PREDESTINASI
KEPASTIAN AKAN
KESELAMATAN
PENDAHULUAN
Iman
Kristen mengakui bahwa dunia dan segala isinya diciptakan oleh Allah. Pengakuan ini memberikan sebuah pemahaman
yang signifikan bahwa dasar dari semua kehidupan etis dan religius adalah dari Allah,
bahkan dapat dikatakan bahwa proposisi utama yang terkandung dari pengakuan ini
adalah bahwa segala sesuatu yang terjadi
di dalam dunia semuanya ada dalam kendali dan ketetapan Allah.
Louis
Berkhof dengan jelas menyatakan
Teologi
Reformed menekankan kedaulatan Allah dalam arti bahwa Ia telah dengan penuh
kedaulatan sejak dari kekekalan menetapkan apa saja yang akan terjadi dan
melakukan karya kedaulatanNya dalam kehendakNya atas semua ciptaan, baik yang
alamiah maupun yang rohani, sesuai dengan rencana yang telah Ia tetapkan sejak
semula. Hal ini sangat sesuai dengan apa yang diungkapkan oleh Paulus ketika Ia
berkata bahwa Allah “di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan
kehendak-Nya” (Efesus 1:11)[1].
Allah
berdaulat mutlak atas segala karya ciptaan-Nya, dalam hal ini, “Allah berkenan memperlakukan alam semesta-Nya ini
sesuai dengan kehendak-Nya yang kudus”[2],
dan tidak ada satu hal pun di luar diriNya yang dapat mempengaruhi
kedaulatanNya. Dalam hal ini kedaulatan Allah adalah menyangkut segala sesuatu
termasuk juga hal-hal yang sepele atau
remeh pun, misalnya mengenai burung-burung di udara dan rambut manusiapun
semuanya berada dalam ketetapan Tuhan
(Matius 10:29-30), seperti yang diutarakan oleh Calvin “Tetapi
setiap orang yang telah diajar oleh bibir Kristus bahwa semua rambut kepalanya
terhitung (Mat 10:30) akan melihat lebih jauh untuk suatu penyebab, dan akan
menganggap bahwa semua kejadian diatur oleh rencana rahasia Allah[3].
B.B Warfield mengomentari hal ini dengan sangat jelas
"Throughout the Old Testament, behind the processes of nature, the
march of history and the fortunes of each individual life alike, there is
steadily kept in view the governing hand of God working out His preconceived
plan - a plan broad enough to embrace the whole universe of things, minute
enough to concern itself with the smallest details, and actualizing itself with
inevitable certainty in every event that comes to pass"[4]
Termasuk
juga bahwa Allah berdaulat mutlak dalam karya penyelamatan-Nya bagi manusia,
tentang bagaimana cara Allah menyelamatkan manusia dan segala hal menyangkut
keselamatan manusia. Meminjam pernyataan Charles Hodge “As God
works on a definite plan in the external world, it is fair to infer that the
same is true in reference to the moral and spiritual world”[5] Lebih jauh Calvin dalam Institutio menuliskan
“Sudahlah jelas bahwa karena kehendak Allahlah kepada sebagian orang
keselamatan dianugerahkan dengan cuma-cuma, sedangkan sebagian orang dicegah
untuk memperolehnya”[6].
Konsep
keselamatan manusia didasarkan kepada
pemahaman akan kedaulatan dan kehendak Allah dalam kekekalan, di mana Allah di
dalam kekekalan telah menetapkan sejumlah orang sebelum dunia dijadikan untuk
diselamatkan, Pengakuan Iman Westminster bagian III, ayat 3 berbunyi “untuk
menyatakan kemuliaan-Nya, Allah melalui dekrit-Nya, mempredestinasikan sejumlah
manusia dan malaikat untuk kehidupan kekal; dan lainnya ditetapkan sebelumnya
untuk kebinasaan kekal”[7]
Namun,
pemahaman akan keselamatan, berdasarkan kepada kedaulatan dan ketetapan
Allah ini tidak begitu saja dapat
diterima oleh para teolog dan orang-orang Kristen, justru pemahaman ini
melahirkan masalah-masalah yang besar dan sekelumit pertanyaan. Bagaimanakah
hubungan kedaulatan Allah dan kehendak bebas manusia, mengapa Allah hanya menyelamatkan sebagian
dan tidak menyelamatkan semua manusia? Bagaimana hubungan ketetapan Allah dan
kehendak bebas manusia dan masih banyak lagi pertayaan yang muncul, R.C Sproul mengatakan bahwa “tidak banyak
doktrin yang mengundang begitu banyak perdebatan seperti halnya doktrin
predestinasi, Predestinasi merupakan doktrin yang sulit, yang menuntut
penanganan yang sangat hati-hati dan teliti[8]
Sejarah
Gereja memperlihatkan bahwa banyak dari bapak-bapak Gereja tidak sependapat
bahkan bertentangan mengenai hal ini, di mulai dengan abad mula-mula
pertentangan antara Augustinus dan Pelagius, dan pertentangan ini dikembangkan
pada abad enam belas oleh para Reformator, melalui Marthen Luther dan Erasmus,
serta oleh Calvin dan Arminius. Menurut kaum yang menolak pemilihan Allah
(predestinasi), pandangan akan predestinasi tidak dapat diterima, karena
pandangan ini menjijikan bagi natur Allah yang berhikmat, adil, dan baik[9],
dan bagi natur manusia yang bebas[10]. Ringkasnya
perdebatan mengenai predestinasi di mulai oleh Agustinus dan Pelagius,
diperluas oleh Luther dan Erasmus dan diteguhkan oleh Calvin dan Arminius[11]
Diawal
abad ke-20 atau jaman modern persoalan predestinasi memuncak kepada penekanan akan kemampuan manusia untuk
dapat bertindak dan memutuskan segala sesuatu berdasarkan kepada kehendak bebas
dan kemampuan yang dimilikinya, sehingga bagi kaum anti-predestinasi, pemahaman dan kepercayan akan pemilihan Allah
di dalam kekekalan bagi keselamatan manusia
merupakan sebuah pembunuhan terhadap kreativitas dan kemampuan manusia,
sehingga dalam lingkup teologi liberal dewasa ini, doktrin ini ditolak dan
diubah semena-mena[12].
Lebih
jauh lagi, para teolog liberal melihat bahwa doktrin pemilihan Allah ini,
memiliki ketidak sesuaian dengan pemahaman rasionalitas manusia, bahkan menurut
kaum anti-predestinasi ajaran mengenai predestinasi adalah ajaran yang naïf[13],
bagi kaum ini, adalah lebih masuk akal apabila konsep pemilihan ini lebih
merujuk kepada kedaulatan Allah yang menentukan jalan keselamatan yang harus
dimulai oleh manusia dan bukan manusia yang menentukan jalannya sendiri, dan di
dalam Yesuslah, Allah menetapkan Dia menjadi jalan keselamatan[14].
Implikasi logis dari pernyataan ini adalah bahwa Allah hanya menyediakan jalan
keselamatan bagi manusia yaitu dengan memilih Yesus[15],
dan manusia bebas untuk memilih untuk mengikuti jalan tersebut atau tidak.
Yesus menjadi subyek dan sekaligus objek[16].
Mengutip pernyataan teolog besar, Karl
Barth,. menurut Barth, Allah tidak pernah memilih siapapun, juga tidak pernah
menolak siapapun[17].
Allah hanya pernah menolak dan memilih Yesus. Sehubungan dengan itu, Barth
memberikan sebuah pernyataan yang menarik: “Jesus is the rejected God and the
rejecting God. Jesus is the elected God and the electing God”[18].
