Selasa, 09 April 2013

Doktrin Predestinasi (Kepastian Akan Keselamatan)



PREDESTINASI

 KEPASTIAN AKAN KESELAMATAN
PENDAHULUAN
Iman Kristen mengakui bahwa dunia dan segala isinya diciptakan oleh Allah.  Pengakuan ini memberikan sebuah pemahaman yang signifikan bahwa dasar dari semua kehidupan etis dan religius adalah dari Allah, bahkan dapat dikatakan bahwa proposisi utama yang terkandung dari pengakuan ini adalah bahwa  segala sesuatu yang terjadi di dalam dunia semuanya ada dalam kendali dan ketetapan  Allah.
Louis Berkhof dengan jelas menyatakan
Teologi Reformed menekankan kedaulatan Allah dalam arti bahwa Ia telah dengan penuh kedaulatan sejak dari kekekalan menetapkan apa saja yang akan terjadi dan melakukan karya kedaulatanNya dalam kehendakNya atas semua ciptaan, baik yang alamiah maupun yang rohani, sesuai dengan rencana yang telah Ia tetapkan sejak semula. Hal ini sangat sesuai dengan apa yang diungkapkan oleh Paulus ketika Ia berkata bahwa Allah “di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya” (Efesus 1:11)[1].
Allah berdaulat mutlak atas segala karya ciptaan-Nya, dalam hal ini, “Allah  berkenan memperlakukan alam semesta-Nya ini sesuai dengan kehendak-Nya yang kudus”[2], dan tidak ada satu hal pun di luar diriNya yang dapat mempengaruhi kedaulatanNya. Dalam hal ini kedaulatan Allah adalah menyangkut segala sesuatu termasuk juga  hal-hal yang sepele atau remeh pun, misalnya mengenai burung-burung di udara dan rambut manusiapun semuanya berada dalam ketetapan  Tuhan (Matius 10:29-30), seperti yang diutarakan oleh Calvin “Tetapi setiap orang yang telah diajar oleh bibir Kristus bahwa semua rambut kepalanya terhitung (Mat 10:30) akan melihat lebih jauh untuk suatu penyebab, dan akan menganggap bahwa semua kejadian diatur oleh rencana rahasia Allah[3].
B.B Warfield mengomentari hal ini dengan sangat jelas
"Throughout the Old Testament, behind the processes of nature, the march of history and the fortunes of each individual life alike, there is steadily kept in view the governing hand of God working out His preconceived plan - a plan broad enough to embrace the whole universe of things, minute enough to concern itself with the smallest details, and actualizing itself with inevitable certainty in every event that comes to pass"[4]
Termasuk juga bahwa Allah berdaulat mutlak dalam karya penyelamatan-Nya bagi manusia, tentang bagaimana cara Allah menyelamatkan manusia dan segala hal menyangkut keselamatan manusia. Meminjam pernyataan Charles Hodge “As God works on a definite plan in the external world, it is fair to infer that the same is true in reference to the moral and spiritual world”[5]  Lebih jauh Calvin dalam Institutio menuliskan “Sudahlah jelas bahwa karena kehendak Allahlah kepada sebagian orang keselamatan dianugerahkan dengan cuma-cuma, sedangkan sebagian orang dicegah untuk memperolehnya”[6].
Konsep keselamatan manusia  didasarkan kepada pemahaman akan kedaulatan dan kehendak Allah dalam kekekalan, di mana Allah di dalam kekekalan telah menetapkan sejumlah orang sebelum dunia dijadikan untuk diselamatkan, Pengakuan Iman Westminster bagian III, ayat 3 berbunyi “untuk menyatakan kemuliaan-Nya, Allah melalui dekrit-Nya, mempredestinasikan sejumlah manusia dan malaikat untuk kehidupan kekal; dan lainnya ditetapkan sebelumnya untuk kebinasaan kekal”[7]
Namun, pemahaman akan keselamatan, berdasarkan kepada kedaulatan dan ketetapan Allah  ini tidak begitu saja dapat diterima oleh para teolog dan orang-orang Kristen, justru pemahaman ini melahirkan masalah-masalah yang besar dan sekelumit pertanyaan. Bagaimanakah hubungan kedaulatan Allah dan kehendak bebas manusia,  mengapa Allah hanya menyelamatkan sebagian dan tidak menyelamatkan semua manusia? Bagaimana hubungan ketetapan Allah dan kehendak bebas manusia dan masih banyak lagi pertayaan yang muncul,  R.C Sproul mengatakan bahwa “tidak banyak doktrin yang mengundang begitu banyak perdebatan seperti halnya doktrin predestinasi, Predestinasi merupakan doktrin yang sulit, yang menuntut penanganan yang sangat hati-hati dan teliti[8]
Sejarah Gereja memperlihatkan bahwa banyak dari bapak-bapak Gereja tidak sependapat bahkan bertentangan mengenai hal ini, di mulai dengan abad mula-mula pertentangan antara Augustinus dan Pelagius, dan pertentangan ini dikembangkan pada abad enam belas oleh para Reformator, melalui Marthen Luther dan Erasmus, serta oleh Calvin dan Arminius. Menurut kaum yang menolak pemilihan Allah (predestinasi), pandangan akan predestinasi tidak dapat diterima, karena pandangan ini menjijikan bagi natur Allah yang berhikmat, adil, dan baik[9], dan bagi natur manusia yang bebas[10]. Ringkasnya perdebatan mengenai predestinasi di mulai oleh Agustinus dan Pelagius, diperluas oleh Luther dan Erasmus dan diteguhkan oleh Calvin dan Arminius[11]
Diawal abad ke-20 atau jaman modern persoalan predestinasi memuncak  kepada penekanan akan kemampuan manusia untuk dapat bertindak dan memutuskan segala sesuatu berdasarkan kepada kehendak bebas dan kemampuan yang dimilikinya, sehingga bagi kaum anti-predestinasi,  pemahaman dan kepercayan akan pemilihan Allah di dalam kekekalan bagi keselamatan manusia  merupakan sebuah pembunuhan terhadap kreativitas dan kemampuan manusia, sehingga dalam lingkup teologi liberal dewasa ini, doktrin ini ditolak dan diubah semena-mena[12].
Lebih jauh lagi, para teolog liberal melihat bahwa doktrin pemilihan Allah ini, memiliki ketidak sesuaian dengan pemahaman rasionalitas manusia, bahkan menurut kaum anti-predestinasi ajaran mengenai predestinasi adalah ajaran yang naïf[13], bagi kaum ini, adalah lebih masuk akal apabila konsep pemilihan ini lebih merujuk kepada kedaulatan Allah yang menentukan jalan keselamatan yang harus dimulai oleh manusia dan bukan manusia yang menentukan jalannya sendiri, dan di dalam Yesuslah, Allah menetapkan Dia menjadi jalan keselamatan[14]. Implikasi logis dari pernyataan ini adalah bahwa Allah hanya menyediakan jalan keselamatan bagi manusia yaitu dengan memilih Yesus[15], dan manusia bebas untuk memilih untuk mengikuti jalan tersebut atau tidak. Yesus menjadi subyek dan sekaligus objek[16]. Mengutip pernyataan  teolog besar, Karl Barth,. menurut Barth, Allah tidak pernah memilih siapapun, juga tidak pernah menolak siapapun[17]. Allah hanya pernah menolak dan memilih Yesus. Sehubungan dengan itu, Barth memberikan sebuah pernyataan yang menarik: “Jesus is the rejected God and the rejecting God. Jesus is the elected God and the electing God”[18].
