Di dunia ini, selain Yesus belum pernah ada manusia yang mengalami penderitaan seberat yang dialami oleh Ayub, di mana dia kehilangan semua yang begitu berharga hanya dalam selang waktu yang tidak lama, hartanya semua raib dalam hitungan menit, belum selesai dengar berita tentang hartanya yang hilang semua anak-anaknya mati dengan cara yang sangat mengenaskan, dan belum selesai sampai di situ saja tetapi juga dia mengalami suatu penyakit di sekujur tubuhnya (penyakit yang bagi saya, bukan hanya sakit tetapi juga memalukan), dan ternyata penderitaan ini tidak berhenti disitu saja, justru disaat-saat di mana dia (Ayub) membutuhkan dorongan moril dan semangat dari orang-orang yang dia kasihi dan dia sayangi yang ada justru penolakan dan cercaan serta penghakiman yang dia peroleh dari istrinya (orang yang sangat dekat dan paling di harap untuk menolong dia pada waktu seperti ini) bahkan teman-teman yang dari jauh yang datang untuk menghibur dia (yang menurut saya juga sangat di harapkan oleh Ayub untuk mendengarkan keluhan-keluhannya dan persoalannya) justru menghakimi dia...bahkan ketika Ayub berkata bahwa dia telah hidup menurut apa yang TUHAN perintahkan tidak ada yang mempercayainya...
Maka berkatalah isterinya kepadanya: "Masih bertekunkah engkau dalam kesalehanmu? Kutukilah Allahmu dan matilah!" (Ayub 2: 9)
Maka berbicaralah Elifas orang Teman ............... Camkanlah ini siapa binasa dengan tidak bersalah, dan dimanakah orang jujur dipunahkan? yang kulihat ialah bahwa orang yang membajak kejahatan dan menabur kesusahan, ia menuainya juga mereka binasa oleh nafas Allah dan lenyap oleh hembusan hidung-Nya (Ayub 4: 1, 7-9) ....... dan dapat dilihat dalam keseluruhan pasal 4, 5, 15
Maka berbicaralah Bildad orang Suah......... masakan Allah membengkokkan keadilan? masakan yang mahakuasa membengkokkan kebenaran? ..... Ketahuilah Allah tidak menolak orang yang saleh? dan Ia akan memegang tangan orang yang berbuat jahat. (Ayub 8: 1, 3, 20) .... dan dapat dibaca dalam Ayub psal 8 secara keseluruhan, pasal 18, 25
Maka berbicaralah Zofar orang Naama... Jika engkau menjauhkan kejahatan dalam tanganmu, dan tidak nenbiarkan kecurangan ada dalam kemahmu (Ayub 11: 1, 14) .... dan dapat dibaca dalam keseluruhan pasal 11, 20, 22
bagaimana teman-teman Ayub menyatakan bahwa semua yang Ayub alami adalah akibat dari dosa yang dia perbuat, dan ketidakmengertian dia akan keadilan Allah, bahwa Allah pasti menghukum orang berdosa.
sungguh suatu penderitaan yang tidak terkira, secara fisik dia telah terluka, namun yang sangat menyiksa adalah tekanan batin yang di berikan oleh teman-temannya bahwa semua yang Ayub alami adalah akibat dosa yang telah dia perbuat...
dunia sekan runtuh bagi Ayub, atau dengan kata pepatah sudah jatuh tertimpa tangga lagi, sudah tidak ada yang percaya lagi kepada Ayub, semua pergi dari Ayub. ironis memang, kalau saya sedikit berandai-andai jika Ayub tidak memiliki hati yang tegar mungkin saja dia sudah kena stroke, strees atau bahkan bunuh diri. semua yang pernah dia bantu ketika dia masih kaya justru tidak ada yang datang menghibur dia, kehidupannya yang dahulu bahagia di kelilingi oleh begitu banyak orang di sekitar dia ketika dia kaya, justru tidak ada satupun yang memunculkan batang hidungnya ketika dia mengalami musibah...!!!
Mengenaskan,,, saya tidak bisa bayangkan bagaimana perasaan Ayub pada saat itu, dia yang selalu membantu orang lain, menolong orang pada saat susah, menghibur orang yang sedang berdukacita, atau dengan kata lain selalu ada buat orang lain ketika orang lain membutuhkan, namun ketika dia membutuhkan orang lain bahkan sangat-sangat membutuhkan justru mereka semua pergi menjauh bahkan yang datang hanya celaan, hinaan dan penghakiman bahwa dia berdosa dan layak untuk mendapatkan hukuman.