Doktrin
predestinasi ini akhirnya menghasilkan kontroversi yang berkepanjangan bahkan
membawa manusia ke dalam krisis dan terlebih lagi mempengaruhi sudut pandang
iman Kristen terhadap beberapa doktrin yang lain, bahkan lebih nyata lagi
mempengaruhi pola hidup (orthopraxis) dari orang percaya[19], seperti
yang diutarakan oleh Milard J Erickson “dari semua pokok doctrinal iman
Kristen, pastilah yang termasuk paling memusingkan dan paling tidak dimengerti
adalah doktrin predestinasi ini, bagi banyak orang doktrin ini dipandang
sebagai tidak jelas dan bahkan sangat aneh, mungkin sekali lebih banyak lelucon
telah dibuat tentang doktrin ini daripada semua doktrin lainnya”[20],
sekalipun demikian, karena Alkitab mengajarkannya maka mau tidak mau harus
diteliti secara kompeherensif artinya.
APA ITU PREDESTINASI
- Pengertian Secara Umum
Dalam
menggumuli persoalan predestinasi, alangkah baiknya jika di mulai dari suatu
pengertian yang benar mengenai apa itu predestinasi. Secara etimologis, predestinasi
berasal dari dua kata bahasa inggris yaitu pre yang artinya sebelum (menunjuk
kepada waktu) dan destination yang artinya tujuan, jadi predestinasi berarti
penentuan sebelumnya mengenai tujuan akhir manusia. Lebih jelas, Webster’s New
Collegiate Dictionary yang di kutip oleh Sproul memberikan defenisi[21]
Predestinate: destined, fated, or
determined beforehand; to foreordain to an earthly or eternal lot or destiny by
divine decree.Predestination: the doctrine that God in consequence of His
foreknowledge of all events infallibly guides those who are destined for
salvation. Predestine: to destine, decree, determine, appoint, or settle
beforehand. Predestination : act of determining in advance; doctrine that God
has fore ordained the fate of person (especially pertaining to salvation or
damnation); fate, lot, destiny[22]
Sedangkan
Wikipedia memberikan pengertian
Predestination is a religious concept, which involves the relationship between God and God's creation. The religious character of
predestination distinguishes it from other ideas about determinism and free
will. Those who believe in
predestination, such as John
Calvin, believe that, before the
Creation, God determined the fate of the
universe throughout all of time and space.
Arti mendasar dari predestinasi
adalah berkaitan dengan tujuan akhir hidup manusia yaitu surga dan neraka[23],
ke mana manusia setelah mati, dan tujuan itu telah ditentukan oleh Allah di
dalam kekekalan, berdasarkan kepada kasih karuniaNya semata, tanpa
mempertimbangkan jasa manusia.
Jadi dapat ditarik sebuah kesimpulan
sederhana dari pengertian-pengertian diatas bahwa predestinasi berhubungan
dengan keputusan Allah di dalam kekekalan berdasarkan kepada kedaulatan
mutlaknya yang mahabijak dan mahakudus tanpa mengesampingkan kehendak bebas
manusia mengenai sebagian orang yang dipilih untuk diselamatkan dan sebagian
lagi dipilih atau juga dibiarkan untuk mengalami kebinasaan.
- Pengertian Predestinasi dalam Alkitab
Doktrin predestinasi, bukanlah
doktrin yang berdiri sendiri, melainkan doktrin ini didasarkan kepada pemahaman
terhadap Alkitab secara menyeluruh dan sangat jelas. Alkitab mengajarkan bahwa
ketika manusia pertama jatuh ke dalam dosa, manusia mengalami yang namanya
kerusakan total (Rm. 5:12-21) bahwa yang ada dalam pikiran dan hati manusia
hanyalah untuk berbuat dosa (Roma 3: 9-20; Ef. 2:1-3; 2Kor. 4:3-4).
Kerusakan total (total depravity)
yang manusia alami menyebabkan manusia tidak bisa mencari Allah, atau sekedar
berespon terhadap anugerah Allah, sehingga manusia tidak mungkin dapat
memperoleh keselamatan bahkan secara naturnya manusia justru harus dihukum.
Oleh karena itu maka Allahlah yang berinisiatif untuk menyelamatkan manusia
dengan mengutus anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia untuk menyelamatkan
manusia, dan Allah pulalah yang menggerakan (sebagian) hati manusia untuk
meresponi anugerah Allah ini. “Dari dan dalam dirinya sendiri, manusia natural
memiliki kuasa untuk menolak Kristus; namun dari dan dalam dirinya sendiri, dia
tidak memiliki kuasa untuk menerima Kristus[24]
Dan Allah telah memilih dalam
kedaulatan-Nya yang bebas sebagian umat manusia di dalam kekekalan untuk
berespon terhadap anugerah Allah itu, sehingga manusia dapat memperoleh
keselamatan. Hal itu nyata dari kisah pemilihan Allah atas bangsa Israel
sebagai suatu umat (Ul.7:6-8; Yes.41:9, 65:9,15, 22). Istilah Ibrani yang
dipakai adalah יֻצָּ֑רוּ (Yatsar) Mazmur 139:16; Yesaya 22:11; 37:26; 46:11, istilah
ini mengandung ide tentang rencana Allah dan penetapan sebelumnya. עֵצָ֥ה (‘etsah) Ayub 38:2; 42:3, Maz.33:11, 106:13,
107:11, Ams 19:21, yes. 5:19, 14:26, 19:17, dan masih ada beberapa istilah di
dalam Perjanjian Lama yang merujuk
kepada ketetapan Allah yang berkaitan dengan keselamatan dan persekutuan dengan
Allah[25].
Dari ayat-ayat diatas nampaklah bahwa adanya suatu
kenyataan bahwa Allah telah memilih satu jumlah tertentu dari umat manusia
untuk mengalami hubungan yang khusus denganNya, dan pemilihan ini, adalah
pemilihan yang unconditional
berdasarkan kepada anugerah Allah semata. Millard J. Erikson untuk bagian ini
menyimpulkan bahwa “dalam pandangan Perjanjian Lama Allah telah menciptakan
dunia ini, Dia sedang mengarahkan sejarah, dan semua yang terjadi ini hanya
merupakan peragaan suatu rencana yang telah dipersiapkan sejak kekekalan serta
yang berkait dengan maksudNya untuk bersekutu dengan umat-Nya”[26]
Di dalam
Perjanjian Baru, doktrin predestinasi ini semakin menjadi jelas melalu
pengajaran Tuhan Yesus sendiri, dan para rasul. Ayat-ayat di dalam Alkitab Yohanes
6:44 “tidak ada seorang pun yang dapat datang kepadaku jikalau ia tidak ditarik
oleh Bapa” (lih. juga ay. 37, 65; 15:16). Kisah Para Rasul 13:48 “semua yang
ditentukan Allah untuk hidup yang kekal menjadi percaya”. Roma 8:29-20 “sebab
semua orang yang dipilih-Nya dari semula”. Efesus 1:4 “Allah telah memilih kita
sebelum dunia dijadikan”.
Kata
“ditentukan/dipredestinasikan” dalam ayat-ayat di atas berasal dari kata Bahasa
Yunani “proorizo”[27]
yang memiliki pengertian “ditentukan sebelumnya,” “ditetapkan,” “diputuskan
sebelumnya.” Jadi predestinasi adalah Tuhan menentukan terjadinya hal-hal
tertentu sebelum hal-hal itu terjadi. Apa yang Tuhan tentukan sebelumnya?