Doktrin predestinasi ini akhirnya menghasilkan kontroversi yang berkepanjangan bahkan membawa manusia ke dalam krisis dan terlebih lagi mempengaruhi sudut pandang iman Kristen terhadap beberapa doktrin yang lain, bahkan lebih nyata lagi mempengaruhi pola hidup (orthopraxis) dari orang percaya[19], seperti yang diutarakan oleh Milard J Erickson “dari semua pokok doctrinal iman Kristen, pastilah yang termasuk paling memusingkan dan paling tidak dimengerti adalah doktrin predestinasi ini, bagi banyak orang doktrin ini dipandang sebagai tidak jelas dan bahkan sangat aneh, mungkin sekali lebih banyak lelucon telah dibuat tentang doktrin ini daripada semua doktrin lainnya”[20], sekalipun demikian, karena Alkitab mengajarkannya maka mau tidak mau harus diteliti secara kompeherensif artinya.





APA ITU PREDESTINASI
  1. Pengertian Secara Umum
Dalam menggumuli persoalan predestinasi, alangkah baiknya jika di mulai dari suatu pengertian yang benar mengenai apa itu predestinasi. Secara etimologis, predestinasi berasal dari dua kata bahasa inggris yaitu pre yang artinya sebelum (menunjuk kepada waktu) dan destination yang artinya tujuan, jadi predestinasi berarti penentuan sebelumnya mengenai tujuan akhir manusia. Lebih jelas, Webster’s New Collegiate Dictionary yang di kutip oleh Sproul memberikan defenisi[21]
Predestinate: destined, fated, or determined beforehand; to foreordain to an earthly or eternal lot or destiny by divine decree.Predestination: the doctrine that God in consequence of His foreknowledge of all events infallibly guides those who are destined for salvation. Predestine: to destine, decree, determine, appoint, or settle beforehand. Predestination : act of determining in advance; doctrine that God has fore ordained the fate of person (especially pertaining to salvation or damnation); fate, lot, destiny[22]

Sedangkan Wikipedia memberikan pengertian
Predestination is a religious concept, which involves the relationship between God and God's creation. The religious character of predestination distinguishes it from other ideas about determinism and free will. Those who believe in predestination, such as John Calvin, believe that, before the Creation, God determined the fate of the universe throughout all of time and space.
Arti mendasar dari predestinasi adalah berkaitan dengan tujuan akhir hidup manusia yaitu surga dan neraka[23], ke mana manusia setelah mati, dan tujuan itu telah ditentukan oleh Allah di dalam kekekalan, berdasarkan kepada kasih karuniaNya semata, tanpa mempertimbangkan jasa manusia.
Jadi dapat ditarik sebuah kesimpulan sederhana dari pengertian-pengertian diatas bahwa predestinasi berhubungan dengan keputusan Allah di dalam kekekalan berdasarkan kepada kedaulatan mutlaknya yang mahabijak dan mahakudus tanpa mengesampingkan kehendak bebas manusia mengenai sebagian orang yang dipilih untuk diselamatkan dan sebagian lagi dipilih atau juga dibiarkan untuk mengalami kebinasaan.
  1. Pengertian Predestinasi dalam Alkitab
Doktrin predestinasi, bukanlah doktrin yang berdiri sendiri, melainkan doktrin ini didasarkan kepada pemahaman terhadap Alkitab secara menyeluruh dan sangat jelas. Alkitab mengajarkan bahwa ketika manusia pertama jatuh ke dalam dosa, manusia mengalami yang namanya kerusakan total (Rm. 5:12-21) bahwa yang ada dalam pikiran dan hati manusia hanyalah untuk berbuat dosa (Roma 3: 9-20; Ef. 2:1-3; 2Kor. 4:3-4).
Kerusakan total (total depravity) yang manusia alami menyebabkan manusia tidak bisa mencari Allah, atau sekedar berespon terhadap anugerah Allah, sehingga manusia tidak mungkin dapat memperoleh keselamatan bahkan secara naturnya manusia justru harus dihukum. Oleh karena itu maka Allahlah yang berinisiatif untuk menyelamatkan manusia dengan mengutus anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia untuk menyelamatkan manusia, dan Allah pulalah yang menggerakan (sebagian) hati manusia untuk meresponi anugerah Allah ini. “Dari dan dalam dirinya sendiri, manusia natural memiliki kuasa untuk menolak Kristus; namun dari dan dalam dirinya sendiri, dia tidak memiliki kuasa untuk menerima Kristus[24]
Dan Allah telah memilih dalam kedaulatan-Nya yang bebas sebagian umat manusia di dalam kekekalan untuk berespon terhadap anugerah Allah itu, sehingga manusia dapat memperoleh keselamatan. Hal itu nyata dari kisah pemilihan Allah atas bangsa Israel sebagai suatu umat (Ul.7:6-8; Yes.41:9, 65:9,15, 22). Istilah Ibrani yang dipakai adalah  יֻצָּ֑רוּ (Yatsar) Mazmur 139:16; Yesaya 22:11; 37:26; 46:11, istilah ini mengandung ide tentang rencana Allah dan penetapan sebelumnya. עֵצָ֥ה (‘etsah) Ayub 38:2; 42:3, Maz.33:11, 106:13, 107:11, Ams 19:21, yes. 5:19, 14:26, 19:17, dan masih ada beberapa istilah di dalam Perjanjian Lama yang  merujuk kepada ketetapan Allah yang berkaitan dengan keselamatan dan persekutuan dengan Allah[25].
Dari ayat-ayat diatas nampaklah bahwa adanya suatu kenyataan bahwa Allah telah memilih satu jumlah tertentu dari umat manusia untuk mengalami hubungan yang khusus denganNya, dan pemilihan ini, adalah pemilihan yang unconditional berdasarkan kepada anugerah Allah semata. Millard J. Erikson untuk bagian ini menyimpulkan bahwa “dalam pandangan Perjanjian Lama Allah telah menciptakan dunia ini, Dia sedang mengarahkan sejarah, dan semua yang terjadi ini hanya merupakan peragaan suatu rencana yang telah dipersiapkan sejak kekekalan serta yang berkait dengan maksudNya untuk bersekutu dengan umat-Nya”[26]
  Di dalam Perjanjian Baru, doktrin predestinasi ini semakin menjadi jelas melalu pengajaran Tuhan Yesus sendiri, dan para rasul. Ayat-ayat di dalam Alkitab Yohanes 6:44 “tidak ada seorang pun yang dapat datang kepadaku jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa” (lih. juga ay. 37, 65; 15:16). Kisah Para Rasul 13:48 “semua yang ditentukan Allah untuk hidup yang kekal menjadi percaya”. Roma 8:29-20 “sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula”. Efesus 1:4 “Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan”.
Kata “ditentukan/dipredestinasikan” dalam ayat-ayat di atas berasal dari kata Bahasa Yunani “proorizo”[27] yang memiliki pengertian “ditentukan sebelumnya,” “ditetapkan,” “diputuskan sebelumnya.” Jadi predestinasi adalah Tuhan menentukan terjadinya hal-hal tertentu sebelum hal-hal itu terjadi. Apa yang Tuhan tentukan sebelumnya? Menurut Roma 8:29-30 Tuhan menentukan orang-orang tertentu untuk menjadi sama dengan AnakNya, dipanggil, dibenarkan dan dimuliakan. Pada hakekatnya, Tuhan menentukan orang-orang tertentu untuk diselamatkan. Berbagai ayat Alkitab menyebut orang-orang yang percaya pada Kristus sebagai orang-orang pilihan (Matius 24:22, 31; Markus 13:20, 27; Roma 8:33; 9:11; 11:5-7, 28; Efesus 1:11; Kolose 3:12; 1 Tesalonika 1:4; 1 Timotius 5:21; 2 Timotius 2:10; Titus 1:1; 1 Petrus 1:1-2; 2:9; 2 Petrus 1:10).