seringkali kita ada dalam posisi Ayub (walau secara kuantitas dan kualitas penderitaan berbeda). kita mengalami suatu penderitaan yang datang bertubi-tubi, mungkin kehilangan saudara, orang tua, sahabat atau orang yang kita kasihi dalam waktu yang bersamaan atau dalam kurun waktu yang dekat, dan juga ketika kita mengharapkan adanya dorongan moril, penghiburan dari orang-orang di sekitar kita tetapi yang terjadi justru mereka menjauhi kita, mencela, menghina, menghakimi dan menertawakan penderitaan kita. mungkin tidak masalah jika yang menghina kita adalah orang yang memang membenci kita, tapi jika adalah orang yang selalu kita tolong dan selalu ada dengan kita adalah sesuatu yang sangat menyakitkan. sehingga dalam kondisi seperti ini kita bisa berkata "lebih baik memiliki 10 lawan yang berkompeten daripada seorang teman yang bodoh" hehehhe
atau justru seringkali kita berada dalam posisi sebagai teman-teman Ayub yang bisa nya hanya menghakimi, menggurui dan mencela? ini saatnya kita instropeksi diri masing-masing, dan berdoa kepada TUHAN supaya kita diberi kebijaksanaan dalam menanggapi suatu persoalan yang ada,tidak cepat menghakimi.
dan jika kita ada dalam posisinya Ayub marilah kita belajar untuk melihat bahwa di balik setiap peristiwa pasti ada rencananya TUHAN yang indah, karena TUHAN mempunyai rencana yang beda buat masing-masing ciptaannya. dan jangan pernah kita menyesali satu haripun dalam hidup ini, karena hari yang baik adalah untuk kebahagian tetapi hal yang buruk ada untuk menjadi pengalaman dan kiranya juga kita belajar untuk mengampuni dan mendoakan orang-orang yang telah menghina kita seperti Ayub. Ayub 42: 10, milikilah hati yang lapang untuk menampung semua kepahitan dan tetap berdoa kepada TUHAN. jangan pernah menyerah ketika menghadapi suatu permasalahan, karena kalo kita menyerah maka kita akan menjadi sterss dan stroke...wkwkwkkww....peac
e...!!!
semoga ada yang menambahkannya pada komentar-komentarnya supaya semakin jelas apa yang harus kita perbuat ketika semua pergi meninggalkan dan menjauhi kita...!!! Tuhan memberkati
Hal yang sangat menyedihkan adalah saat kau jujur pada temanmu, dia berdusta padamu… Saat dia telah berjanji padamu, dia mengingkarinya…. Saat kau memberikan perhatian, dia tidak menghargainya…
Hal yang sangat menyakitkan adalah saat kau mengirimkan e-mail pada temanmu, dia menghapus tanpa membacanya… Saat kau membutuhkan jawaban dari e-mailmu, dia tidak menjawab dan mengacuhkannya… Saat bertemu dengannya dan ingin menyapa, dia pura2 tidak melihatmu… Saat kau mencintainya dengan tulus tapi dia tidak mencintamu… Saat dia yang kau sayangi tiba2 memutuskan hubungannya denganmu…
Hal yang sangat mengecewakan adalah kau dibutuhkan hanya pada saat dia dalam kesulitan… Saat kau bersikap ramah, dia terkadang bersikap sinis padamu… Saat kau butuh dia untuk berbagi cerita, dia berusaha untuk menghindarimu…
Jangan pernah menyesali atas apa yang terjadi padamu… Sebenarnya hal-hal yang kau alami sedang mengajarimu…
Saat temanmu berdusta padamu atau tidak menepati janjinya padamu atau dia tidak menghargai perhatian yang kau berikan…. sebenarnya dia telah mengajarimu agar kau tidak berprilaku seperti dia…
Saat temanmu menghapus e-mail yang kau kirim sebelum membacanya atau saat bertemu dengannya dan ingin menyapa, dia pura2 tidak melihatmu… sebenarnya dia telah mengajarkanmu agar tidak berprasangka buruk & selalu berpikiran positif bahwa mungkin saja dia pernah membaca e-mail yang kau kirim… atau mungkin saja dia tidak melihatmu…
Dan saat dia tidak menjawab e-mailmu… sebenarnya dia telah mengajarkanmu untuk menjawab e-mail temanmu yang membutuhkan jawaban walaupun kau sedang sibuk dan jika kau tidak bisa menjawabnya katakan kalau kau belum bisa menjawabnya jangan biarkan e-mailnya tanpa jawaban karena mungkin dia sedang menunggu jawabanmu…
Saat kau mencintainya dengan tulus tapi dia tidak mencintaimu atau dia yang kau sayangi tiba2 memutuskan hubungannya denganmu sebenarnya ….Dia sedang mengajarimu untuk menerima rencanaNya…
Saat kau bersikap ramah tapi dia terkadang bersikap sinis padamu… sebenarnya dia sedang mengajarimu untuk selalu bersikap ramah pada siapapun…
Saat kau butuh dia untuk berbagi cerita, dia berusaha untuk menghindarimu… sebenarnya dia sedang mengajarimu untuk menjadi seorang teman yang bisa diajak berbagi cerita, mau mendengarkan keluhan temanmu dan membantunya…
Bila kau dibutuhkan hanya pada saat dia sedang dalam kesulitan… sebenarnya juga telah mengajarimu untuk menjadi orang yang arif & santun, kau telah membantunya saat dia dalam kesulitan…
Begitu banyak hal yang tidak menyenangkan yang sering kau alami atau bertemu dengan orang2 yang menjengkelkan, egois dan sikap yang tidak mengenakkan… Dan betapa tidak menyenangkan menjadi orang yang dikecewakan, disakiti, tidak dipedulikan/dicuekin, tidak dihargai, atau bahkan mungkin dicaci dan dihina…
Yang paling berharga adalah.Sebenarnya orang2 tsb. sedang mengajarimu untuk melatih membersihkan hati & jiwa, melatih untuk menjadi orang yang sabar dan mengajarimu untuk tidak berprilaku seperti itu…
Mungkin Tuhan menginginkan kau bertemu orang dengan berbagai macam karakter yang tidak menyenangkan sebelum kau bertemu dengan orang yang menyenangkan dalam kehidupanmu dan kau harus mengerti bagaimana berterimakasih atas karunia itu yang telah mengajarkan sesuatu dalam hidupmu.