Menurut Roma 8:29-30 Tuhan menentukan orang-orang tertentu untuk menjadi sama
dengan AnakNya, dipanggil, dibenarkan dan dimuliakan. Pada hakekatnya, Tuhan
menentukan orang-orang tertentu untuk diselamatkan. Berbagai ayat Alkitab
menyebut orang-orang yang percaya pada Kristus sebagai orang-orang pilihan
(Matius 24:22, 31; Markus 13:20, 27; Roma 8:33; 9:11; 11:5-7, 28; Efesus 1:11;
Kolose 3:12; 1 Tesalonika 1:4; 1 Timotius 5:21; 2 Timotius 2:10; Titus 1:1; 1
Petrus 1:1-2; 2:9; 2 Petrus 1:10).
Satu
kata yang juga dipakai di dalam Perjanjian Baru untuk kata “memilih” adalah
kata Eklego yang berarti memanggil
keluar dari antara orang banyak, kata ini juga seringkali dipakai dalam bentuk
middle voice yang berarti Allah memilih untuk diriNya sendiri[28],
dalam suatu pengertian yang mendalam bahwa Allah berdaulat dalam memberikan
karunia-karunia-Nya.
Dan
tidak hanya orang-orang yang dipilih untuk diselamatkan, tetapi juga Alkitab
mengajarkan bahwa ada sebagian orang yang menurut perkenan-Nya, sengaja di
lewatkan dan menentukan mereka untuk dibinasakan karena dosa mereka, bukan
karena Allah tidak mampu menyelamatkan
(Ams. 16:4, Mat. 11:20-26; Roma
9:17-18, 21-22; 2 Tim. 2: 19-20; Yud. 1:4 ; I Pet. 2:8)
Jadi
berdasarkan kepada pembahasan diatas, dapat disimpulkan bahwa predestinasi
(penetapan akan keselamatan manusia) yang diajarakan oleh Alkitab, maupun yang
secara umum mengajarkan bahwa Allah dalam kedaulatanNya memilih orang-orang
tertentu untuk diselamatkan, hanya berdasarkan kepada kasih karunia Allah
semata dan bukan karena perbuatan baik dari orang tersebut dan yang lainnya
dipilih untuk dibinasakan (Efesus 2:10).
Calvin dengan gigih berpendapat bahwa “Allah memiliki kedaulatan mutlak
sehingga Dia dengan bebas memilih orang tertentu untuk diselamatkan serta
menolak yang lain. Allah adil semata-mata dan sama sekali tak bersalah dalam
hal ini”[29]
sejalan dengan pernyataan Calvin ini, J Van Genderen and W. H Velema menyatakan
“ Our election in Christ implies that it is pure grace and that faith in Christ
is the way to come to the certainty that we have been chosen by God”[30]
Memang,
frasa “pemilihan di dalam kekekalan” sendiri, masih menimbulkan suatu persoalan
yang cukup pelik di dalam pembahasan mengenai predestinasi, bahkan di dalam
golongan Reformed sendiri, persoalan ini mendapat tempat yang khusus ditandai
dengan munculnya dua pandangan yaitu Supralapsarian dan infralapsarian.
Supralapsarianisme.
Supra berarti sebelum, sedangkan lapsus
berarti kejatuhan. Dengan demikian, supralapsarianisme berarti pandangan
yang yakin bahwa keputusan pemilihan yang ditempatkan sebelum keputusan
kejatuhan manusia dalam dosa. Seperti yang dijelaskan oleh Herman Bavink bahwa,
“In general, supralapsarianism places the decree of
predestination proper above (supra) the decree to permit the fall (lapsus).[31]
Sedangkan
Infralapsarianisme.
Infra berarti setelah, sedangkan lapsus
berarti kejatuhan. Dengan demikian, infralapsarianisme berarti pandangan
yang yakin bahwa pemilihan dilakukan setelah keputusan kejatuhan dalam dosa.
Seperti yang dikemukakan oleh Herman Bavink bahwa, “infralapsarianism
places the decree of predestination proper below (infra) the decree to permit
the fall (lapsus)”.[32]
Manakah diantara kedua pandangan ini yang benar?
Menurut Berkhof, Supralapsarian mengacu kepada semua ayat Alkitab yang
menekankan kedaulatan Allah. Susunan dari ketetapan Allah dalam pandangan
Supralapsarian dianggap sebagai suatu susunan yang lebih ideal, yang lebih
masuk akal dan seragam, sehingga Supralapsarian dapat memberikan jawaban yang
pasti mengenai pertanyaan mengapa Allah menetapkan untuk menciptakan dunia dan
memperkenankan kejatuhan[33].
Infralapsarian lebih memilih bagian Alkitab, di mana
obyek pemilihan tampil sebagai kondisi dari dosa. Susunan ini lebih bersifat
historis ketimbang supralapsarian yang bersifat rasional, yang tampaknya akan
mencerminkan susunan dalam pertimbangan kekal Allah, namun tampaknya pandangan infralapsarian tidak memberi jalan
keluar terhadap problem dosa[34].
Dalam hubungan dengan kapan waktu pemilihan itu,
penulis lebih menyetujui pandangan Supralapsarian, bahwa pemilihan itu terjadi
sebelum kejatuhan manusia ke dalam dosa, karena kejatuhan dan dosa bukanlah
suatu peristiwa di luar ketetapan Allah yang membuat Allah panik dan mengubah
rencana ketetapan Allah, karena pada kenyataannya supra maupun infralapsarian
menyetujui kesatuan ketetapan Allah, bahwa Allah memiliki satu tujuan akhir
dalam pandanganNya, bahwa Ia (Allah) menghendaki dosa dalam pengertian tertentu[35].
Lalu, jika pemilihan adalah sebelum kejatuhan, maka
itu memberikan sebuah peluang dan kemungkinan bahwa dosa menjadi sesuatu yang
pasti, dan apakah ini tidak menjadikan Allah sebagai pembuat dosa? Ini menjadi
sebuah pertanyaan yang serius untuk dipikirkan, namun ini tidak akan dibahas
pada bagian ini, tetapi akan dibahas di pembahasan selanjutnya dalam kaitan
predestinasi ganda.
|
|
Infralapsarian
|
Supralapsarian
|
|
1.
|
To
Create
|
To
elect some creatable men to life dan to condemn other to destruction
|
|
2.
|
To
permit the fall
|
To
Create
|
|
3.
|
To
elect to eternal Life and
blessedness
a great multitude out of this mass of
fallen men dan to leave the others
|
To
permit the fall
|
|
4.
|
To
give His son Jesus Christ, for
the
redemption of the elect
|
To
send Christ to redeem the elect
|
|
5.
|
To
send holy spirit to aplly to the
elect
the redemption which was purchased by Christ
|
To
send holy spirit to aplly to the elect the redemption which was purchased by
Christ
|
(Tabel ini
didasarkan pada penjelasan Loraine Boettner dalam Reformed Doctrine hlm 126-127)
- Landasan Filosofis Mengenai Predestinasi
Sekalipun doktrin predestinasi
adalah doktrin yang sulit, membingungkan dan menimbulkan banyak pertanyaan,
namun itu bukan berarti bahwa doktrin predestinasi bukanlah sebuah doktrin yang
irasional. Doktrin predestinasi seperti yang dijelaskan diatas didasarkan
kepada elaborasi terhadap kitab suci secara keseluruhan, sehingga pengakuan
terhadap konsep inneransi dan infallibility Alkitab menjadi dasar filosofis
yang utama, bahwa Allah adalah Auctus Primarus (Penulis utama) dari Alkitab.