Satu kata yang juga dipakai di dalam Perjanjian Baru untuk kata “memilih” adalah kata Eklego yang berarti memanggil keluar dari antara orang banyak, kata ini juga seringkali dipakai dalam bentuk middle voice yang berarti Allah memilih untuk diriNya sendiri[28], dalam suatu pengertian yang mendalam bahwa Allah berdaulat dalam memberikan karunia-karunia-Nya.  
Dan tidak hanya orang-orang yang dipilih untuk diselamatkan, tetapi juga Alkitab mengajarkan bahwa ada sebagian orang yang menurut perkenan-Nya, sengaja di lewatkan dan menentukan mereka untuk dibinasakan karena dosa mereka, bukan karena Allah tidak mampu menyelamatkan  (Ams. 16:4, Mat. 11:20-26;  Roma 9:17-18, 21-22; 2 Tim. 2: 19-20; Yud. 1:4 ; I Pet. 2:8)
Jadi berdasarkan kepada pembahasan diatas, dapat disimpulkan bahwa predestinasi (penetapan akan keselamatan manusia) yang diajarakan oleh Alkitab, maupun yang secara umum mengajarkan bahwa Allah dalam kedaulatanNya memilih orang-orang tertentu untuk diselamatkan, hanya berdasarkan kepada kasih karunia Allah semata dan bukan karena perbuatan baik dari orang tersebut dan yang lainnya dipilih untuk dibinasakan (Efesus 2:10).  Calvin dengan gigih berpendapat bahwa “Allah memiliki kedaulatan mutlak sehingga Dia dengan bebas memilih orang tertentu untuk diselamatkan serta menolak yang lain. Allah adil semata-mata dan sama sekali tak bersalah dalam hal ini”[29] sejalan dengan pernyataan Calvin ini, J Van Genderen and W. H Velema menyatakan “ Our election in Christ implies that it is pure grace and that faith in Christ is the way to come to the certainty that we have been chosen by God”[30]
Memang, frasa “pemilihan di dalam kekekalan” sendiri, masih menimbulkan suatu persoalan yang cukup pelik di dalam pembahasan mengenai predestinasi, bahkan di dalam golongan Reformed sendiri, persoalan ini mendapat tempat yang khusus ditandai dengan munculnya dua pandangan yaitu Supralapsarian dan infralapsarian.
Supralapsarianisme. Supra berarti sebelum, sedangkan lapsus berarti kejatuhan. Dengan demikian, supralapsarianisme berarti pandangan yang yakin bahwa keputusan pemilihan yang ditempatkan sebelum keputusan kejatuhan manusia dalam dosa. Seperti yang dijelaskan oleh Herman Bavink bahwa, “In general, supralapsarianism places the decree of predestination proper above (supra) the decree to permit the fall (lapsus).[31]
Sedangkan Infralapsarianisme. Infra berarti setelah, sedangkan lapsus berarti kejatuhan. Dengan demikian, infralapsarianisme berarti pandangan yang yakin bahwa pemilihan dilakukan setelah keputusan kejatuhan dalam dosa. Seperti yang dikemukakan oleh Herman Bavink bahwa, “infralapsarianism places the decree of predestination proper below (infra) the decree to permit the fall (lapsus)”.[32]  
Manakah diantara kedua pandangan ini yang benar? Menurut Berkhof, Supralapsarian mengacu kepada semua ayat Alkitab yang menekankan kedaulatan Allah. Susunan dari ketetapan Allah dalam pandangan Supralapsarian dianggap sebagai suatu susunan yang lebih ideal, yang lebih masuk akal dan seragam, sehingga Supralapsarian dapat memberikan jawaban yang pasti mengenai pertanyaan mengapa Allah menetapkan untuk menciptakan dunia dan memperkenankan kejatuhan[33].
Infralapsarian lebih memilih bagian Alkitab, di mana obyek pemilihan tampil sebagai kondisi dari dosa. Susunan ini lebih bersifat historis ketimbang supralapsarian yang bersifat rasional, yang tampaknya akan mencerminkan susunan dalam pertimbangan kekal Allah, namun tampaknya  pandangan infralapsarian tidak memberi jalan keluar terhadap problem dosa[34].
Dalam hubungan dengan kapan waktu pemilihan itu, penulis lebih menyetujui pandangan Supralapsarian, bahwa pemilihan itu terjadi sebelum kejatuhan manusia ke dalam dosa, karena kejatuhan dan dosa bukanlah suatu peristiwa di luar ketetapan Allah yang membuat Allah panik dan mengubah rencana ketetapan Allah, karena pada kenyataannya supra maupun infralapsarian menyetujui kesatuan ketetapan Allah, bahwa Allah memiliki satu tujuan akhir dalam pandanganNya, bahwa Ia (Allah) menghendaki dosa dalam pengertian tertentu[35].
Lalu, jika pemilihan adalah sebelum kejatuhan, maka itu memberikan sebuah peluang dan kemungkinan bahwa dosa menjadi sesuatu yang pasti, dan apakah ini tidak menjadikan Allah sebagai pembuat dosa? Ini menjadi sebuah pertanyaan yang serius untuk dipikirkan, namun ini tidak akan dibahas pada bagian ini, tetapi akan dibahas di pembahasan selanjutnya dalam kaitan predestinasi ganda. 

Infralapsarian
Supralapsarian
1.       
To Create
To elect some creatable men to life dan to condemn other to destruction
2.       
To permit the fall
To Create

3.       

To elect to eternal Life and
blessedness a great multitude out of this  mass of fallen men dan to leave the others
To permit the fall
4.       

To give His son Jesus Christ, for
the redemption of the elect
To send Christ to redeem the elect
5.       

To send holy spirit to aplly to the
elect the redemption which was purchased by Christ
To send holy spirit to aplly to the elect the redemption which was purchased by Christ
  (Tabel ini didasarkan pada penjelasan Loraine Boettner dalam Reformed Doctrine hlm 126-127)
  1. Landasan Filosofis Mengenai Predestinasi
Sekalipun doktrin predestinasi adalah doktrin yang sulit, membingungkan dan menimbulkan banyak pertanyaan, namun itu bukan berarti bahwa doktrin predestinasi bukanlah sebuah doktrin yang irasional. Doktrin predestinasi seperti yang dijelaskan diatas didasarkan kepada elaborasi terhadap kitab suci secara keseluruhan, sehingga pengakuan terhadap konsep inneransi dan infallibility Alkitab menjadi dasar filosofis yang utama, bahwa Allah adalah Auctus Primarus (Penulis utama) dari Alkitab.
Karena Allah adalah kebenaran maka apa yang Ia wahyukan kepada manusia menjadi satu-satunya perspektif yang benar, untuk menuntun manusia kepada pengertian akan Allah dan sifat-sifatNya termasuk dalam hal ini adalah ketetapan Allah mengenai keselamatan manusia (Roma 11:36), Allah telah mewahyukan dirinya (Yunani : apokalypto) secara jelas agar manusia dapat mengenal Allah[36], dalam hal ini melalui Alkitab sebagai FirmanNya yang diwahyukan kepada manusia menjadi sumber pengetahuan (wahyu khusus) dan standar tertinggi yang berotoritas bagi keselamatan manusia.
