio dan empirisme, untuk membuktikan bahwa kepercayaan terhadap Allah tritunggal adalah benar?

a. Rasionalisme

Kaum Rasionalisme mengklaim bahwa kebenaran hanya dapat ada di dalam pikiran dan hanya dapat diperoleh dengan akal budi saja. Dan segala sesuatu yang tidak dapat diterima oleh akal manusia tidak dapat diterima oleh oleh manusia sebagai kebenaran. Sehingga ketika berbicara tentang Allah Tritunggal yang adalah satu sekaligus tiga, yang tiga sekaligus satu adalah suatu pembicaraan yang tidak dapat dicerna oleh akal manusia.

Rasio tak mampu memecahkan misteri ini. ”Bagaimana mungkin sesuatu itu tiga sekaligus satu atau satu sekaligus tiga?” Pemikir-pemikir Islam sering terjebak dalam kesulitan in akhirnya menuduh agama Kristen sebagai agama yang mempunyai konsep Allah (monoteisme) yang tak masuk akal (kontra rasional). Mereka sering memakai analogi matematika untuk maksud itu, yaitu 1+1+1 = 1 (Andar Tobing; 1972: 9-10). Memang inilah kesulitan filosofis dalam mempelajari doktrin Tritunggal.

b. Empirisme

Jika Rasionalisme menekankan kepada akal maka empirisme mengarahkan pemikiran-pemikiran tentang pengetahuan ke arah yang berbeda dari pemikiran orang-orang Eropa. Di Inggris pengetahuan bukan dilandaskan kepada akal melainkan kepada pengalaman. Orang-orang empiris menekankan bagian yang diperankan oleh pengalaman dalam pengetahuan. Manusia tidak mempunyai pemikiran sama sekali selain yang berasal dari pengalaman melalui indera karena bagi kaum empiris pengetahuan yang benar adalah pengetahuan yang telah diuji oleh indera. Dan tentang Allah tritunggal, tidak ada manusia yang telah mengalami atau bahkan di dalam dunia ini tidak ada analogi yang dapat menggambarkan tentang Allah Tritunggal, sehingga bagi kaum empirisme pembahasan tentang Allah Tritunggal adalah pembahasan yang absurd dan sia-sia. Floyd C. Woodworth, Jr dan David D. Duncan mengatakan bahwa : “Dalam pengalaman kita, tidak ada sesuatu yang sebanding dengan ketritunggalan dalam keesaan dan keesaan dalam ketritunggalan. Kita tahu bahwa tidak ada tiga orang yang secara struktur adalah satu. Tidak ada tiga orang yang masing-masing mempunyai pengetahuan yang lengkap tentang apa yang dibuat atau dipikirkan oleh yang lainnya. Setiap orang memagari dirinya sendiri dengan kebebasan pribadi. Tidak ada manusia yang memiliki kepribadian jamak seperti yang dinyatakan tentang Allah”. (Floyd C. Woodworth, Jr & David D. Duncan, Dasar-Dasar Kebenaran; 1989: 27).

Kenyataan ini mengakibatkan kesulitan dalam memahami Allah, sebab tidak ada sesuatu apapun yang dapat dipakai sebagai analogi untuk mendekati-Nya. Namun ini bukan berarti bahwa konsep tentang Allah Tritunggal bukanlah sebuah kebenaran. Yang perlu diingat adalah bahwa semua pengetahuan manusia tentang Tuhan adalah pengetahuan yang tidak sempurna, terbatas dan dangkal dan terlebih lagi karena pikiran, pengalaman dan seluruh kehidupan manusia telah dicemari oleh dosa sehingga manusia tidak mungkin dapat memahami tentang Allah yang tidak terbatas, sempurna dan ajaib. Pengetahuan manusia bermain di wilayah imajinatif bukan di wilayah adikodrati sehingga menghasilkan pemahaman yang keliru.