Karena Allah adalah kebenaran maka
apa yang Ia wahyukan kepada manusia menjadi satu-satunya perspektif yang benar,
untuk menuntun manusia kepada pengertian akan Allah dan sifat-sifatNya termasuk
dalam hal ini adalah ketetapan Allah mengenai keselamatan manusia (Roma 11:36),
Allah telah mewahyukan dirinya (Yunani : apokalypto) secara jelas agar manusia
dapat mengenal Allah[36],
dalam hal ini melalui Alkitab sebagai FirmanNya yang diwahyukan kepada manusia
menjadi sumber pengetahuan (wahyu khusus) dan standar tertinggi yang
berotoritas bagi keselamatan manusia.
Pengakuan akan keberadaan Allah,
sebagai pencipta dunia, memberikan sebuah perspektif bahwa Allah adalah pribadi
yang tidak terbatas dan mahakuasa, sehingga semua yang terjadi di dalam dunia
ini tidak ada suatupun yang kebetulan, pasti ada dalam control Allah, bahkan
sekalipun itu adalah hal-hal yang remeh dan sederhana atau hal yang bersifat
kebetulan (Matius 10:29-30; Kel.21:13). Jika hal-hal yang sederhana diatur oleh
Tuhan maka pasti hal yang besar dalam hal ini keselamatan manusia pasti juga
diatur oleh Allah dalam hikmatNya yang mahabesar dan mulia tersebut.
Kerusakan total manusia dan
pengorbanan Kristus di kayu salib memberikan bukti mengenai kelembutan dan
kebaikan hati Allah. Dan dengan pengorbanan Anak tunggalNya di kayu salib ini,
menjadikan keselamatan manusia sebagai pokok perhatian bagi Allah. Kristus
adalah cermin, tempat yang selayaknya, di mana manusia dapat menatapi pemilihan[37]
berdasarkan kepada anugerah Allah yang telah ditentukan di dalam kekekalan.
John Owen menyimpulkannya dengan sebuah kalimat “Pemulihan orang percaya yang
telah kehilangan kesehatan dan kekuatan rohaninya merupakan karya dari suatu
anugerah berdaulat, karya Allah yang mahakuasa, yang kasih dan anugerahNya tak
dapat dibendung oleh siapapun”[38].
PREDESTINASI
DAN PERMASALAHANNYA
Predestinasi
memang diajarkan oleh Alkitab, namun pada kenyataannya doktrin predestinasi ini
masih sulit untuk diterima karena problema-problema yang ditimbulkan dari
keinginan manusia menyelaraskannya dengan akal budi dan rasionya. Ada begitu
banyak keberatan-keberatan yang bermunculan karena doktrin ini dianggap tidak
konsisten dengan kebebasan manusia, mengenai mengapa Allah hanya memilih
sebagian saja? mengenai alasan pemilihan terhadap yang diselamatkan dan
penolakan bagi yang akan binasa, dan masih banyak lagi persoalan mengenai
predestinasi ini[39]
- Predestinasi dan Kehendak Bebas Manusia
Salah
satu persoalan yang menimbulkan perdebatan dan kesulitan untuk menerima doktrin
predestinasi adalah persoalan mengenai kehendak bebas manusia, bagaimana mungkin
manusia dapat bebas dan bertanggung jawab mengenai tindakan dan keselamatannya
jika itu telah di tentukan dalam kekekalan? Kehendak bebas manusia memberikan
suatu pengertian bahwa manusia dengan kesadarannya melakukan suatu tindakan dan
manusia itu bertanggung jawab atas tindakannya, sedangkan ketetapan Allah
memberikan pengertian bahwa Allahlah yang menentukan segala sesuatu dalam
kekekalan. Dalam ranah ini sepertinya ketetapan Allah dan kehendak bebas
manusia saling bertentangan[40].
Louis
Berkhof dengan jelas menyatakan
Manusia
adalah pelaku bebas dengan kekuatan penentuan diri secara rasional. Manusia
dapat berefleksi dan dengan cara yang penuh pertimbangan memilih akhir-akhir
tertentu dan dapat juga menentukan tindakannya bagi diri sendiri. Akan tetapi ketetapan
Allah membawa kepentingan tersendiri.
Menyelaraskan
perihal ketetapan Allah dan kehendak bebas manusia merupakan sebuah misteri
yang agung yang sangat sulit untuk dipecahkan[41],
dan merupakan suatu kekonyolan dan hal yang tidak masuk akal bagi begitu banyak
orang, sehingga pada akhirnya melahirkan beberapa pandangan mengenai kedua
hal ini.
Di
abad pencerahan dan abad modern ini, pengakuan akan ketetapan Allah ini
dianggap tidak sejalan dengan pengagungan kepada rasionalitas ilmu pengetahuan,
yang di mana manusia memainkan peranan yang terpenting. Sehingga muncullah
beberapa pemikiran-pemikiran untuk “membuang” Allah dari dunia ini, karena
Allah dianggap sebagai perintang. Salah
satunya adalah filsafat eksistensilaisme atheistic yang menyatakan bahwa Tuhan
telah mati dan kebebasan dan tanggung-jawab manusia sangat ditekankan, manusia
tidak perlu bergantung kepada Tuhan. Tuhan ada, namun tidak memiliki
signifikansi bagi kehidupan manusia[42].
Dan
juga solusi yang coba ditawarkan oleh kaum Unitarian dan Arminian untuk mendamaikan
kedua hal ini yaitu bahwa ketetapan Allah adalah salah satu ketetapan yang
dibentuk dalam keadaan yang telah diketahui sebelumnya oleh Allah.[43]
“They (Unitarian) say that God Knows all that is knowable, but that free acts
are uncertain and that it is doing no dishonor to God to say that He does not
know them”[44] justru pandangan ini semakin menimbulkan
suatu sikap perendahan terhadap Allah yang berdaulat.
Tetapi
juga ada pandangan yang bertolak belakang dari filsafat eksistensialisme dan
pandangan Arminian di atas yaitu pandangan yang menekankan kepada kedaulatan
Allah secara mutlak dan menolak kebebasan manusia, mereka memahami
penyataan-penyataan Alkitab yang jelas mengenai ketetapan Allah sejak semula
dan berpegang pada pernyataan-pernyataan tersebut, dan meninggalkan tanggung
jawab manusia[45],
pandangan inilah yang melahirkan sebuah fatalism berlebihan.