Setelah cukup lama tidak mempost sebuah catatan lagi, saya berpikir untuk menuliskan lagi sesuatu kali ini. Ini terinspirasi dari tidur saya semalam (kamis 19 November 2009) di mana saya bermimpi tentang seorang teman saya yang cukup dekat dengan saya (ya, walaupun saya tidak terlalu percaya dan pada mimpi, karena bagi saya mimpi adalah bunga tidur yang sering kita dapat ketika kita kelelahan namun saya namun saya masih memberi sedikit ruang untuk setidaknya melihat bahwa terkadang mimpi di pakai oleh TUHAN untuk mengingatkan kita, walaupun ini tidak mutlak) seperti kisah Yusuf dll… hehehhe
Karena Allah berfirman dengan satu dua cara, tetapi orang tidak memperhatikannya. Karena Allah berfirman dengan satu dua cara, tetapi orang tidak memperhatikannya. Dalam mimpi, dalam penglihatan waktu malam, bila orang nyenyak tidur, bila berbaring di atas tempat tidur,(ayub 33:14-15)
Dalam mimpi itu saya melihat seorang teman saya, yang cukup dekat dengan saya sedang bergaul dengan seseorang yang saya tidak tahu siapa, tetapi pergaulannya itu sudah menuju kepada suatu keadaan di mana teman saya ini di bawa untuk menjauh dari TUHAN, dan mimpi ini saya dapat dua kali karena pada mimpi yang pertama saya terbangun kemudian tidur lagi dan masih saja bermimpi hal yang sama…dan ketika pagi terbangun saya teringat akan perkataan Rasul Paulus kepada jemaat di Korintus
Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik. Sadarlah kembali sebaik-baiknya dan jangan berbuat dosa lagi! Ada di antara kamu yang tidak mengenal Allah. Hal ini kukatakan, supaya kamu merasa malu. (I Korintus 15:33-34)
Manusia dilahirkan sebagai makhluk religius, makhluk yang tahu bahwa ada TUHAN, sehingga tidak ada manusia yang lahir sebagai Atheis. Dan juga manusia dilahirkan sebagai makhluk sosial, makhluk yang membutuhkan sesama untuk membantunya, tidak ada manusia yang dapat hidup sendiri, Tarzan yang dalam ceritanya dibesarkan di hutan saja, masih butuh gorilla untuk membantu dia hidup, bahkan ketika dia bertemu dengan sesama manusia di dalam hutan itu saja, dia masih membutuhkan manusia yang lain untuk membantu dia menjaga kelestarian hutan di mana dia tinggal, ini membuktikan bahwa manusia selalu adalah makhluk yang ingin membangun’ relasi dengan orang-orang di sekitarnya (kita saja punya teman yang banyak di daftar facebook kita kan? Hehehehhe). Baik itu relasi dalam bentuk hubungan keluarga, saudara atau persahabatan, dan kali ini saya mencoba menyoroti relasi persahabatan itu.