Pengakuan akan keberadaan Allah, sebagai pencipta dunia, memberikan sebuah perspektif bahwa Allah adalah pribadi yang tidak terbatas dan mahakuasa, sehingga semua yang terjadi di dalam dunia ini tidak ada suatupun yang kebetulan, pasti ada dalam control Allah, bahkan sekalipun itu adalah hal-hal yang remeh dan sederhana atau hal yang bersifat kebetulan (Matius 10:29-30; Kel.21:13). Jika hal-hal yang sederhana diatur oleh Tuhan maka pasti hal yang besar dalam hal ini keselamatan manusia pasti juga diatur oleh Allah dalam hikmatNya yang mahabesar dan mulia tersebut.
Kerusakan total manusia dan pengorbanan Kristus di kayu salib memberikan bukti mengenai kelembutan dan kebaikan hati Allah. Dan dengan pengorbanan Anak tunggalNya di kayu salib ini, menjadikan keselamatan manusia sebagai pokok perhatian bagi Allah. Kristus adalah cermin, tempat yang selayaknya, di mana manusia dapat menatapi pemilihan[37] berdasarkan kepada anugerah Allah yang telah ditentukan di dalam kekekalan. John Owen menyimpulkannya dengan sebuah kalimat “Pemulihan orang percaya yang telah kehilangan kesehatan dan kekuatan rohaninya merupakan karya dari suatu anugerah berdaulat, karya Allah yang mahakuasa, yang kasih dan anugerahNya tak dapat dibendung oleh siapapun”[38].
PREDESTINASI DAN PERMASALAHANNYA
            Predestinasi memang diajarkan oleh Alkitab, namun pada kenyataannya doktrin predestinasi ini masih sulit untuk diterima karena problema-problema yang ditimbulkan dari keinginan manusia menyelaraskannya dengan akal budi dan rasionya. Ada begitu banyak keberatan-keberatan yang bermunculan karena doktrin ini dianggap tidak konsisten dengan kebebasan manusia, mengenai mengapa Allah hanya memilih sebagian saja? mengenai alasan pemilihan terhadap yang diselamatkan dan penolakan bagi yang akan binasa, dan masih banyak lagi persoalan mengenai predestinasi ini[39] 
  1. Predestinasi dan Kehendak Bebas Manusia
Salah satu persoalan yang menimbulkan perdebatan dan kesulitan untuk menerima doktrin predestinasi adalah persoalan mengenai kehendak bebas manusia, bagaimana mungkin manusia dapat bebas dan bertanggung jawab mengenai tindakan dan keselamatannya jika itu telah di tentukan dalam kekekalan? Kehendak bebas manusia memberikan suatu pengertian bahwa manusia dengan kesadarannya melakukan suatu tindakan dan manusia itu bertanggung jawab atas tindakannya, sedangkan ketetapan Allah memberikan pengertian bahwa Allahlah yang menentukan segala sesuatu dalam kekekalan. Dalam ranah ini sepertinya ketetapan Allah dan kehendak bebas manusia saling bertentangan[40].
Louis Berkhof dengan jelas menyatakan
Manusia adalah pelaku bebas dengan kekuatan penentuan diri secara rasional. Manusia dapat berefleksi dan dengan cara yang penuh pertimbangan memilih akhir-akhir tertentu dan dapat juga menentukan tindakannya bagi diri sendiri. Akan tetapi ketetapan Allah membawa kepentingan tersendiri.
Menyelaraskan perihal ketetapan Allah dan kehendak bebas manusia merupakan sebuah misteri yang agung yang sangat sulit untuk dipecahkan[41], dan merupakan suatu kekonyolan dan hal yang tidak masuk akal bagi begitu banyak orang, sehingga pada akhirnya melahirkan beberapa pandangan mengenai kedua hal  ini.
Di abad pencerahan dan abad modern ini, pengakuan akan ketetapan Allah ini dianggap tidak sejalan dengan pengagungan kepada rasionalitas ilmu pengetahuan, yang di mana manusia memainkan peranan yang terpenting. Sehingga muncullah beberapa pemikiran-pemikiran untuk “membuang” Allah dari dunia ini, karena Allah dianggap sebagai perintang.  Salah satunya adalah filsafat eksistensilaisme atheistic yang menyatakan bahwa Tuhan telah mati dan kebebasan dan tanggung-jawab manusia sangat ditekankan, manusia tidak perlu bergantung kepada Tuhan. Tuhan ada, namun tidak memiliki signifikansi bagi kehidupan manusia[42].
Dan juga solusi yang coba ditawarkan oleh kaum Unitarian dan Arminian untuk mendamaikan kedua hal ini yaitu bahwa ketetapan Allah adalah salah satu ketetapan yang dibentuk dalam keadaan yang telah diketahui sebelumnya oleh Allah.[43] “They (Unitarian) say that God Knows all that is knowable, but that free acts are uncertain and that it is doing no dishonor to God to say that He does not know them”[44]  justru pandangan ini semakin menimbulkan suatu sikap perendahan terhadap Allah yang berdaulat.
Tetapi juga ada pandangan yang bertolak belakang dari filsafat eksistensialisme dan pandangan Arminian di atas yaitu pandangan yang menekankan kepada kedaulatan Allah secara mutlak dan menolak kebebasan manusia, mereka memahami penyataan-penyataan Alkitab yang jelas mengenai ketetapan Allah sejak semula dan berpegang pada pernyataan-pernyataan tersebut, dan meninggalkan tanggung jawab manusia[45], pandangan inilah yang melahirkan sebuah fatalism berlebihan.