Apakah
ketetapan Allah (predestinasi) bertentangan dengan kehendak bebas manusia? ini
tetap merupakan sebuah persoalan yang sulit untuk dipecahkan oleh rasio
manusia, namun Alkitab mengajarkan kedua
hal ini secara bersamaan bahwa Allah telah menetapkan segala seuatu, akan
tetapi juga bahwa manusia sebagai pelaku adalah bebas, dengan demikian
bertanggung jawab atas tindakannya sendiri. Sehingga, pada waktu manusia berbuat dosa, ia tetap bertanggung jawab
terhadap Allah akan dosanya itu, artinya ia tetap akan dihukum karena dosanya
itu
Beberapa kisah
di dalam Alkitab memberikan pemahaman yang jelas mengenai hal ini. Kisah
tentang Allah yang mengeraskan hati Firaun Dalam
Kel 7:3 Allah berkata bahwa Ia akan mengeraskan hati Firaun, tetapi pada waktu
ketetapan Allah itu terlaksana, ternyata Firaun mengeraskan hatinya sendiri
(Kel 7:13,22 8:15,19,32 9:7,34-35). Dalam Ayub 1:21 Ayub berkata bahwa 'Tuhan
yang mengambil'; tetapi dalam Ayub 1:15,17 orang-orang Syeba dan Kasdim
melakukan perampokan itu dengan kemauan mereka sendiri. Yes 10:5-7 - Asyur
adalah alat Tuhan untuk menghukum Israel, tetapi Asyur melakukan sendiri dengan
motivasi yang lain, sehingga pada akhirnya merekapun dihukum oleh Allah
Dalam kasus,
orang-orang Yahudi yang telah di tentukan untuk menyalibkan Yesus, akan tetapi
juga benar-benar bebas dalam tindakannya yang jahat, kisah mengenai Petrus dan
Yudas yang telah ditentukan sebelumnya untuk menyangkal dan menjual Yesus,
namun juga harus bertanggung jawab atas tindakan mereka tersebut.[46]
Jadi dalam hal ini, dapat
disimpulkan bahwa ketetapan Allah dan kehendak bebas manusia itu berjalan
bersama-sama menjadi sebuah paradox yang tidak dapat disatukan[47],
tanpa menghilangkan kehendak bebas manusia dan juga dengan tetap meninggikan
ketetapan Allah bagi manusia (Matius 18:7; Lukas 22:22).[48]
Terus terang, tidak ada yang bisa mengharmoniskan kedua hal
yang kelihatannya bertentangan ini. Yang
dapat dilakukan hanya melihat bahwa kedua hal itu sama-sama diajarkan oleh
Kitab Suci secara bersama-sama tanpa ada suatu keterangan untuk menjadikan
keduanya harmoni. Loraine Boettner memberikan sebuah pernyataan yang unik untuk hal ini "But while the Bible repeatedly teaches
that this providential control is universal, powerful, wise, and holy, it
nowhere attempts to inform us how it is to be reconciled with man's free
agency… Perhaps the relationship between divine sovereignty and human freedom
can best be summed up in these words: God so presents the outside inducements
that man acts in accordance with his own nature, yet does exactly what God has
planned for him to do"[49] atau seperti apa yang diutarakan oleh
Arthur W. Pink menjelaskan
Dua hal
tidak perlu diperdebatkan: Allah itu berdaulat, manusia itu bertanggung jawab.
... Menekankan kedaulatan Allah, tanpa juga memelihara pertanggungan jawab dari
makhluk ciptaan, cenderung kepada fatalisme; terlalu memperhatikan pemeliharaan
tanggung jawab manusia, sehingga tidak mengindahkan kedaulatan Allah, sama
dengan meninggikan makhluk ciptaan dan merendahkan sang Pencipta.[50]
Allah
bisa menentukan dan mengontrol segala
sesuatu sampai detail-detail
yang sekecil-kecilnya, tanpa menghancurkan kebebasan manusia. Bagaimana Ia bisa
melakukan hal itu, merupakan suatu mystery yang tidak bisa dipercayakan, tetapi
yang jelas Kitab Suci menunjukkan bahwa Allah memang menentukan dan menguasai
segala sesuatu, tetapi manusia tetap mempunyai kebebasan. Charles Hodge: "God can
control the free acts of rational creatures without destroying either their
liberty or their responsibility"[51]
Dalam persoalan keselamatan, tidak
ada satu manusiapun yang dapat percaya kepada Allah jikalau bukan karena Allah
yang membuat manusia itu dapat percaya (Yoh.6:44), bahkan ketika orang yang
sudah percaya melakukan suatu tindakan yang memuliakan Allah itu juga bukan
karena kemampuannya untuk berespon terhadap Anugerah Allah namun karena
Allahlah yang mengerjakan di dalam dia segala hal (Filipi 2:13), tetapi jika
manusia menolak anugerah Allah maka manusialah yang harus bertanggung jawab,
karena sekalipun Tuhan menetapkan segala sesuatu namun manusia melakukan semua
ketetapan Allah itu dalam kehendaknya yang begitu bebas (Amsal 16:1,9).
Ketetapan Allah tidak menjadikan
manusia pasif sehingga melahirkan sebuah Fatalisme (seperti pandangan
Hyper-Calvinisme), sebaliknya ketetapan Allah justru memberikan kepada manusia
sebuah kebebasan yang terarah untuk bertindak (tidak seperti ajaran Arianisme),
dan ketetapan Allah juga tidak menjadikan dunia ini menjadi semacam sebuah
determinisme yang keras, kaku dan arogan, sebaliknya ketetapan Allah menjadikan
dunia ini sebagai sebuah dunia yang merupakan manifestasi dari kehendak Allah
yang agung dan mulia.
- Predestinasi Ganda (Pemilihan dan Reprobasi)
Salah
satu unsur dari predestinasi selain pemilihan orang-orang yang akan selamat
juga adalah penolakan terhadap sebagian orang[52],di
mana Allah berdasarkan tindakan dan anugerah khusus-Nya dan menghukum mereka
karena dosa-dosa mereka untuk menyatakan keadilanNya[53].
Dalam hal ini, penolakan terhadap sebagian orang ini dapat dikategorikan dalam
dua bagian yaitu preterisi (pelewatan)[54]
dan penghukuman[55].
Namun
kedua hal tersebut yaitu preterisi dan penghukuman mengindikasikan sebuah
pemahaman bahwa pada kenyataannya selain keputusan Allah untuk memilih sebagian
selamat, maka terdapat juga keputusan Allah untuk memilih sebagian untuk
diselamatkan, dan mereka yang terakhir inilah yang disebut dengan istilah kaum
Reprobat (kaum yang tertolak), seperti yang diutarakan oleh J. Van Genderen dan
W.H Velema “In the reformed tradition, election and reprobation are frequently
mentioned in one breath as two aspect of God’s eternal decree”[56].
Hal
ini dirangkum juga dengan begitu jelas dalam Canons of Dort, 1.15
Tidak
semua orang dipilih ‘ada yang tidak dipilih atau dilewatkan Allah dalam
pemilihanNya yang kekal’. Allah telah memutuskan untuk membiarkan mereka dalam
situasi mereka dan dibawah hukumanNya yang adil, dan untuk akhirnya menghakimi
mereka dan menjatuhkan hukuman yang kekal atas mereka, bukan hanya karena
ketidakpercayaan mereka, melainkan juga karena semua dosanya yang lain, supaya
dengan demikian diperlihatkan keadilan-Nya, inilah keputusan penolakan
Pelewatan
atau juga penolakan dan penghukuman oleh Allah tidak disebabkan oleh
ketidakmampuan Allah untuk menyelamatkan manusia, dan juga bukan karena
kemampuan manusia untuk menolak Allah, dan juga tidak didasarkan kepada
pengetahuan Allah sebelumnya akan hal-hal yang akan terjadi, akan siapa yang
akan menerima dan menolak-Nya. Akan tetapi seperti pada pemilihan, penolakan
ini hanya didasarkan kepada kasih dan keadilan Allah.
Iman
adalah karunia Allah. Dengan iman manusia dapat mengenal yang Maha Benar itu (
I Yoh 5:20), pengenalan akan Allah membawa manusia kepada kehidupan yang kekal
yaitu keselamatan jiwa, tanpa pengenalan akan Allah manusia akan tersesat dan
binasa, namun pada kenyataannya tidak semua manusia mendapatkan karunia Allah
tersebut (iman) untuk dapat mengenal Allah, hanya orang-orang pilihan sajalah
yang mendapatkan karunia tersebut (Kis.13:48).
Sejarah
memberikan kepada kita suatu penggambaran betapa sulitnya memahami karya Allah
dalam hal pelewatan (penolakan) terhadap sebagian orang untuk dibinasakan,
seperti yang diutarakan oleh Harun Hadiwijono “Jikalau demikian, kiranya juga
tidak dapat dikatakan bahwa sejak sebelum dunia dijadikan, Tuhan Allah telah
menolak sejumlah manusia tertentu untuk dihukum. Dan jika demikian maka
penolakan Tuhan Allah tidak mungkin dianggap sebagai garis yang sejajar dengan
pemilihan Tuhan Allah yang bersama-sama di tarik dari kekekalan”[57].