Ada sebuah kata-kata yang pernah say a baca ‘jika ingin menjadi seorang penulis, bergaullah dengan seorang penulis, begitu juga jika ingin menjadi seorang penjahat dan buronan bergaullah dengan seorang penjahat dan buronan’, artinya ingin menjadi apa kita kelak dibentuk dan dipengaruhi oleh dan dengan siapa kita bergaul sekarang. Mungkin ada yang berkata ini tidak mutlak, ya dan memang tidak mutlak tapi kebanyakan yang terjadi adalah seperti itu. Dalam ilmu psikologi di kenal dengan yang namanya factor eksternal yang mempengaruhi seseorang dan salah satunya lingkungan (hehehehehe…sok tau gw tentang psikologi)
Back to topic… Pergaulan, persahaban itu punya pengaruh yang cukup signifikan dalam hidup kita, (Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik) Rasul Paulus mengingatkan itu kepada jemaat di Korintus, sebuah jemaat yang cukup besar dan jemaat yang dikaruniai banyak kasih karunia dari TUHAN, bahwa ‘ada diantara mereka(jemaat) yang tidak mengenal Allah’ sesuatu yang cukup mencengangkan di dalam jemaat (yang notabene menyebut dirinya Kristen) tapi ada yang tidak mengenal Allah. ini jadi pelajaran penting buat kita bahwa dalam persekutuan kita ternyata ada orang yang tidak mengenal Allah (saya berpikir untuk tidak menjelaskan kenapa Paulus menyebut mereka tidak mengenal Allah karena itu sudah termuat sangat jelas dalam keseluruhan suratnya kepada jemaat di korintus). Ini yang berbahaya, karena terkadang kita tertipu dengan penampilan seseorang, kelihatanya dia baik, care dan ya cukup ganteng, cantik atau rohani, tetapi ini tidak cukup karena yang harus kita cari adalah orang yang mengenal Allah, mengenal bukan hanya sekedar dalam pengetahuan saja tetapi juga dalam persekutuan dengan TUHAN.
INTINYA JIKA KITA INGIN MENCARI SAHABAT, CARILAH SAHABAT YANG DAPAT MEMBAWA KITA MAKIN DEKAT DENGAN TUHAN, MAKIN RINDU MEMPELAJARI FIRMAN TUHAN DAN MAKIN BERTUMBUH DALAM IMAN, KASIH DAN PENGHARAPAN KEPADA TUHAN (dan semoga gw salah satunya…hehehehehe…becanda
) Persahabatan diwarnai dengan berbagai pengalaman suka dan duka, dihibur - disakiti, diperhatikan - dikecewakan, didengar - diabaikan, dibantu - ditolak, namun semua ini tidak pernah sengaja dilakukan dengan tujuan kebencian. Seorang sahabat tidak akan menyembunyikan kesalahan untuk menghindari perselisihan, justru karena kasihnya ia memberanikan diri menegur apa adanya. Sahabat tidak pernah membungkus pukulan dengan ciuman, tetapi menyatakan apa yang amat menyakitkan dengan tujuan sahabatnya mau berubah.
Lalu bagaimana jika kita sudah terlanjur bersahabat dengan orang yang membawa kita makin jauh dari TUHAN? Paulus bilang dalam suratnya ‘Janganlah kamu sesat…dan juga Sadarlah kembali sebaik-baiknya dan jangan berbuat dosa lagi!, mungkin ada yang bilang masa kita tidak boleh bersahabat dengan orang berdosa untuk memenangkan mereka? Dalam surat ini konteksnya berbeda, dalam bagian ini orang-orang yang percaya sudah terpengaruh pada ajaran-ajaran dari orang yang tidak mengenal Allah sehingga Paulus bilang sadarlah, nah kita bisa saja bersahabat dengan orang-orang tersebut asalkan kita yang mempengaruhi mereka untuk jadi lebih baik dan bukan mereka yang mempengaruhi kita. Tetapi kenyataan yang sering terjadi bagaimana???
Tidak ada persahabatan yang diawali dengan sikap egoistis. Semua orang pasti membutuhkan sahabat sejati, namun tidak semua orang berhasil mendapatkannya. Banyak pula orang yang telah menikmati indahnya persahabatan, namun ada juga yang begitu hancur karena dikhianati sahabatnya.
Ingatlah kapan terakhir kali kamu berada dalam kesulitan. Siapa yang berada di samping kamu ?? Siapa yang mengasihi kamu saat kamu merasa tidak dicintai ?? Siapa yang ingin bersama kamu saat kamu tak bisa memberikan apa-apa ? dan siapa yang membuat kamu untuk terus yakin bahwa TUHAN YESUS tidak pernah meninggalkan mu?