Sejarah memperlihatkan bahwa berbagai upaya yang dilakukan oleh manusia untuk mencari pengetahuan yang sejati tentang Allah dengan bertitik tolak pada rasio, pengalaman dan perasaan hanya menghasilkan suatu sistem pengetahuan yang relatif dan tidak objektif, bahkan menjadikan pengetahuan itu menjadi sesuatu hal yang tidak mungkin dicapai. Dan juga menghasilkan suatu pemahaman yang tidak jelas mengenai Allah.

Allah di dalam pencarian secara rasio dan pengalaman menjadikan Allah tidak dapat dikenal oleh manusia atau menjadi suatu substansi yang jauh (transenden) dari manusia dan tidak dapat dimengerti. Demikian juga dalam pencarian dengan menggunakan perasaan menjadikan Allah yang sangat dekat dengan manusia sehingga terkadang antara Allah dan alam menjadi suatu keberadaan yang tidak dapat dipisahkan.

Hal ini membuktikan bahwa pencarian akan Allah yang bertitik tolak dari manusia yang sebenarnya telah tercemar oleh dosa dan tidak memiliki kapasitas untuk menemukan pengetahuan itu lagi tanpa bantuan Allah, hanyalah akan menghasilkan pengetahuan tentang Allah yang tidak kompeherensif dan bahkan terkadang berujung pada ketersesatan dan penyimpangan pengetahuan mengenai Allah.

Oleh karena itu maka pencarian akan pengetahuan tentang Allah yang sejati semestinya bersumber dari penyataan diri Allah sendiri. Karya Allah di dalam alam semesta ciptaan-Nya, di dalam Alkitab dan di dalam diri Yesus Kristus sebagai Anak-Nya yang tunggal merupakan pewujudnyataan dari sifat dan hakikat serta manifestasi kuasa Allah sendiri, sehingga melaluinya manusia dimungkinkan untuk memperoleh pengetahuan mengenai diri Allah.

Dari sini dapat ditarik kesimpulan sementara bahwa Terdapat tiga fakta yang menyebabkan kebenaran Tritunggal sulit dimengerti atau dipahami (Stephen Tong; Allah Tritunggal; 1990: 13-18). Ketiga fakta ini antara lain :

a. Kebenaran Tritunggal ini adalah kebenaran yang bersifat dan berdasarkan wahyu Allah

Yang dimaksud dengan kebenaran yang bersifat dan berdasarkan wahyu Allah di sini adalah bahwa kebenaran Tritunggal bukanlah hasil spekulasi manusia, tetapi merupakan anugerah dari Allah yang tidak bisa kita mengerti, juga tidak bisa kita bantah (tolak), hanya bisa kita terima.

Dalam kerangka berpikir tentang wahyu (pernyataan dari Allah) ini, kita mengenal adanya wahyu bertingkat (Progressive Revelation) yaitu wahyu yang mengalami kemajuan dari yang sangat tidak jelas, menjadi tidak jelas, kemudian menjadi kurang jelas, dan akhirnya menjadi jelas bahkan sangat jelas. Wahyu progresif ini dibagi dalam dua jenis wahyu, yaitu wahyu Allah secara umum (General Revelation of God), dan wahyu Allah secara khusus (Special Revelation of God). Wahyu Allah secara umum dinyatakan melalui peristiwa penciptaan dunia ini, dan wahyu Allah secara khusus dinyatakan melalui pribadi kedua dari Allah Tritunggal (Yesus Kristus) pada saat inkarnasi-Nya. Dalam konteks ini, kebenaran Tritunggal adalah kebenaran yang bersifat atau berdasarkan wahyu Allah secara khusus (Special Revelation of God). Dengan demikian jika kebenaran yang bersifat wahyu ini tidak diterima dengan iman, maka ini pasti akan menimbulkan kesulitan di dalam memahami-Nya. Ds. S.C. Hofland menulis : “Jangan sekali-kali kita berspekulasi mengenai Allah. Jangan sekali-kali mengemukakan pertanyaan yang nadanya untuk mencari tahu, bagaimana gerangan keberadaan Allah itu sebenarnya, di balik pernyataan-Nya kepada manusia. Manusia hanya dapat berbicara mengenai Allah dalam keterkaitannya dengan Allah sendiri, yaitu dalam suatu hubungan yang bersifat sangat ‘relasional’. (Ds. A.C. Hofland; dkk: Allah Beserta Kita; 1991:23).