Bagi golongan ini, pemilihan dan reprobasi
menjadi dua hal yang berbeda. Pemilihan memang merupakan keputusan kekal Allah
dalam kekekalan, namun reprobasi menjadi sebuah tindakan Allah di dalam sejarah
berdasarkan kepada penentangan dan kesalahan manusia[58].
Menurut golongan ini, prinsip Alkitab mengenai penolakan adalah merupakan reaksi
Allah terhadap penolakan manusia terhadap Allah, seperti yang dirangkum oleh Van Genderen dan
Velema dengan mengutip pernyataan Bavinck “Hereby we do not deny that scripture
says little about reprobation as an eternal decree and much more about reprobation
as an act in history”[59].
Ada
juga pandangan yang menerima doktrin penolakan ini, namun dengan sedikit
melunakan model penolakan, dalam hal ini, pernyataan bahwa Allah telah menolak
sebagian manusia memiliki penekanan yang berbeda, jika dalam pemilihan Allah
terlibat aktif menggerakkan dan
mengefektifkan anugerah di dalam jiwa manusia dan membawa mereka dalam
iman yang menyelamatkan, maka di dalam kasus “reprobate” Allah tidak bekerja
secara aktif di dalam hati mereka namun hanya melewatkan dan membiarkan mereka
berada dalam keberdosaan mereka[60].
Ada sebuah ketidaksejajaran dalam tindakan Allah terhadap kaum pilihan dan kaum
yang ditolak, walaupun menurut mereka ada kesejajaran akibat dari kedua
tindakan Allah ini.
Apakah
dasar pengajaran tentang penolakan ini, dan apakah memang Alkitab mengajarkan
mengenai penolakan, apakah penetapan Tuhan atas penolakan ini, tidak menjadikan
Dia sebagai penyebab dosa? Ini adalah sekelumit kesulitan dan pertanyaan yang
muncul dalam pembahasan mengenai penolakan ini.
Doktrin
reprobasi adalah bagian yang tidak terelakan sebagai sebuah konsekuensi logis
seperti dua sisi dari mata uang koin, ketetapan akan pemilihan memberikan
sebuah sisi yang lain yaitu penolakan akan sebagian orang, Kata “dipilih”
mengindikasikan bahwa ada yang “tidak dipilih”. Jika kita hanya menerima
pemilihan dan menolak pengajaran akan penolakan, maka hal ini akan memberikan
sebuah inkonsistensi L Boettner
menyatakan “Those who hold the doctrine of election but deny that of
reprobation can lay but little claim to consistency”[61].
Bahkan bukan hanya itu saja, penerimaan akan pemilihan saja dan penolakan
terhadap doktrin reprobate akan menjadikan ketetapan Allah menjadi sesuatu yang
sia-sia dan tidak terarah seperti apa
yang diutarakan oleh Berkhof “ pemilihan dan penolakan mengandung arti bahwa
dalam hal pemilihan dan penolakan, Allah akan menjadikan apapun yang menjadi
efisiensi langsung dari apa yang Ia tetapkan[62].
Pada kenyataannya, Alkitab juga memberikan
beberapa pernyataan tentang doktrin penolakan ini, sekalipun memang di dalam
Alkitab, pembahasan mengenai orang yang dipilih untuk diselamatkan merupakan
prioritas atau lebih banyak dibahas sedangkan mengenai penolakan hanya dibahas
dalam beberapa bagian saja (Ams. 16:4, Mat. 11:20-26; Roma 9:17-18, 21-22; 2 Tim. 2: 19-20; Yud.
1:4 ; I Pet. 2:8, II Pet 2:12, Wahyu 13:8 17:17), ini disebabkan karena Alkitab
merupakan buku tentang kehidupan dan bukan buku mengenai kematian yang dalam
istilah Berkhof disebut sebagai wahyu penebusan[63],
sehingga prioritas utamanya adalah mengenai pemilihan untuk diselamatkan.
Allah
menjadikan segala sesuatu dalam rencana yang agung demi tujuan yang mulia,
begitu juga penolakan terhadap sebagian orang adalah demi keadilan Allah[64],
dan juga penolakan mengajarkan kepada kita untuk terus menerus hidup dalam
kasih Allah dan tidak melepaskan diri dari pimpinan Allah, serta menyadarkan
orang-orang untuk kembali kepada Allah (Roma 11:11)[65].
Dalam
kaitan dengan predestinasi ganda ini, perlu ditinjau kembali pandangan supra
dan infralapsarian mengenai hal ini. Supralapsarian melihat bahwa Allah telah
menetapkan manusia untuk dipilih dan diselamatkan sebelum manusia itu dicipta
dan sebelum ada kejatuhan manusia ke dalam dosa, sedangkan Infralapsarian
melihat hal yang sebaliknya. Namun dari kedua hal ini memberikan sebuah
pemahaman bahwa dosa menjadi sesuatu yang pasti, sehingga memungkinkan untuk
melihat bahwa Allah penyebab dosa.
Memang
Alkitab memang mengajarkan bahwa Allahlah yang merencanakan atau bahkan
menetapkan dosa (Dan. 11:36; Luk. 22:22 ; Kis 2: 23, 4:28), karena tidak ada
satu hal pun yang terjadi di luar ketetapan Allah, menyangkali hal ini sama
dengan menurunkan kapasitas keallahan Allah dan mendorong Dia ke garis tepi
bahkan keluar dari dunia ini secara tidak langsung.
William G. T. Shedd menjelaskan
Whatever
undecreed must be by haphazard and accident. If sin does not occur by the
Divine purpose and permission, it occurs by chance. And if sin occurs by
chance, the deity, as in the ancient pagan theologies, is limited and hampered
by it. He is not 'God over all'. Dualism is introduced into the theory of the
universe. Evil is an independent and uncontrollable principle. God governs only
in part. Sin with all its effects is beyond his sway. This dualism God condemns
as error, in his words to Cyrus by Isaiah, 'I make peace and create evil'; and
in the words of Proverbs 16:4, 'The Lord hath made all things for himself; yea,
even the wicked for the day of evil.[66]
Apakah
Allah pencipta dosa? Alkitab mengajarkan bahwa Allah bukanlah penyebab dosa
(Maz. 5:5, 92: 15; Pengkh. 7:29; Za 8:17; Yak. 1:13, I Yoh 1:5, 3:10), bahkan
dosa adalah kekejian bagi Allah. Lalu, bagaimana dosa masuk ke dalam dunia? Dan
siapakah yang bertanggung jawab? Dr.
A.A. Hodge seperti dikutip Boettner memberikan sebuah penjelasan : “As a fair probation could not,
in the nature of the case, be given to every new member in person as it comes
into existence an undeveloped infant,
God, as guardian of the race its best interests, gave all its members a trial
in the person of Adam under the most favorable circumstances – making him for
that end the representative and personal substitute of each one of his natural
descendants.”[67]
Sejalan
dengan penjelasan Hodge tadi bahwa bahwa, ketetapan Allah tidaklah melepaskan
tanggung jawab manusia, dosa diperhitungkan sebagai pelanggaran dan kesalah
manusia dan bukan Allah. Berkhof memberikan sebuah pernyataan menarik untuk hal
ini, “ketetapan ini hanya menjadikan Allah pembuat dari manusia yang mempunyai
kebebasan moral, yang kemudian, manusia itu sendiri yang menjadi pembuat dosa”[68]. Dosa adalah tanggung jawab manusia karena
Allah tidaklah melakukan suatu perbuatan jahat karena itu bertentangan dengan
natur Allah yang adalah kudus.