Yesus Kristus adalah satu-satunya Juruselamat dunia (Yoh. 14:6). Pengakuan ini bukanlah hanya sebuah pengakuan yang dibuat-buat oleh Gereja mula-mula atau para pengikut-Nya pada abad mula-mula, tetapi pengakuan ini adalah sebuah pengakuan yang benar-benar lahir dari sebuah hasil pengujian yang kompeherensif terhadap suatu runtutpemikiran yang logis, lahir dari pengujian empiris yang kokoh dan juga lahir dari sebuah iman yang sejati, iman yang didasarkan kepada Alkitab sebagai satu-satunya Firman Allah, dan yang juga harus selalu diingat bahwa pengakuan ini datangnya dari pihak Tuhan yang memampukan kita untuk mengakui ini melalui karya Roh Kudus bukan karena kita memiliki kemampuan itu ( Matius 16:17)
Yesus Kristus layak menjadi satu-satunya Juruselamat dunia, karena dari lahir, kehidupan sampai mati-Nya, Dia menunjukkan bahwa kepenuhan Allah ada di dalam diri-Nya, bahkan Dia adalah Allah sejati (Yoh.1:1). Allah yang menjadi sama dengan manusia untuk menyelamatkan dan menebus manusia dari dosa dan penghukuman yang sepatutnya ditimpakan kepada manusia. Di dalam sejarah kehidupan manusia, tidak pernah ada manusia yang seperti Dia. Musa, Daud, Socrates, Plato, Kong Fu Tze, Muhammad, Mahatma Gandhi, Bunda Teresa, bahkan Barack Obama yang begitu familiar pada saat ini atau siapapun tidak ada yang sama seperti Yesus, Yesus begitu berbeda, begitu agung, begitu mulia dan begitu tinggi jika dibandingkan dengan semua manusia yang pernah ada dan hidup di dunia ini.
Kini kita berada di Bulan Desember. Bulan Desembermenjadi bulan dimana orang percaya merayakan kelahiran Yesus di tengah dunia yakni tanggal 25 Desember. Meski dari sudut sejarah tak ada tanggal paling pasti tentang kelahiran Yesus, namun perayaan Natal per 25 Desember sudah menjadi tradisi Kristen berabad-abad, karena makna perayaan hari besar suatu agama tidak mesti bertempat pada akurasi hitungan hari dan tanggal, tapi bagaimana merevitalisasi makna-makna di balik perayaannya dan bagaimana melalui perayaan tersebut manusia diingatkan bahwa hanya karena kasih Allah mau turun ke dalam dunia, di dalam kandang yang hina, menjadi sama dengan manusia untuk menebus dan menyelamatkan manusia. “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, Tuhan kita, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Yoh. 3:16)
Persoalan mengenai apakah mungkin Allah menjadi manusia dalam diri Yesus Kristus merupakan suatu persoalan yang cukup pelik karena konsep Allah menjadi manusia adalah suatu konsep yang tidak dapat diterima oleh akal manusia (tetapi ini tidak berarti bahwa konsep ini adalah konsep yang irasional justru sebaliknya konsep ini adalah konsep yang supra-rasional (melampaui akal manusia) sehingga seharusnya ketika manusia tidak dapat mengerti akan persoalan ini maka manusia harus menyadari bahwa pekerjaan Allah tidak dapat manusia selami dengan akal mereka (Pengkhotbah 8:17), karena jika manusia dapat memahami keseluruhan pekerjaan Allah maka Allah tidak layak disebut sebagai Allah lagi. Tetapi kenyataan yang terjadi justru sebaliknya! Manusia yang tidak memahami persoalan ini dengan akal mereka menyatakan bahwa konsep ini harus ditolak, harus dibuang dengan alasan-alasan superioritas ilmu pengetahuan dan keselarasan akal mereka…!!! Bagi kebanyakan orang Yesus sebenarnya bukan Allah karena tidak mungkin Allah menjadi Allah yang terbatas dalam waktu dan materi dalam tubuh lemah manusia bahkan dalam tubuh kecil, miskin, papah dan hina yaitu dalam sebuah bayi kecil karena Allah adalah Roh (Yoh. 4:24) bahkan Roh yang mahatinggi, Dia ada dengan sendirinya dan Dia sempurna tanpa batas.Sehingga bertolak dari pemahaman ini begitu banyak orang yang menolak mengakui bahwa Yesuslah Tuhan dan Allah sejati.
Berbicara tentang Allah menjadi manusia dalam diri Yesus Kristus yang berkaitan dengan Natal maka seharusnya kita tidak boleh melepaskan diri dari pemahaman yang Alkitab berikan tentang misteri Inkarnasi dan juga tentang Kenosis dan bukannya harus bergantung dan berharap kepada akal manusia, karena akal manusia dapat juga salah, akal manusia juga dapat menyesatkan bahkan Alkitab berkata bahwa tidak ada seorangpun yang berakal budi (Roma 3: 11) bagaimana Allah dengan rela mengosongkan diri dan mengambil rupa seorang hamba dan menjadi sama dengan manusia agar kita dapat memahami dengan jelas makna daripada natal tersebut, “yang walaupun dalamrupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipethankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri (Kenosis) dan mengambil rupa seorang hamba dan menjadi sama dengan manusia (Fil. 2:6-7).