b. Kebenaran Tritunggal adalah kebenaran yang berasal dari Sang Pencipta

Berbicara tentang Tritunggal adalah berbicara tentang Allah sebagai Sang Pencipta. Manusia berusaha untuk memahami Allah Tritunggal. Siapakah manusia yang mau memahami-Nya? Manusia adalah makhluk (ciptaan), dan Tritunggal adalah Allah (pencipta). Jadi yang ingin mengetahui adalah ciptaan, dan yang ingin diketahui adalah pencipta. Pertanyaannya adalah, “Mungkinkah ciptaan memahami pencipta dengan sempurna?” Niftrik dan Boland mengatakan bahwa : “Apabila kita mau berbicara tentang soal “ketritunggalan” maka haruslah terlebih dahulu kita insafi, bahwa kita berbicara tentang Allah. Allah itu Allah yang hidup, bukan sesuatu pengertian atau persoalan yang dapat diselidiki dengan akal budi kita sampai menjadi “terang”. Bila kita mau memecahkan suatu persoalan, maka paham kita harus melebihi persoalan itu, sehingga dapat kita tangkap dan kuasai. Tetapi sebaliknya yang terjadi, bila kita bertemu dengan Allah yang hidup, yakni kita “ditangkap” dan “dikuasai” oleh Dia”. (Niftrik & Boland: Dogmatika Masa Kini; 1984: 547-548).

Selain itu pula, tak dapat dipungkiri bahwa ada perbedaan kualitatif atau perbedaan sifat dasar di antara pencipta dan yang dicipta (Stephen Tong: Allah Tritunggal; 1990:15). Perbedaan ini menghadirkan gap atau jurang pemisah antara Allah dan manusia. Dengan demikian ketika seseorang hendak mempelajari doktrin Tritunggal, berarti ia sedang berbicara tentang Ia (Allah) yang luput dari segala usaha manusia untuk memahami-Nya. Pencipta adalah kekal, dan yang dicipta adalah fana. Tak mungkin yang fana memahami yang kekal dengan sempurna. Pencipta adalah “Yang tak terbatas” dan yang dicipta (ciptaan) adalah “yang terbatas” maka secara natural tak mungkin “yang terbatas” dapat memahami “Yang tak terbatas” sampai tuntas. Yang mungkin adalah bahwa “yang terbatas” dapat memahami “Yang tak terbatas” dalam batas-batas tertentu sesuai dengan keterbatasannya. Semuanya ini akan mengakibatkan kesulitan dalam memahami Allah, dalam hal ini adalah kebenaran Tritunggal.

c. Kebenaran Tritunggal adalah kebenaran mengenai Allah yang satu-satunya, Allah Yang Maha Esa (The Only One God)

Kenyataan bahwa Allah adalah Ia yang satu-satunya, dan tak ada yang lain seperti Dia, membuat tak mungkin menemukan sesuatu yang dapat menggambarkan tentang diri-Nya secara sempurna. Stephen Tong mengatakan : “Biasanya kita mengerti sesuatu karena sesuatu itu mempunyai persamaan dengan sesuatu yang lain, sehingga melalui persamaan itu kita menemukan analoginya. Karena ada persamaan, kita mempunyai jembatan analogis untuk pengertian kita, sehingga dari sesuatu yang sudah dimengerti kita loncat ke sesuatu yang belum kita mengerti, akhirnya kita mengerti semuanya. Tetapi di dalam kita mengerti Allah, tidak ada pembanding-Nya, tidak ada persamaan-Nya, sehingga tidak bisa dimengerti dengan rasio sepenuhnya”. (Stephen Tong: Allah Tritunggal; 1990: 16). Jikalau terpaksa ada sesuatu yang dipakai untuk menggambarkan diri-Nya, maka biasanya digunakan kata “seperti” untuk hal itu (A.W. Tozer: Mengenal Yang Maha Kudus; 1995: 15). Yang ”seperti” tentu bukanlah yang “disepertikan”. Jadi apa pun analogi yang digunakan untuk menjelaskan diri Allah, tentunya tak dapat menjelaskan realitas yang sebenarnya. Apabila mencoba membayangkan Allah itu seperti apa, maka harus menggunakan sesuatu yang bukan Allah sebagai bahan untuk diolah oleh pikiran; bagaimanapun membayangkan Allah, sebenarnya Allah itu tidak demikian. Hal inilah yang menyebabkan doktrin Tritunggal menjadi doktrin yang sulit dipahami.