Apakah ketetapan Allah (predestinasi) bertentangan dengan kehendak bebas manusia? ini tetap merupakan sebuah persoalan yang sulit untuk dipecahkan oleh rasio manusia, namun  Alkitab mengajarkan kedua hal ini secara bersamaan bahwa Allah telah menetapkan segala seuatu, akan tetapi juga bahwa manusia sebagai pelaku adalah bebas, dengan demikian bertanggung jawab atas tindakannya sendiri. Sehingga, pada waktu manusia berbuat dosa, ia tetap bertanggung jawab terhadap Allah akan dosanya itu, artinya ia tetap akan dihukum karena dosanya itu
Beberapa kisah di dalam Alkitab memberikan pemahaman yang jelas mengenai hal ini. Kisah tentang Allah yang mengeraskan hati Firaun Dalam Kel 7:3 Allah berkata bahwa Ia akan mengeraskan hati Firaun, tetapi pada waktu ketetapan Allah itu terlaksana, ternyata Firaun mengeraskan hatinya sendiri (Kel 7:13,22 8:15,19,32 9:7,34-35). Dalam Ayub 1:21 Ayub berkata bahwa 'Tuhan yang mengambil'; tetapi dalam Ayub 1:15,17 orang-orang Syeba dan Kasdim melakukan perampokan itu dengan kemauan mereka sendiri. Yes 10:5-7 - Asyur adalah alat Tuhan untuk menghukum Israel, tetapi Asyur melakukan sendiri dengan motivasi yang lain, sehingga pada akhirnya merekapun dihukum oleh Allah
Dalam kasus, orang-orang Yahudi yang telah di tentukan untuk menyalibkan Yesus, akan tetapi juga benar-benar bebas dalam tindakannya yang jahat, kisah mengenai Petrus dan Yudas yang telah ditentukan sebelumnya untuk menyangkal dan menjual Yesus, namun juga harus bertanggung jawab atas tindakan mereka tersebut.[46]
            Jadi dalam hal ini, dapat disimpulkan bahwa ketetapan Allah dan kehendak bebas manusia itu berjalan bersama-sama menjadi sebuah paradox yang tidak dapat disatukan[47], tanpa menghilangkan kehendak bebas manusia dan juga dengan tetap meninggikan ketetapan Allah bagi manusia (Matius 18:7; Lukas 22:22).[48]
            Terus terang, tidak ada yang bisa mengharmoniskan kedua hal yang kelihatannya bertentangan ini.  Yang dapat dilakukan hanya melihat bahwa kedua hal itu sama-sama diajarkan oleh Kitab Suci secara bersama-sama tanpa ada suatu keterangan untuk menjadikan keduanya harmoni. Loraine Boettner memberikan sebuah pernyataan yang unik  untuk hal ini "But while the Bible repeatedly teaches that this providential control is universal, powerful, wise, and holy, it nowhere attempts to inform us how it is to be reconciled with man's free agency… Perhaps the relationship between divine sovereignty and human freedom can best be summed up in these words: God so presents the outside inducements that man acts in accordance with his own nature, yet does exactly what God has planned for him to do"[49]  atau seperti apa yang diutarakan oleh
            Arthur W. Pink menjelaskan
Dua hal tidak perlu diperdebatkan: Allah itu berdaulat, manusia itu bertanggung jawab. ... Menekankan kedaulatan Allah, tanpa juga memelihara pertanggungan jawab dari makhluk ciptaan, cenderung kepada fatalisme; terlalu memperhatikan pemeliharaan tanggung jawab manusia, sehingga tidak mengindahkan kedaulatan Allah, sama dengan meninggikan makhluk ciptaan dan merendahkan sang Pencipta.[50]
Allah bisa menentukan dan mengontrol segala sesuatu sampai detail-detail yang sekecil-kecilnya, tanpa menghancurkan kebebasan manusia. Bagaimana Ia bisa melakukan hal itu, merupakan suatu mystery yang tidak bisa dipercayakan, tetapi yang jelas Kitab Suci menunjukkan bahwa Allah memang menentukan dan menguasai segala sesuatu, tetapi manusia tetap mempunyai kebebasan. Charles Hodge: "God can control the free acts of rational creatures without destroying either their liberty or their responsibility"[51]
            Dalam persoalan keselamatan, tidak ada satu manusiapun yang dapat percaya kepada Allah jikalau bukan karena Allah yang membuat manusia itu dapat percaya (Yoh.6:44), bahkan ketika orang yang sudah percaya melakukan suatu tindakan yang memuliakan Allah itu juga bukan karena kemampuannya untuk berespon terhadap Anugerah Allah namun karena Allahlah yang mengerjakan di dalam dia segala hal (Filipi 2:13), tetapi jika manusia menolak anugerah Allah maka manusialah yang harus bertanggung jawab, karena sekalipun Tuhan menetapkan segala sesuatu namun manusia melakukan semua ketetapan Allah itu dalam kehendaknya yang begitu bebas (Amsal 16:1,9).
            Ketetapan Allah tidak menjadikan manusia pasif sehingga melahirkan sebuah Fatalisme (seperti pandangan Hyper-Calvinisme), sebaliknya ketetapan Allah justru memberikan kepada manusia sebuah kebebasan yang terarah untuk bertindak (tidak seperti ajaran Arianisme), dan ketetapan Allah juga tidak menjadikan dunia ini menjadi semacam sebuah determinisme yang keras, kaku dan arogan, sebaliknya ketetapan Allah menjadikan dunia ini sebagai sebuah dunia yang merupakan manifestasi dari kehendak Allah yang agung dan mulia.
  1. Predestinasi Ganda (Pemilihan dan Reprobasi)
Salah satu unsur dari predestinasi selain pemilihan orang-orang yang akan selamat juga adalah penolakan terhadap sebagian orang[52],di mana Allah berdasarkan tindakan dan anugerah khusus-Nya dan menghukum mereka karena dosa-dosa mereka untuk menyatakan keadilanNya[53]. Dalam hal ini, penolakan terhadap sebagian orang ini dapat dikategorikan dalam dua bagian yaitu preterisi (pelewatan)[54] dan penghukuman[55].
Namun kedua hal tersebut yaitu preterisi dan penghukuman mengindikasikan sebuah pemahaman bahwa pada kenyataannya selain keputusan Allah untuk memilih sebagian selamat, maka terdapat juga keputusan Allah untuk memilih sebagian untuk diselamatkan, dan mereka yang terakhir inilah yang disebut dengan istilah kaum Reprobat (kaum yang tertolak), seperti yang diutarakan oleh J. Van Genderen dan W.H Velema “In the reformed tradition, election and reprobation are frequently mentioned in one breath as two aspect of God’s eternal decree”[56].
Hal ini dirangkum juga dengan begitu jelas dalam Canons of Dort, 1.15
Tidak semua orang dipilih ‘ada yang tidak dipilih atau dilewatkan Allah dalam pemilihanNya yang kekal’. Allah telah memutuskan untuk membiarkan mereka dalam situasi mereka dan dibawah hukumanNya yang adil, dan untuk akhirnya menghakimi mereka dan menjatuhkan hukuman yang kekal atas mereka, bukan hanya karena ketidakpercayaan mereka, melainkan juga karena semua dosanya yang lain, supaya dengan demikian diperlihatkan keadilan-Nya, inilah keputusan penolakan
Pelewatan atau juga penolakan dan penghukuman oleh Allah tidak disebabkan oleh ketidakmampuan Allah untuk menyelamatkan manusia, dan juga bukan karena kemampuan manusia untuk menolak Allah, dan juga tidak didasarkan kepada pengetahuan Allah sebelumnya akan hal-hal yang akan terjadi, akan siapa yang akan menerima dan menolak-Nya. Akan tetapi seperti pada pemilihan, penolakan ini hanya didasarkan kepada kasih dan keadilan Allah.
Iman adalah karunia Allah. Dengan iman manusia dapat mengenal yang Maha Benar itu ( I Yoh 5:20), pengenalan akan Allah membawa manusia kepada kehidupan yang kekal yaitu keselamatan jiwa, tanpa pengenalan akan Allah manusia akan tersesat dan binasa, namun pada kenyataannya tidak semua manusia mendapatkan karunia Allah tersebut (iman) untuk dapat mengenal Allah, hanya orang-orang pilihan sajalah yang mendapatkan karunia tersebut (Kis.13:48).
Sejarah memberikan kepada kita suatu penggambaran betapa sulitnya memahami karya Allah dalam hal pelewatan (penolakan) terhadap sebagian orang untuk dibinasakan, seperti yang diutarakan oleh Harun Hadiwijono “Jikalau demikian, kiranya juga tidak dapat dikatakan bahwa sejak sebelum dunia dijadikan, Tuhan Allah telah menolak sejumlah manusia tertentu untuk dihukum. Dan jika demikian maka penolakan Tuhan Allah tidak mungkin dianggap sebagai garis yang sejajar dengan pemilihan Tuhan Allah yang bersama-sama di tarik dari kekekalan”[57].