Kata inkarnasi sendiri berasal dari bahasa latin yang terdiri dari 2 kata yaitu in yang berarti masuk dan carne yang berarti daging jadi Inkarnasi berarti masuk ke dalam daging, jadi inkarnasi dalam pengertian yang ditujukan kepada Yesus adalah Yesus Kristus yang adalah Allah, Allah yang adalah Roh, turun ke dalam dunia dan mengambil tubuh sebagaimana tubuh kita sekarang. Kita sulit untuk merenungkan secara tuntas atau menghayati kedalaman maknanya. Kita memiliki tubuh dan daging, di mana ketika dikatakan Kristus menjadi daging, lalu kita melihat diri kita, maka Kristus menjadi seperti kita. Kita tidak mengerti secara tuntas perendahan itu seperti apa karena kita tidak pernah bereksistensi sebagai Roh seperti Allah dan para malaikat. Ini menunjukkan betapa agung dan betapa mulia dan betapa hebatnya pekerjaan Allah. Inkarnasi dalam pengertian secara konsep mudah dipahami, tetapi dalam penghayatan begitu sulit untuk mengerti. Ini tidak berarti ada dualisme antara konsep dan penghayatan, bukan! Melainkan justru konsep itu sungguh-sungguh kita mengerti ketika kita juga menghayatinya. Di dalam iman Kristen kadang-kadang kita justru kagum di dalam kekurang-mengertian secara tuntas, kita kagum dan terharu, dan di dalam keadaan seperti itulah kita mengasihi dan menyembah Tuhan kita.
Theologia Reformed memiliki inti doktrin yaitu kedaulatan Allah, di mana salah satunya Inkarnasi adalah bentuk kedaulatan Allah. Artinya, Allah yang Berdaulat adalah Allah yang Berdaulat membatasi diri-Nya yang kekal untuk menjadi manusia yang terbatas. Jika Allah tidak bisa menjadi manusia, masih layakkah Allah disebut Allah ? Di sini, kegagalan konsep sebuah agama (antroposentris) yang mati-matian mengatakan Yesus itu hanya manusia/nabi saja dan bukan Allah. Di dalam Inkarnasi Kristus, Kekekalan bertemu dengan kesementaraan, sehingga kesementaraan memiliki makna hidup di dalam perspektif Kekekalan. Sehingga kalau Kristus tidak pernah menjadi manusia di dalam Inkarnasi, bagaimana jadinya hidup manusia yang sementara ini ?Hidup yang tidak berada di dalam perspektif kekekalan Kristus adalah hidup yang sia-sia dan tanpa pengharapan. Natal…!!! Kristus turun untuk membawa manusia ke atas, kembali kepada Allah.
Tradisi yang berkembang di NTT ketika merayakan Natal adalah natal identik dengan rumah yang di cat baru, dan banyak lagi yang “berbau baru” tetapi orang Kristen telah melupakan makna Natal yang sesungguhnya.Natal berarti Allah yang begitu tinggi dan kekal masuk ke dunia yang rendah dan sementara agar yang sementara dan rendah itu memiliki arti. Inilah Natal sehingga ketika kita mempersiapkan diri kita untuk merayakan Natal adalah bagaimana kita membuat hidup kita menjadai garam dan terang, menjadi saksi buat Tuhan.
Alkitab memberi kesaksian kepada kita, bahwa dalam peristiwa Natal bagaimana Tuhan membatasi diri ketika Allah menjadi manusia, bahkan Allah bukan turun di tempat yang terhormat, bukan sebagai anak raja atau bangsawan tetapi justru Allah turun dari tempat yang paling tinggi menuju tempat yang paling rendah diantara semua manusia, bahkan kelahiran-Nya saja tidak memiliki tempat. Benarlah apa yang Yesus sendiri katakan kepada murid-murid-Nya bahwa serigala mempunyai liang… tetapi Anak manusia tidak punya tempat untuk meletakkan kepala-Nya (Matius 8:20) ini menunjukkan betapa Allah begitu mengasihi manusia sehingga Allah rela untuk menjadi sama dengan manusia bahkan sangat amat terhina (Yoh 3:16). Kita yang tidak sama seperti Allah tidak bisa sungguh-sungguh mengerti perendahan itu, karena sesama manusia kita berada dalam posisi yang sama. Kita tidak pernah menurunkan diri menjadi ciptaan yang lebih rendah sehingga kita sungguh mengerti apa yangKristus lakukan. Perendahan yang dilakukan oleh Kristus merupakan penyerahan diri yang absolut, mutlak, sempurna, tidak bisa dilampaui oleh siapapun karena sebagai Pencipta masuk dalam dunia ciptaan. Itu suatu penyangkalan diri yang luar biasa! Kita tidak mungkin turun ke dalam dunia tersebut seperti yang Yesus lakukan untuk mengerti inkarnasi, bahkan seandainya menjadi pasir pun kita tetap di dalam dunia ciptaan, ciptaan yang lebih tinggi menuju ciptaan yang lebih rendah. Tetapi Yesus Kristus dari Pencipta menjadi seperti ciptaan, seperti dikatakan oleh Kierkegaard, a qualitative difference, menjadi suatu kehidupan di dalam dunia ciptaan, terbatas seperti manusia yang terbatas.