Dan juga untuk menjawab kesulitan empiris di dalam mempelajari doktrin Tritunggal adalah tidak adanya sesuatu (apa pun maupun siapapun) di dalam alam ini yang dapat dipakai sebagai gambaran yang sempurna terhadap konsep yang sempurna dari Allah Tritunggal. Hal ini disebabkan karena segala sesuatu yang ada di dunia (apa pun atau siapapun) ini bersifat alamiah (natural), sedangkan Allah Tritunggal bersifat supra alamiah (supra natural).Tentu hal ini masuk akal bahwa yang natural tak dapat menggambarkan Yang supra natural dengan sempurna seperti apa yang dikatakan Boettner : “Tidak perlu heran bahwa di dalam keallahan kita menemukan bentuk kepribadian yang unik dan berbeda dengan yang ditemukan di dalam manusia. Di dalam tingkat yang berkembang di dalam dunia, kita berpindah dari yang sederhana ke yang kompleks. Tanaman hidup tetapi tidak memiliki kesadaran. Binatang memiliki perasaan. Manusia jauh lebih tinggi dari binatang dengan memiliki akal budi, kesadaran moral dan jiwa kekal. Tingkatan yang tinggi di dalam manusia tidak dimengerti sama sekali oleh binatang, burung, dll. Maka tidak perlu heran apabila kita tidak bisa mengerti Allah Tritunggal”. (Boettner 1960: 108). Dengan demikian, maka tak dapat dielakkan lagi kesulitan-kesulitan empiris di dalam usaha memahami dengan sempurna kenyataan Allah Tritunggal tidak menjadikan doktrin Tritunggal sebagi Sesuatu yang tidak benar.

3. Teologis

Untuk membahas mengenai Allah Tritunggal dari sudut teologis, maka penulis akan memaparkan ayat-ayat yang berhubungan dengan Allah Tritunggal secara kompeherensif dari Perjanjian Lama dan juga Perjanjian Baru, untuk menunjukkan bahwa Alkitab memang mengajarkan tentang Allah Tritunggal, dan Tritunggal bukan hasil dari rekonstruksi pemikiran manusia.

Karena kebenaran Tritunggal adalah wahyu Allah, dan wahyu Allah itu bersifat progresif, maka haruslah disadari bahwa Perjanjian Lama tidak memberikan bukti-bukti secara eksplisit tentang ketritunggalan Allah, melainkan hanya memberikan indikasi-indikasi ke arah kenyataan ini. Berkhof berkata : “Alkitab tak pernah berhubungan dengan doktrin Tritunggal sebagai suatu kebenaran yang abstrak, akan tetapi Alkitab mengungkapkan kehidupan Tritunggal dalam berbagai hubungan sebagai suatu kenyataan yang hidup....” (Louis Berkhof, 1993: 148). Oleh sebab itu maka konsep yang akan dipaparkan di dalamnya tentu hanya bersifat indikatif saja. Namun itu bukan berarti bahwa Perjanjian Lama tidak berbicara tentang Allah Tritunggal.