Walaupun
begitu, hubungan antara Allah dengan dosa tetaplah merupakan misteri yang tidak
mungkin dapat kita pecahkan, ketetapan Allah yang menjadikan dosa masuk ke
dalam dunia, bukan menunjukkan bahwa Allahlah pencipta dosa. Doktrin
Predestinasi menjadi sebuah jaminan bahwa Allah bukanlah pencipta dosa[69].
Seperti persoalan reprobasi, ini akan tetap
menjadi sebuah misteri buat orang percaya, untuk mengakhiri bagian ini penulis
ingin mengutip pernyataan Bavinck yang dikutip J. Van Genderen dan W. H Velema
dalam Concise Reformed Dogmatics
“No
one has the right to believe that he or she is a reprobate, for everyone is
sincerely and urgently called to believe in Christ with a view to salvation.
No, one can actually believe it, for one’s own life and that makes it enjoyable
is proof that God takes no delight in his death. No one really believes it, for
that would be hell on earth. But election is a source of comfort and streght,
of submissiveness and humility, of confidence and resolution. The salvation of
human beings is firmly established in the gracious and omnipotent good pleasure
of God”[70]
Kesimpulan
Artikel ini
dimulai dengan sebuah pernyataan dari golongan yang menolak doktrin
predestinasi mengenai betapa sukar, sulit dan naifnya doktrin predestinasi
karena melahirkan begitu banyak pertanyaan dan masalah yang tidak terpecahkan
bahkan sepertinya bertentangan dengan nalar dan akal budi manusia seperti yang
telah diutarakan dan dibahas diatas, bahkan, menurut golongan yang menolak
predestinasi, doktrin ini melemahkan semangat untuk memberitakan Injil dengan
pemikiran bahwa tanpa penginjilan sekalipun maka setiap orang yang telah
ditentukan untuk selamat maka pasti akan percaya dengan
sendirinya.
Namun itu bukan berarti bahwa doktrin predestinasi harus
dikuburkan dan tidak perlu dibicarakan, seperti telah diperlihatkan bahwa
doktrin predestinasi adalah doktrin yang diajarkan oleh Alkitab dan merupakan
penyanjungan kepada Allah secara mutlak, Calvin seperti dikutip Edwin H Palmer
menyatakan bahwa “…siapa pun yang menumpuk kebencian atas doktrin predestinasi
hanya mencemarkan nama Allah, seperti seolah-olah Allah membiarkan sesuatu yang
menyakitkan masuk ke dalam Gereja tanpa ada pemberitahuan sebelumnya.”[71]
Pada hakikatnya doktrin ini, bukanlah doktrin yang kaku
seperti yang dituduhkan oleh golongan anti-predestinasi, melainkan doktrin yang
mengatur hubungan antara Allah dengan manusia dengan begitu baiknya karena
doktrin mengajarkan mengenai betapa Allah itu begitu baik bagi manusia, karena
sebelum manusia mampu berespon terhadap Allah, Allah terlebih dahulu memilih
mereka tanpa memperhitungkan perbuatan-perbuatan mereka, Palmer menyatakan
“betapa baiknya Allah yang bukan hanya mengampuni dosa-dosa kita, tetapi juga
mengaruniakan kepada kita iman kepada Kristus agar kita dapat memperoleh
pengampunan dosa.”[72]
Pemilihan ini tidak didasarkan pada syarat yang akan
dipenuhi atau pada kerelaaan atau usaha manusia, tetapi hanya pada kedaulatan
Allah semata, atas anugerah Allah semata, sehingga menjamin sebuah rasa aman
dan kepastian bahwa karena Allah yang memilih maka pilihan Allah tidaklah
mungkin gagal, karena ketetapan Allah mengenai pemilihan tidaklah mungkin
berubah, seperti yang diutarakan oleh
Sproul “Alasan yang membuat orang-orang Kristen sejati tidak dapat kehilangan
anugerah adalah karena Allah dengan murah hati memelihara mereka sehingga tidak
dapat kehilangan anugerah itu. Ketekunan adalah tindakan yang kita lakukan,
sedangkan pemeliharaan merupakan tindakan yang dilakukan olah Allah”.[73]
Doktrin Predestinasi ini juga menyadarkan manusia bahwa kehidupan
yang dihidupinya adalah hidup yang diciptakan dan diberikan oleh Allah, dan
karena itu boleh yakin bahwa hidup ini adalah hidup terbaik sehingga dapat
terus bersyukur kepada Allah dalam segala berkat maupun masalah yang dihadapi,
seperti tertuang di dalam Roma 8:28-30 “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja
dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi
Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.Sebab semua
orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula
untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi
yang sulung di antara banyak saudara. Dan mereka yang ditentukan-Nya dari
semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka
itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga
dimuliakan-Nya.
Pemahaman yang benar akan doktrin ini, akan melahirkan
sebuah semangat dalam penginjilan. Seperti yang diutarakan oleh Yakub Tri Handoko
“Kita tidak patah semangat dalam memberitakan Injil kepada orang yang keras
hati, karena kalau orang itu ditetapkan Allah untuk selamat, orang itu suatu
ketika pasti akan selamat. Sebaliknya, kita tetap akan rendah hati ketika Injil
yang kita beritakan diterima orang, karena itu murni pekerjaan Allah.”[74]
[1]
Louis Berkhof, Doktrin Allah (Surabaya: Momentum, 1993) hlm 179
[2]
R. C Sproul, Kaum Pilihan Allah (Malang: SAAT, 1995) hlm 15
[3]
Yohanes Calvin, Institutio (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2009) hlm 50
[4]
B. B Warfield, Biblical and Theological Studies (New York: Oxford
University, 1929) hlm 276
[5]
Charles Hodge, Systematic Theology Vol II (Grand Rapids: Eerdmans, 1952)
hlm 313
[6]
Yohanes Calvin, Institutio (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2009) hlm 193
[7]
G.I Williamson, Pengakuan Iman Westminster (Surabaya: Momentum, 2006)
hlm 50
[8]
R. C Sproul, Kebenaran-Kebenaran Dasar Iman Kristen (Malang: SAAT, 2008)
hlm 215
[9]
Dalam hal ini, menurut kaum anti-predestinasi, penerimaan akan doktrin ini
memberikan indikasi bahwa Allahlah pembuat dosa, dan juga Allahlah yang harus
bertanggung jawab atas adanya dosa (lihat Nuban Timo; Pemberita Firman Pecinta
Budaya, Bab VI (hlm 151)
[10]
Menjijikan bagi natur manusia dikarenakan, jika menerima doktrin predestinasi,
menurut kaum anti-predestinasi adalah penyangkalan terhadap pra-pengetahuan
Allah sebelumnya, bahwa pilihan Allah atas manusia yang akan menerima kehidupan
kekal berdasarkan pengetahuan Allah atas apa yang akan dipilih manusia pada
masa yang akan datang; Allah memilih kita karena Ia telah mengetahui sebelumnya
bahwa kita akan memilih Dia.
[11]
Lihat penjelasan Berkhof dalam doktrin Allah mengenai doktrin predestinasi
dalam sejarah (hlm 197 – 202) dan juga Milard J. Erickson, Teologi Kristen
Volume III hlm 100-110
[12]
Louis Berkhof, Doktrin Allah ( Surabaya : Momentum, 2008 ) hlm 201
[13]
A. Naftalino, Koreksi Terhadap Predestinasi (Jakarta: Logos Publicizing,
….) hlm 152
[14]
Ibid… hlm 140
[15]
Jadi bukan manusianya yang dipredestinasi tetapi cara bagaimana keselamatan
akan dinyatakan, itu yang ditetapkan, atau ditentukan sejak dunia dijadikan.