 Bagi golongan ini, pemilihan dan reprobasi menjadi dua hal yang berbeda. Pemilihan memang merupakan keputusan kekal Allah dalam kekekalan, namun reprobasi menjadi sebuah tindakan Allah di dalam sejarah berdasarkan kepada penentangan dan kesalahan manusia[58]. Menurut golongan ini, prinsip Alkitab mengenai penolakan adalah merupakan reaksi Allah terhadap penolakan manusia terhadap Allah,  seperti yang dirangkum oleh Van Genderen dan Velema dengan mengutip pernyataan Bavinck “Hereby we do not deny that scripture says little about reprobation as an eternal decree and much more about reprobation as an act in history”[59].
Ada juga pandangan yang menerima doktrin penolakan ini, namun dengan sedikit melunakan model penolakan, dalam hal ini, pernyataan bahwa Allah telah menolak sebagian manusia memiliki penekanan yang berbeda, jika dalam pemilihan Allah terlibat aktif menggerakkan dan  mengefektifkan anugerah di dalam jiwa manusia dan membawa mereka dalam iman yang menyelamatkan, maka di dalam kasus “reprobate” Allah tidak bekerja secara aktif di dalam hati mereka namun hanya melewatkan dan membiarkan mereka berada dalam keberdosaan mereka[60]. Ada sebuah ketidaksejajaran dalam tindakan Allah terhadap kaum pilihan dan kaum yang ditolak, walaupun menurut mereka ada kesejajaran akibat dari kedua tindakan Allah ini. 
Apakah dasar pengajaran tentang penolakan ini, dan apakah memang Alkitab mengajarkan mengenai penolakan, apakah penetapan Tuhan atas penolakan ini, tidak menjadikan Dia sebagai penyebab dosa? Ini adalah sekelumit kesulitan dan pertanyaan yang muncul dalam pembahasan mengenai penolakan ini.
Doktrin reprobasi adalah bagian yang tidak terelakan sebagai sebuah konsekuensi logis seperti dua sisi dari mata uang koin, ketetapan akan pemilihan memberikan sebuah sisi yang lain yaitu penolakan akan sebagian orang, Kata “dipilih” mengindikasikan bahwa ada yang “tidak dipilih”. Jika kita hanya menerima pemilihan dan menolak pengajaran akan penolakan, maka hal ini akan memberikan sebuah inkonsistensi  L Boettner menyatakan “Those who hold the doctrine of election but deny that of reprobation can lay but little claim to consistency”[61]. Bahkan bukan hanya itu saja, penerimaan akan pemilihan saja dan penolakan terhadap doktrin reprobate akan menjadikan ketetapan Allah menjadi sesuatu yang sia-sia dan tidak terarah  seperti apa yang diutarakan oleh Berkhof “ pemilihan dan penolakan mengandung arti bahwa dalam hal pemilihan dan penolakan, Allah akan menjadikan apapun yang menjadi efisiensi langsung dari apa yang Ia tetapkan[62].
 Pada kenyataannya, Alkitab juga memberikan beberapa pernyataan tentang doktrin penolakan ini, sekalipun memang di dalam Alkitab, pembahasan mengenai orang yang dipilih untuk diselamatkan merupakan prioritas atau lebih banyak dibahas sedangkan mengenai penolakan hanya dibahas dalam beberapa bagian saja (Ams. 16:4, Mat. 11:20-26;  Roma 9:17-18, 21-22; 2 Tim. 2: 19-20; Yud. 1:4 ; I Pet. 2:8, II Pet 2:12, Wahyu 13:8 17:17), ini disebabkan karena Alkitab merupakan buku tentang kehidupan dan bukan buku mengenai kematian yang dalam istilah Berkhof disebut sebagai wahyu penebusan[63], sehingga prioritas utamanya adalah mengenai pemilihan untuk diselamatkan.
Allah menjadikan segala sesuatu dalam rencana yang agung demi tujuan yang mulia, begitu juga penolakan terhadap sebagian orang adalah demi keadilan Allah[64], dan juga penolakan mengajarkan kepada kita untuk terus menerus hidup dalam kasih Allah dan tidak melepaskan diri dari pimpinan Allah, serta menyadarkan orang-orang untuk kembali kepada Allah (Roma 11:11)[65]. 
Dalam kaitan dengan predestinasi ganda ini, perlu ditinjau kembali pandangan supra dan infralapsarian mengenai hal ini. Supralapsarian melihat bahwa Allah telah menetapkan manusia untuk dipilih dan diselamatkan sebelum manusia itu dicipta dan sebelum ada kejatuhan manusia ke dalam dosa, sedangkan Infralapsarian melihat hal yang sebaliknya. Namun dari kedua hal ini memberikan sebuah pemahaman bahwa dosa menjadi sesuatu yang pasti, sehingga memungkinkan untuk melihat bahwa Allah penyebab dosa.
Memang Alkitab memang mengajarkan bahwa Allahlah yang merencanakan atau bahkan menetapkan dosa (Dan. 11:36; Luk. 22:22 ; Kis 2: 23, 4:28), karena tidak ada satu hal pun yang terjadi di luar ketetapan Allah, menyangkali hal ini sama dengan menurunkan kapasitas keallahan Allah dan mendorong Dia ke garis tepi bahkan keluar dari dunia ini secara tidak langsung.
William G. T. Shedd menjelaskan
Whatever undecreed must be by haphazard and accident. If sin does not occur by the Divine purpose and permission, it occurs by chance. And if sin occurs by chance, the deity, as in the ancient pagan theologies, is limited and hampered by it. He is not 'God over all'. Dualism is introduced into the theory of the universe. Evil is an independent and uncontrollable principle. God governs only in part. Sin with all its effects is beyond his sway. This dualism God condemns as error, in his words to Cyrus by Isaiah, 'I make peace and create evil'; and in the words of Proverbs 16:4, 'The Lord hath made all things for himself; yea, even the wicked for the day of evil.[66]
Apakah Allah pencipta dosa? Alkitab mengajarkan bahwa Allah bukanlah penyebab dosa (Maz. 5:5, 92: 15; Pengkh. 7:29; Za 8:17; Yak. 1:13, I Yoh 1:5, 3:10), bahkan dosa adalah kekejian bagi Allah. Lalu, bagaimana dosa masuk ke dalam dunia? Dan siapakah yang bertanggung jawab?  Dr. A.A. Hodge seperti dikutip Boettner memberikan sebuah penjelasan : “As a fair probation could not, in the nature of the case, be given to every new member in person as it comes into existence  an undeveloped infant, God, as guardian of the race its best interests, gave all its members a trial in the person of Adam under the most favorable circumstances – making him for that end the representative and personal substitute of each one of his natural descendants.”[67]  
Sejalan dengan penjelasan Hodge tadi bahwa bahwa, ketetapan Allah tidaklah melepaskan tanggung jawab manusia, dosa diperhitungkan sebagai pelanggaran dan kesalah manusia dan bukan Allah. Berkhof memberikan sebuah pernyataan menarik untuk hal ini, “ketetapan ini hanya menjadikan Allah pembuat dari manusia yang mempunyai kebebasan moral, yang kemudian, manusia itu sendiri yang menjadi pembuat dosa”[68].   Dosa adalah tanggung jawab manusia karena Allah tidaklah melakukan suatu perbuatan jahat karena itu bertentangan dengan natur Allah yang adalah kudus.
Walaupun begitu, hubungan antara Allah dengan dosa tetaplah merupakan misteri yang tidak mungkin dapat kita pecahkan, ketetapan Allah yang menjadikan dosa masuk ke dalam dunia, bukan menunjukkan bahwa Allahlah pencipta dosa. Doktrin Predestinasi menjadi sebuah jaminan bahwa Allah bukanlah pencipta dosa[69].