  1. Hanya ada satu Tuhan: Ulangan 6:4, 1 Korintus 8:4, Galatia 3:20, 1 Timotius 2:5.
  2. Allah Tritunggal terdiri dari 3 Pribadi: Kejadian 1:1, Kejadian 1:26, Kejadian 3:22, Kejadian 11:7; Yesaya 6:8, Yesaya 48:16, Yesaya 61:1; Matius 3:16-17, Matius 28:19; 2 Korintus 13:14.
    Dalam mempelajari perikop2 perjanjian Lama, kita perlu mengerti sedikit
    mengenai bahasa Ibrani. Kejadian 1:1 menggunakan kata benda jamak
    "Elohim". Kejadian 1:26, Kejadian 3:22, Kejadian 11:7 dan Yesaya 6:8
    menggunakan kata ganti jamak "kita". Bahwa "Elohim" dan "kita" menunjuk pada lebih dari dua orang adalah hal yang tidak bisa diragukan. Bahasa Indonesia hanya mengenal dua bentuk: tunggal dan jamak. Tetapi bahasa Ibrani mengenal 3 bentuk: tunggal, bentuk jamak untuk 2 dan bentuk jamak untuk lebih dari 2. Bentuk jamak untuk 2 benar-benar HANYA digunakan untuk menunjuk kepada 2 hal. Dalam bahasa Ibrani bentuk ini dipakai contohnya untuk sepasang mata, sepasang telinga dan tangan.
    Kata "Elohim" dan kita adalah bentuk jamak untuk lebih dari 2, jadi
    yang dimaksud pastilah sedikitnya 3 atau lebih (Bapa, Anak, Roh Kudus).
    Di Yesaya 48:16 dan Yesaya 61:1, Anak berbicara dengan menyebut Bapa dan Roh Kudus. Bandingkan dengan Yesaya 61:1 dengan Lukas 4:14-19 untuk melihat bahwa Allah Anak-lah yang sedang berbicara. Matius 3:16-17 menceritakan pembabtisan Yesus. Di sini kita melihat bagaimana Allah
    Roh Kudus turun ke atas Allah Anak sementara Allah Bapa menyatakan
    sukacitaNya bagi sang Anak. Contoh-contoh lain dari 3 pribadi yang
    berbeda dalam Allah Tritunggal dapat dilihat di Matius 28:19 dan 2 Korintus 13:14.
  3. Alkitab membedakan oknum-oknum dari Allah Tritunggal. Di PL kata "TUHAN" berbeda dengan "Tuhan" (Kejadian 19:24). "TUHAN" memiliki "Anak" (Mazmur 2:7, 12; Amsal 30:2-4). Alkitab juga membedakan antara Roh dan "TUHAN" (Bilangan 27:18) dan "Tuhan" (Mazmur 51:10-12). Allah Anak tidak sama dengan Allah Bapa (Mazmur 45:6-7, Ibrani 1:8-9). Di Yohanes 14:16-17
    Yesus berbicara kepada Bapa untuk mengirim seorang Penolong, yaitu Roh Kudus. Ini menunjukkan bahwa Yesus tidak melihat diriNya sebagai Bapa atau Roh Kudus. Renungkan juga banyak kesempatan di mana kitab-kitab Injil mencatat bahwa Yesus berbicara kepada Bapa. Apakah Ia berbicara kepada diriNya sendiri? Tidak, Ia berbicara kepada oknum yang lain dari Allah Tritunggal, yaitu Allah Bapa.
  4. Setiap oknum dari Allah Tritunggal adalah Allah:
    • Bapa adalah Allah: Yohanes 6:27, Roma 1:7, 1 Petrus 1:2
    • Anak adalah Allah: Yohanes 1:1, 14; Roma 9:5, Kolose 2:9, Ibrani 1:8, 1 Yohanes 5:20.
    • Roh Kudus adalah Allah: Kisah 5:3-4, 1 Korintus 3:16 (Roh Kudus berdiam di dalam manusia—Roma 8:9, Yohanes 14:16-17, Kisah 2:1-4).
  5. Urutan
    pangkat dalam Tritunggal: ayat-ayat Alkitab menunjukkan bahwa Roh Kudus
    di bawah (subordinate/subservient) Bapa dan Anak, dan Anak di bawah
    Bapa. Adanya urutan pangkat ini tidak menyangkal keilahian dari setiap
    oknum Allah Tritunggal. Ini adalah salah satu contoh dari hal-hal yang
    tidak bisa dipahami oleh keterbatasan pikiran manusia. Lihat Lukas 22:42, Yohanes 5:36, Yohanes 20:21; 1 Yohanes 4:15 tentang Anak. Tentang Roh Kudus, lihat Yohanes 14:16, Yohanes 14:26, Yohanes 15:26, Yohanes 16:7 dan terutama Yohanes 16:13-14.
  6. Tugas dari oknum-oknum Allah Tritunggal secara individu:
    • Bapa adalah sumber atau pencipta dari
    • Alam semesta (1 Korintus 8:6, Wahyu 4:11)
    • Pernyataan ilahi (Wahyu 1:1)
    • Penebusan (Yohanes 3:16-17)
    • Perbuatan-perbuatan Yesus (Yohanes 5:17, Yohanes 14:10)
    Bapa memulai hal-hal di atas.
    • Melalui Anak, Bapa untuk melakukan hal-hal berikut:
    • Penciptaan dan pemeliharaan alam semesta (1 Korintus 8:6, Yohanes 1:3, Kolose 1:16-17)
    • Pernyataan ilahi (Yohanes 1:1, Matius 11:27, Yohanes 16:12-15, Wahyu 1:1)
    • Penebusan (2 Korintus 5:19, Matius 1:21, Yohanes 4:42)
    Bapa melakukan hal-hal di atas melalui Anak yang bertindak sebagai wakil dari Bapa.
    • Melalui Roh Kudus, Bapa melakukan hal-hal berikut:
    • Penciptaan dan pemeliharaan alam semesta (Kejadian 1:2, Ayub 26:13, Mazmur 104:30)
    • Pernyataan ilahi (Yohanes 16:12-15, Efesus 3:5, 2 Petrus 1:21)
    • Penebusan (Yohanes 3:6, Titus 3:5, 1 Petrus 1:2)
    • Perbuatan-perbuatan Yesus (Yesaya 61:1, Kisah 10:38).
    Bapa melakukan hal-hal di atas melalui kuasa Roh Kudus