[16]
Lebih jelas Harun Hadiwijono dalam buku Iman Krsiten halaman 295-296 berkaitan
dengan pandangan ini menjelaskan bahwa pemilihan orang beriman untuk
diselamatkan itu terjadi di dalam Kristus (Ef.1:4), menurut kata Yunaninya,
kata “di dalam” berarti berakar pada atau bersandar” sehingga pemilihan Tuhan
Allah yang bebas merdeka, yang
berdasarkan kasih karuniaNya itu senantiasa dihubungkan atau dipersekutukan
dengan karya penyelamatan Kristus.
Dipilih di dalam Kristus berarti, bahwa dasar atau akar keselamatan kita
ada pada Kristus, demikian juga sandaran dan pelaksanaan keselamatan kita.
Kristus menjadi pusat dan penyataan atau pengungkapan pemilihan Allah, maka
Kristus mencakup seluruh keselamatan manusia.
[17]
Harun Hadiwijono, Iman Kristen (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2010) hlm 292
[19]
Calvin seperti di kutip Erickson dalam bukunya Teologi Kristen Volume III
halaman 108, bahwa studi terhadapa doktrin predestinasi bukan sekedar kegiatan
intelektual saja, namun berdampak praktis juga
[20]
Millard J Erickson, Teologi Kristen
Volume III (Malang: Gandum Mas, 2004) hlm 99
[21]
R. C Sproul, Kaum Pilihan Allah …. Hlm 12
[22]Kamus
elektronik Babylon
[23]
R.C Sproul, Kebenara-Kebenaran Dasar
Iman Kristen … hlm 215
[25]
Millard J. Erickson, Teologi Kristen (Malang: Gandum Mas, 1999) hlm 449
[26]
Ibid. hlm 452
[27]
Kata ini muncul di dalam PB sebanyak 6 kali, Kisah. 4:28, Roma 8:28-29, 1 Kor.
2:7, Ef. 1:5, 11
[28]
Paul Enns, The Moody Handbook Of Theology (Malang: SAAT, 2008) hlm 406
[29]
Johanes Calvin, Commentaries on the Epistle of Paul the Apostle to the
Romans (Grand Rapids: Eerdmans, 1995), pg 364-366
[30]
J. Van Genderen dan W.H Velema, Concise Reformed Dogmatics (New
Jersey: Publishing, 2008) hlm 220
[32]
e-swort version…, no page
number.
[33]
Louis Berkhof, Doktrin Allah… hlm 221-222
[34]
Louis Berkhof, Doktrin Allah, hlm 226-227
[35]
Louis Berkhof, Doktrin Allah, hlm 230
[36]
John M Frame, Apologetika Bagi Kemuliaan Allah (Surabaya: Momentum,
2009) hlm 15
[37]
Yohanes Calvin, Institutio … hlm 206
[38]
John Owen, Kemuliaan Kristus (Surabaya: Momentum,1998) hlm 102
[39]
Pada kesempatan ini, penulis hanya akan membahas mengenai kedua hal ini yaitu
(1) mengenai konsep predestination disejajarkan dengan kehendak bebas
manusia (2) persoalan mengenai single
predestinasi dan double predestination, pandangan-pandangan yang muncul
berkaitan dengan kaum pilihan dan kaum reprobate.
[40]
Loraine Boettner, Reformed Doctrine (New Jersey: Presbyterian and
Reformed Publishing Company, 1932) hlm 208
[41]
Edwin H Palmer, Lima Pokok Calvinisme
(Surabaya: Momentum, 2005) hlm 126
[43]
Mereka menyatakan bahwa ketetapan Allah adalah ketetapan yang didasarkan kepada
pengetahuan Allah yang telah di miliki sebelumnya oleh Allah, bahwa Allah tahu
siapa yang akan memilih untuk percaya dan siapa yang tidak ; dalam hal ini
ketetapan Allah bersifat kondisional, sehingga pemikiran ini juga seringkali
disebut predestinasi kondisional (pemilihan Allah di dasarkan kepada
pengetahuannya kepada siapa yang akan percaya kepada Allah)
[44]
Loraine Boettner, Reformed Doctrine … hlm 210
[45]
Edwin H Palmer, Lima Pokok Calvinisme (Surabaya: Momentum, 2005) hlm 128
[46]
Penjelasan lebih lanjut untuk hal ini dapat di baca dalam Loraine Boetner,
Doctrine Reformed hlm 210
[47]
Edwin H Palmer, Lima Pokok Calvinisme… hlm 129
[48]
J. I Packer dalam buku Penginjilan dan Kedaulatan Allah (hlm 9) lebih menyukai
istilah antinomy ketimbang paradox, karena menurut Packer istilan antinomy
lebih merujuk kepada dua kebenaran yang tampaknya tidak bersesuaian namun tidak
benar-benar berkontradiksi.
[49]
Loraine Boettner, The Reformed Doctrin of Predestination, … hlm 38
[50]
Arthur W. Pink, The Sovereignty of God… hlm 9
[51]
Charles hodge, Systematic Theology Vol II, … hlm 336
[52]
Orang-orang yang ditolak ini disebut dengan kaum reprobat
[53]
Louis Berkhof, Doktrin Allah… hlm 212
[54]
Preterisi berasal dari kata latin praeter [oleh/melalui] + Ire [pergi] yang
berarti melewati. Di dalam menetapkan beberapa orang yang akan diselamatkan,
Allah telah memilih beberapa orang dan melewatkan yang lain, menurut Calvin,
Preterisi bukanlah sekedar deduksi logis dari pemilihan, sebaliknya preterisi
adalah definisi dari pemilihan Allah yang alkitab sendiri ajarkan, pemilihan
tanpa preterisi hanyalah suatu istilah theologies yang kosong dan sia-sia,
suatu ide mitos dari pikiran yang tidak beres (Lih. Edwin H Palmer, Lima Pokok
Calvinisme hlm 164).
[55]
Penghukuman. Mereka yang dilewatkan oleh Allah akan di hukum secara kekal oleh
karena dosa-dosa mereka sendiri. Beberapa teolog cenderung untuk membatasi
reprobasi hanya sampai pada pada preterisi saja.
[56] J. Van Genderen dan W.H Velema, Concise Reformed Dogmatics (New
Jersey: Publishing, 2008) hlm 231
[57]
Harun Hadiwijono, Iman Kristen, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2005) hlm
297
[58]
Harun Hadiwijono, Iman Kristen, hlm 297
[59]J. Van Genderen dan W.H Velema, Concise Reformed Dogmatics (New
Jersey: Publishing, 2008) hlm 233
[60]
R. C Sproul, Kebenaran-Kebenaran Dasar Iman Kristen, hlm 220
[61]
Loraine Boetner, Reformed Doctrine, hlm 105
[62]
Louis berkhof, Doktrin Allah… hlm 213
[63]
Louis Berkkhof, Teologi Sistematika, Doktrin Allah… hlm 215
[64]
Loraine Boetner, Reformed Doctrine, hlm 121
[65]
Lihat penjelasan Loraine Boetner mengenai Roma 11:11, dalam buku Reformed
Doctrine hlm 122
[68]
Louis Berkhof, Doktrin Allah, hlm 195
[69]
Robert Duncan Culver, Systematic Theology Biblical and Historical
(Germany:Mentor Imprint, 2005) hlm 139
[70]
J. Van Genderen and W. H. Velema, Concise Reformed Dogmatics …235
[71]
Edwin H. Palmer, Lima Pokok Calvinisme … hlm 188
[72]
Ibid, hlm 51
[73]
R. C. Sproul, Kaum Pilihan Allah, hlm 166