  Seperti persoalan reprobasi, ini akan tetap menjadi sebuah misteri buat orang percaya, untuk mengakhiri bagian ini penulis ingin mengutip pernyataan Bavinck yang dikutip J. Van Genderen dan W. H Velema dalam Concise Reformed Dogmatics
“No one has the right to believe that he or she is a reprobate, for everyone is sincerely and urgently called to believe in Christ with a view to salvation. No, one can actually believe it, for one’s own life and that makes it enjoyable is proof that God takes no delight in his death. No one really believes it, for that would be hell on earth. But election is a source of comfort and streght, of submissiveness and humility, of confidence and resolution. The salvation of human beings is firmly established in the gracious and omnipotent good pleasure of God”[70]
Kesimpulan
Artikel ini dimulai dengan sebuah pernyataan dari golongan yang menolak doktrin predestinasi mengenai betapa sukar, sulit dan naifnya doktrin predestinasi karena melahirkan begitu banyak pertanyaan dan masalah yang tidak terpecahkan bahkan sepertinya bertentangan dengan nalar dan akal budi manusia seperti yang telah diutarakan dan dibahas diatas, bahkan, menurut golongan yang menolak predestinasi, doktrin ini melemahkan semangat untuk memberitakan Injil dengan pemikiran bahwa tanpa penginjilan sekalipun maka setiap orang yang telah ditentukan untuk selamat maka pasti akan percaya dengan sendirinya.
Namun itu bukan berarti bahwa doktrin predestinasi harus dikuburkan dan tidak perlu dibicarakan, seperti telah diperlihatkan bahwa doktrin predestinasi adalah doktrin yang diajarkan oleh Alkitab dan merupakan penyanjungan kepada Allah secara mutlak, Calvin seperti dikutip Edwin H Palmer menyatakan bahwa “…siapa pun yang menumpuk kebencian atas doktrin predestinasi hanya mencemarkan nama Allah, seperti seolah-olah Allah membiarkan sesuatu yang menyakitkan masuk ke dalam Gereja tanpa ada pemberitahuan sebelumnya.”[71]
Pada hakikatnya doktrin ini, bukanlah doktrin yang kaku seperti yang dituduhkan oleh golongan anti-predestinasi, melainkan doktrin yang mengatur hubungan antara Allah dengan manusia dengan begitu baiknya karena doktrin mengajarkan mengenai betapa Allah itu begitu baik bagi manusia, karena sebelum manusia mampu berespon terhadap Allah, Allah terlebih dahulu memilih mereka tanpa memperhitungkan perbuatan-perbuatan mereka, Palmer menyatakan “betapa baiknya Allah yang bukan hanya mengampuni dosa-dosa kita, tetapi juga mengaruniakan kepada kita iman kepada Kristus agar kita dapat memperoleh pengampunan dosa.”[72]
Pemilihan ini tidak didasarkan pada syarat yang akan dipenuhi atau pada kerelaaan atau usaha manusia, tetapi hanya pada kedaulatan Allah semata, atas anugerah Allah semata, sehingga menjamin sebuah rasa aman dan kepastian bahwa karena Allah yang memilih maka pilihan Allah tidaklah mungkin gagal, karena ketetapan Allah mengenai pemilihan tidaklah mungkin berubah,  seperti yang diutarakan oleh Sproul “Alasan yang membuat orang-orang Kristen sejati tidak dapat kehilangan anugerah adalah karena Allah dengan murah hati memelihara mereka sehingga tidak dapat kehilangan anugerah itu. Ketekunan adalah tindakan yang kita lakukan, sedangkan pemeliharaan merupakan tindakan yang dilakukan olah Allah”.[73]
Doktrin Predestinasi ini juga menyadarkan manusia bahwa kehidupan yang dihidupinya adalah hidup yang diciptakan dan diberikan oleh Allah, dan karena itu boleh yakin bahwa hidup ini adalah hidup terbaik sehingga dapat terus bersyukur kepada Allah dalam segala berkat maupun masalah yang dihadapi, seperti tertuang di dalam Roma 8:28-30 “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya.  
Pemahaman yang benar akan doktrin ini, akan melahirkan sebuah semangat dalam penginjilan.  Seperti yang diutarakan oleh Yakub Tri Handoko “Kita tidak patah semangat dalam memberitakan Injil kepada orang yang keras hati, karena kalau orang itu ditetapkan Allah untuk selamat, orang itu suatu ketika pasti akan selamat. Sebaliknya, kita tetap akan rendah hati ketika Injil yang kita beritakan diterima orang, karena itu murni pekerjaan Allah.”[74]











[1] Louis Berkhof, Doktrin Allah (Surabaya: Momentum, 1993) hlm 179
[2] R. C Sproul, Kaum Pilihan Allah (Malang: SAAT, 1995) hlm 15 
[3] Yohanes Calvin, Institutio (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2009) hlm 50 
[4] B. B Warfield, Biblical and Theological Studies (New York: Oxford University, 1929) hlm 276
[5] Charles Hodge, Systematic Theology Vol II (Grand Rapids: Eerdmans, 1952) hlm 313
[6] Yohanes Calvin, Institutio (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2009) hlm 193
[7] G.I Williamson, Pengakuan Iman Westminster (Surabaya: Momentum, 2006) hlm 50
[8] R. C Sproul, Kebenaran-Kebenaran Dasar Iman Kristen (Malang: SAAT, 2008) hlm 215 
[9] Dalam hal ini, menurut kaum anti-predestinasi, penerimaan akan doktrin ini memberikan indikasi bahwa Allahlah pembuat dosa, dan juga Allahlah yang harus bertanggung jawab atas adanya dosa (lihat Nuban Timo; Pemberita Firman Pecinta Budaya, Bab VI (hlm 151) 
[10] Menjijikan bagi natur manusia dikarenakan, jika menerima doktrin predestinasi, menurut kaum anti-predestinasi adalah penyangkalan terhadap pra-pengetahuan Allah sebelumnya, bahwa pilihan Allah atas manusia yang akan menerima kehidupan kekal berdasarkan pengetahuan Allah atas apa yang akan dipilih manusia pada masa yang akan datang; Allah memilih kita karena Ia telah mengetahui sebelumnya bahwa kita akan memilih Dia. 
[11] Lihat penjelasan Berkhof dalam doktrin Allah mengenai doktrin predestinasi dalam sejarah (hlm 197 – 202) dan juga Milard J. Erickson, Teologi Kristen Volume III hlm 100-110
[12] Louis Berkhof, Doktrin Allah ( Surabaya : Momentum, 2008 ) hlm 201
[13] A. Naftalino, Koreksi Terhadap Predestinasi (Jakarta: Logos Publicizing, ….) hlm 152
[14] Ibid… hlm 140
[15] Jadi bukan manusianya yang dipredestinasi tetapi cara bagaimana keselamatan akan dinyatakan, itu yang ditetapkan, atau ditentukan sejak dunia dijadikan.
[16] Lebih jelas Harun Hadiwijono dalam buku Iman Krsiten halaman 295-296 berkaitan dengan pandangan ini menjelaskan bahwa pemilihan orang beriman untuk diselamatkan itu terjadi di dalam Kristus (Ef.1:4), menurut kata Yunaninya, kata “di dalam” berarti berakar pada atau bersandar” sehingga pemilihan Tuhan Allah   yang bebas merdeka, yang berdasarkan kasih karuniaNya itu senantiasa dihubungkan atau dipersekutukan dengan karya penyelamatan Kristus.  Dipilih di dalam Kristus berarti, bahwa dasar atau akar keselamatan kita ada pada Kristus, demikian juga sandaran dan pelaksanaan keselamatan kita. Kristus menjadi pusat dan penyataan atau pengungkapan pemilihan Allah, maka Kristus mencakup seluruh keselamatan manusia.