Kesimpulan akhir dari pembahasan penulis yang singkat dan tidak sempurna ini (karena penulis sadar betul bahwa penulis hanyalah manusia yang terbatas, berdosa dan tidak sempurna ketika berbicara tentang Allah) bahwa Kebenaran Tritunggal bersifat wahyu, dan wahyu berasal dari Allah. Jadi dengan kata lain, pengertian tentang Allah Tritunggal bergantung pada Seberapa besar dan banyak yang Allah nyatakan tentang diri-Nya di dalam Yesus Kristus yang adalah Allah dan manusia sejati dan di dalam Alkitab. Fakta Tritunggal merupakan “The mystery of God”. Karena itu tidak bisa menemukan jawaban lain selain Allah itu memang Tritunggal.

Dan yang harus dengan jujur diakui bahwa ada suatu kesulitan yang besar dari konsep tentang Allah Tritunggal, (tapi ini bukan berarti konsep ini adalah konsep yang irasional, melainkan ini adalah konsep yang suprarasional) karena tidak ada cara untuk menjelaskan doktrin ini secara memadai. hal ini disebabkan karena Konsep Allah Tritunggal adalah suatu konsep yang tidak mungkin bisa dipahami sepenuhnya oleh manusia, apalagi dijelaskan, karena Kebesaran Tuhan jauh melampaui pikiran kita dan karena itu kita tidak boleh berharap bahwa kita akan bisa mengerti Tuhan sepenuhnya, tetapilah kiranya melalui iman yang Tuhan anugerahkan kepada kita, kita dapat menerima kebenaran ini sebagai sebuah kebenaran yang sejati. Soli Deo Gloria