Ini misteri yang begitu besar, sehingga ketika kita merayakan Natal sepatutnya kita merayakannya dengan penuh perasaan hormatdan penyembahan kepada Tuhan seperti apa yang dilakukan oleh para gembala dan orang Majus dan jangan seperti Herodes yang berada pada ketakutan akan kehilangan posisinya sebagai raja, sebabYesus layak disembah dan di puji oleh semua manusia karena Yesus adalah 100% Allah dan 100% manusia. Doktrin dwi-natur Yesus ini banyak diserang oleh orang-orang dunia bahkan beberapa orang “Kristen” sendiri (misalnya, kaum Unitarian). Mereka berkata bahwa ini tidak masuk akal. Benar, ini tidak masuk akal kita yang terbatas dan berdosa, tetapi sangat masuk akal bagi Allah yang kekal dan Mahakudus. Mengapa Yesus harus berdua natur ini ? Mengapa tidak cukup satu natur ? Mari kita memikirkannya. Yesus bernatur Allah, karena hanya Allah yang sanggup dan mampu menebus dosa manusia. Tetapi bagaimana cara Allah menebus dosa manusia, jika Ia sendiri tidak menjelma menjadi manusia ? Oleh sebab itu, Yesus harus bernatur manusia, karena Allah tidak bisa mati, sedangkan manusia bisa mati. Dengan dwi-natur Yesus, Ia bisa mati sekaligus menebus dosa manusia.
Hal kedua yang perlu kita pikirkan dan renungkan tentang natal adalah menyangkut dengan kenosis. Kata "KENOSIS" (mengosongkan diri) berasal dari kata Yunani κενοω - Kenoô. Ini berasal dari kata kerja εαυτον εκενωσεν - heauton ekenosen, 'Ia mengosongkan diriNya sendiri', Filipi 2:7 : Dalam rangka penafsiran Filipi 2:7 ini, 'kenosis' tidak berarti penjelmaan-Nya menjadi manusia tapi penyerahan akhir dari hidup-Nya, dengan mengorbankan diriNya di kayu salib. Meskipun tafsiran yang baru ini bisa dianggap agak di-paksakan. namun tafsiran ini mengarahkan kita pada jalan yang benar. Kata-kata 'mengosongkan diriNya' dalam Filipi 2:7 sama sekali bukan berkata bahwa Dia melepaskan sifat-sifat ilahi, dan karena itu teori 'kenosis adalah tafsiran yang keliru tentang istilah-istilah Kitab Suci. Menurut Ilmu Bahasa, 'mengosongkan diri sendiri' harus ditafsirkan sesuai dengan kata-kata berikutnya. Yang dimaksudkan di sini adalah 'pelepasan hak-hak sebelum inkarnasi bertautan dengan tindakan "mengambil rupa seorang hamba'" (V Taylor, The Person of Chris: in New Testament Teaching. 195R, hlm 77). Hal mengambil rupa seorang hamba menyangkut juga pembatasan yang perlu terhadap kemuliaan. yang ditanggalkan supaya Ia bisa dilahirkan menjadi 'sama seperti manusia'. Kemuliaan dalam kesatuan-Nya dengan Bapak (Yohanes 17:5, 24) yang sudah dari semula dimiliki-Nya, karena dari kekal Dia 'dalam rupa Allah' (Filipi 2:6), kemuliaan itu yang tersembunyi dalam 'rupa seorang hamba' yang Dia ambil pada waktu Ia mengambil hakikat dan rupa manusia (menjadi manusia). Dalam menerima kemanusiaan kita. Dia menerima juga panggilan-Nya sebagai hamba Tuhan yg merendahkan diriNya sendiri sampai mengorbankan diriNya sendiri di Golgota.Jadi kenosis itu mulai di hadirat Bapa-Nya dengan pilihan-Nya yang mendahului penjelmaan itu untuk mengambil rupa manusia. Pilihan itu membawa-Nya pada ketaatan terakhir di kayu salib, ketika Dia sepenuh-penuhnya menyerahkan nyawa-Nya sampai mati (lihat Roma 8:3; 2 Korintus 8:9; Galatia 4:4-5; Ibrani 2:14-16; 10:5)
Ada sebuah kalimat yang cukup menyentuh saya ketika masih melayani dan berada di Papua untuk menguatkan kami untutk tetap focus melayani Tuhan sekalipun ada di tempat terpencil yaitu bahwa “jalan untuk naik itu turun”dari perspektif ini saya coba melihat bahwa Natal bukan hanya Allah jadi manusia tetapi juga berarti Allah mengosongkan diri-Nya dan rela taat sampai mati bahkan mati di Kayu salib untuk mengerti dan memahami serta menunjukkan jalan keluar terhadap semua masalah yang manusia alami yaitu dosa.. Jadi Natal berarti mengarahkan pandangan kita menuju SALIB.