[17] Harun Hadiwijono, Iman Kristen (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2010) hlm 292
[19] Calvin seperti di kutip Erickson dalam bukunya Teologi Kristen Volume III halaman 108, bahwa studi terhadapa doktrin predestinasi bukan sekedar kegiatan intelektual saja, namun berdampak praktis juga
[20] Millard J Erickson,  Teologi Kristen Volume III (Malang: Gandum Mas, 2004) hlm 99
[21] R. C Sproul, Kaum Pilihan Allah …. Hlm 12
[22]Kamus elektronik Babylon
[23] R.C  Sproul, Kebenara-Kebenaran Dasar Iman Kristen … hlm 215
[24] Arthur W. Pink,  The Sovereignty of God (Surabaya: Momentum, 2005) hlm 118 
[25] Millard J. Erickson, Teologi Kristen (Malang: Gandum Mas, 1999) hlm 449
[26] Ibid. hlm 452
[27] Kata ini muncul di dalam PB sebanyak 6 kali, Kisah. 4:28, Roma 8:28-29, 1 Kor. 2:7, Ef. 1:5, 11
[28] Paul Enns, The Moody Handbook Of Theology (Malang: SAAT, 2008) hlm 406
[29] Johanes Calvin, Commentaries on the Epistle of Paul the Apostle to the Romans (Grand Rapids: Eerdmans, 1995), pg 364-366
[30] J. Van Genderen dan W.H Velema,  Concise Reformed Dogmatics (New Jersey: Publishing, 2008) hlm 220
            [31] e-sword version 10.1.0 copyright 2000-2012 Rick Meyer, no page number.
[32] e-swort version…, no page number.
[33] Louis Berkhof, Doktrin Allah… hlm 221-222
[34] Louis Berkhof, Doktrin Allah, hlm 226-227
[35] Louis Berkhof, Doktrin Allah, hlm 230
[36] John M Frame, Apologetika Bagi Kemuliaan Allah (Surabaya: Momentum, 2009) hlm 15
[37] Yohanes Calvin, Institutio … hlm 206
[38] John Owen, Kemuliaan Kristus (Surabaya: Momentum,1998) hlm 102
[39] Pada kesempatan ini, penulis hanya akan membahas mengenai kedua hal ini yaitu (1) mengenai konsep predestination disejajarkan dengan kehendak bebas manusia  (2) persoalan mengenai single predestinasi dan double predestination, pandangan-pandangan yang muncul berkaitan dengan kaum pilihan dan kaum reprobate.
[40] Loraine Boettner, Reformed Doctrine (New Jersey: Presbyterian and Reformed Publishing Company, 1932) hlm 208
[41] Edwin H Palmer,  Lima Pokok Calvinisme (Surabaya: Momentum, 2005) hlm 126
[42] Louis Leahy S. J,  Masalah Ketuhanan Dewasa Ini (Yogyakarta: Kanisius, 1982) hlm 33 
[43] Mereka menyatakan bahwa ketetapan Allah adalah ketetapan yang didasarkan kepada pengetahuan Allah yang telah di miliki sebelumnya oleh Allah, bahwa Allah tahu siapa yang akan memilih untuk percaya dan siapa yang tidak ; dalam hal ini ketetapan Allah bersifat kondisional, sehingga pemikiran ini juga seringkali disebut predestinasi kondisional (pemilihan Allah di dasarkan kepada pengetahuannya kepada siapa yang akan percaya kepada Allah)
[44] Loraine Boettner, Reformed Doctrine … hlm 210
[45] Edwin H Palmer, Lima Pokok Calvinisme (Surabaya: Momentum, 2005) hlm 128
[46] Penjelasan lebih lanjut untuk hal ini dapat di baca dalam Loraine Boetner, Doctrine Reformed hlm 210 
[47] Edwin H Palmer, Lima Pokok Calvinisme… hlm 129
[48] J. I Packer dalam buku Penginjilan dan Kedaulatan Allah (hlm 9) lebih menyukai istilah antinomy ketimbang paradox, karena menurut Packer istilan antinomy lebih merujuk kepada dua kebenaran yang tampaknya tidak bersesuaian namun tidak benar-benar berkontradiksi.
[49] Loraine Boettner, The Reformed Doctrin of Predestination, … hlm 38
[50] Arthur W. Pink, The Sovereignty of God… hlm 9
[51] Charles hodge, Systematic Theology Vol II, … hlm 336
[52] Orang-orang yang ditolak ini disebut dengan kaum reprobat
[53] Louis Berkhof, Doktrin Allah… hlm 212
[54] Preterisi berasal dari kata latin praeter [oleh/melalui] + Ire [pergi] yang berarti melewati. Di dalam menetapkan beberapa orang yang akan diselamatkan, Allah telah memilih beberapa orang dan melewatkan yang lain, menurut Calvin, Preterisi bukanlah sekedar deduksi logis dari pemilihan, sebaliknya preterisi adalah definisi dari pemilihan Allah yang alkitab sendiri ajarkan, pemilihan tanpa preterisi hanyalah suatu istilah theologies yang kosong dan sia-sia, suatu ide mitos dari pikiran yang tidak beres (Lih. Edwin H Palmer, Lima Pokok Calvinisme hlm 164).
[55] Penghukuman. Mereka yang dilewatkan oleh Allah akan di hukum secara kekal oleh karena dosa-dosa mereka sendiri. Beberapa teolog cenderung untuk membatasi reprobasi hanya sampai pada pada preterisi saja. 
[56] J. Van Genderen dan W.H Velema,  Concise Reformed Dogmatics (New Jersey: Publishing, 2008) hlm 231
[57] Harun Hadiwijono, Iman Kristen, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2005) hlm 297
[58] Harun Hadiwijono, Iman Kristen, hlm 297
[59]J. Van Genderen dan W.H Velema,  Concise Reformed Dogmatics (New Jersey: Publishing, 2008) hlm 233
[60] R. C Sproul, Kebenaran-Kebenaran Dasar Iman Kristen, hlm 220
[61] Loraine Boetner, Reformed Doctrine, hlm 105
[62] Louis berkhof, Doktrin Allah… hlm 213
[63] Louis Berkkhof, Teologi Sistematika, Doktrin Allah… hlm 215
[64] Loraine Boetner, Reformed Doctrine, hlm 121
[65] Lihat penjelasan Loraine Boetner mengenai Roma 11:11, dalam buku Reformed Doctrine hlm 122
[66] William G.T Shedd, Calvinism: Pure & Mixed (New York: Charles Scribner's Sons, 1893), hal 36
[67] Loraine Boettner, Reformed Doctrine, hlm. 72.
[68] Louis Berkhof, Doktrin Allah, hlm 195
[69] Robert Duncan Culver, Systematic Theology Biblical and Historical (Germany:Mentor Imprint, 2005) hlm 139
[70] J. Van Genderen and W. H. Velema, Concise Reformed Dogmatics …235  
[71] Edwin H. Palmer, Lima Pokok Calvinisme … hlm 188
[72] Ibid, hlm 51
[73] R. C. Sproul, Kaum Pilihan Allah, hlm 166