Banyak dari kita ketika merayakan Natal adalah dengan menghias pohon natal, membuat kandang domba dan palungan, dan semua yang bernuansa kemewahan tetapi jarang dari kita yang merayakan Natal dengan hiasan SALIB, sehingga terkadang membaut kita terlena dan lupa bahwa Natal (palungan, pohon natal, lampu kerlap-kerlip, dll) sebenarnya adalah suatu titik awal dimana Yesus akan menuju salib untuk menanggung semua dosa manusia. Natal adalah kerendahan hati dan kerelaan untuk menderita. Augustinus ketika ditanya oleh seseorang yang ingin mengetahui rahasia kehidupan kekristenan menjawab ada 3 hal yang sangat penting yaitu kerendahan hati, kerendahan hati, dan kerendahan hati. Seperti seolah-olah selain kerendahan hati tidak ada yang lain karena kerendahan hati begitu sulit untuk mendapatkannya, bukan karena di luar kerendahan hati tidak ada topik yang lain di dalam kekristenan. Kerendahan hati begitu sentral dan begitu pokok dan ketika kita menyaksikan kehidupan Kristus sendiri, kita melihat DiriNya dan seluruh hidupNya, adalah kehidupan kerendahan hati.
Banyak dari kita bahkan tidak jarang Gereja-Gereja yang ada ketika menyambut natal maka yang di tingkatkan adalah pelayanan Diakonia (pelayanan kasih) dan membuat begitu banyak perkunjungan ke tempat-tempat yang di mana ada orang-orang yang dianggap terbuang (penjara, panti asuhan, panti jompo dll). Ini adalah sesuatu yang cukup menarik dan seakan-akan menunjukkan spirit Kenosis (mengosongkan diri)bahwa kita juga merasakan apa yang mereka rasakan. Tetapi justru jika di tilik dengan seksama dan jika kita harus jujur maka makna kerendahan hati dan kenosis yang kita cicipi sangat minim bukan? Mengapa? Karena biasanya kita hanya sementara waktu saja ada di ‘tempat penderitaan’ itu. Penulis bukan mengkritik atau mempersoalkan program pelayanan tersebut tetapi yang mau penulis tekankan dalam hal ini ketika kita mau merayakan natal adalah dengan menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.
Kita ada dalammasa di mana ada begitu banyak peristiwa dan musibah yang terjadi. Natal berarti suatu bentuk kerelaan untuk merasakan pergumulan masyarakat yang dialami. Kita hanya dapat mengetahui dan merasakan pergumulan yang dialami oleh masyarakat hanya apabila kita mau menanggalkan keegoan kita dan “mengosongkan diri kita” untuk turundi masyarakat bahkan “rela mati” buat mereka, Seperti Kristus yang tetap mengasihi manusia bahkan ketika Dia disalibkan pun, Dia masih sempat berdoa kepada Bapa agar mereka yang menyalibkan-Nya di ampuni karena mereka tidak tau apa yang mereka perbuat.
Akhirnya Puji Tuhan, Kristus lahir di dunia ini, kelahiran-Nya bukan seperti kelahiran orang biasa (atau orang “suci”), tetapi kelahiran-Nya sangat khusus, karena kelahiran-Nya adalah Inkarnasi (=Allah menjadi manusia) yang dari kekekalan menembus ke dalam kesementaraan, dari kemuliaan menuju kerendahan dan kehinaan agar manusia yang miskin jadi kaya, yang lemah dan tak berdaya jadi kuat, yang tidak berarti menjadi berarti. Biarlah Natal tahun ini, bukan sebagai perayaan religius yang tanpa arti, perayaan rutinitas, atau perayaan sekuler tanpa makna Natal sesungguhnya, tetapi Natal tahun ini adalah Natal Inkarnasional dan kenosis, yaitu kita mengingat kelahiran Kristus sebagai Inkarnasi dan pengosongan diri yang absolute guna menebus dosa manusia dan membawa kedamaian sejati bagi manusia pilihan-Nya. Ketika Allah mau menjadi manusia demi kita yang najis, berdosa, bobrok, rusak total, dll, ingatlah, itu semua terjadi karena kasih dan anugerah-Nya serta keadilan-Nya yang Mahakudus sehingga setiap umat pilihan-Nya yang percaya beroleh hidup yang kekal. Christmas is Incarnation and kenosis. Selamat hari Natal. Solideo Gloria…!!!