TEOLOGI KEMAKMURAN kadang-kadang disebut pula Teologi Sukses, adalah doktrin yang mengajarkan bahwa kemakmuran dan sukses dalam bisnis adalah tanda-tanda eksternal bahwa yang bersangkutan dikasihi Allah. Kasih Allah ini diperoleh sebagai sesuatu takdir (predestinasi), atau diberikan sebagai ganjaran untuk doa atau jasa-jasa baik yang dibuat orang tersebut.
Jadi bagi mereka yang menganut ajaran ini seorang manusia dapat di katakan sukses jika memiliki uang yang banyak, popularitas, jabatan tinggi dan prestasi yang tinggi. Mereka melihat arti sukses tidak berbeda jauh dengan orang dunia. Bagi mereka, kesuksesan bisa di raih orang Kristen jika hidup kudus/saleh serta memiliki iman yang besar. Mereka banyak mengutip ayat Alkitab yang menekankan tentang hal iman namun mereka lebih suka mencomot satu bagian ayat tanpa melihat konteks keseluruhan ayat tersebut. Iman yang mereka ajarakan adalah iman yang bersifat antroposentris (berpusat kepada manusia).
Tetapi apakah memang Alkitab mengajarkan bahwa karena kita adalah anak Allah, dan Allah itu maha kaya, maka kita juga harus kaya? Alkitab memang tidak pernah melarang orang kristen untuk kaya. Tetapi Alkitab juga tidak mengharuskan orang kristen menjadi kaya! Walaupun kekayaan itu sendiri bukanlah dosa, tetapi kekayaan itu bisa membahayakan kita, kalau kita tidak bersikap benar terhadap kekayaan.
Untuk mempertahankan pandangan bahwa seorang Kristen harus makmur dan kaya, Teologia Kemakmuran menunjuk kepada Perjanjian Lama, contohnya janji Allah kepada Abarahan (Kej. 12:1-2), berkat Allah atas Ayub (Ayb. 42:10-17), dan kepada Yesaya (Yes. 52:13) di mana mereka hanya membaca kalimat, "Sesungguhnya, hamba-Ku akan berhasil..." Penafsiran terhadap bagian-bagian ini adalah suatu penafsiran yang asal-asalan, karena berkat Allah kepada Abraham tidak hanya diliat secara fisik (jasmani saja) bagian ini dipandang dalam Gal. 3:16-20 dan Ibr. 11:39 dalam pengertian rohani, dan digenapi tidak dalam Perjanjian Lama tapi Perjanjian Baru, dalam kedatangan Tuhan Yesus dan karya-Nya bagi gereja-Nya. Dengan menghargai Yes. 52:13, ayat ini tidak dapat ditafsirkan sebagai kemakmuran materi seperti yang ditunjukkan Teologi Kemakmuran. Karena Yes. 52 dan 53 ditafsirkan dalam Perjanjian Baru mengenai penderitaan Yesus, Mesias. Teologi Kemakmuran gagal untuk menafsirkan Perjanjian Lama secara tepat dalam terang Perjanjian Baru. Sejauh Ayub dilibatkan, benar bahwa Allah memberkati Ayub di bidang materi setelah ia menderita dalam waktu yang cukup panjang, tapi kitab Ayub bukan menceritakan bagaimana Allah selalu memberkati yang setia tapi mengenai bagaimana orang yang paling setia pun dapat menderita dan menghadapi keputusasaan. Di dalam PB ayat yang menjadi favorit bagi kaum teologi kemakmuran yaitu Yohanes 10:10, yang mereka tekankan pada frasa hidup berkelimpahan..artinya orang percaya harus hidup dalam kelimpahan..tetapi apakah benar ini yang dimaksudkan hidup berkelimpahan adalah dalam hal materi??? Sekali lagi jika kita ingin melihat suatu ayat maka kita harus belajar memperhatikan konteksnya dan juga melihatnya dari sudut keseluruhan Alkitab. Jangan sembarangan menafsirkan kata "berkelimpahan". Kata ini tidak bermaksud bahwa siapa yang ikut Tuhan Yesus bakal kaya, itu tafsiran sesat ! Perikop ini tidak berbicara mengenai kesuksesan materi, tetapi perikop ini berbicara mengenai pribadi Kristus yang adalah Gembala yang memberikan nyawanya bagi domba-dombanya (ayat 11), yang dimaksud dengan kehidupan yang berkelimpahan lebih kepada keselamatan manusia yang tidak dapat hilang bukan pada persoalan materi, terlalu rendah jika yang Yesus maksudkan hanya sekedar pada persoalan materi dan kekayaan.
Tidak dipertanyakan bahwa Perjanjian Lama (dan sedikit menyangkut Perjanjian Baru) dapat melihat kemakmuran duniawi sebagai berkat yang diberikan Allah. Walaupun hanya beberapa bagian yang menyatakan poin ini, yang lain menyatakan dengan jelas bahwa bahkan seseorang yang tidak benarpun dapat makmur dan sukses, sementara orang benar kadang mengalami ketidakberuntungan. Perjanjian Baru, secara keseluruhan, negatif terhadap kekayaan (lihat Mat. 13:22; 19:24; Mrk. 4:19; Luk. 1:53; 6:24; 1Tim. 6:9, 17; Yak. 1:11; 2:5-6; 5:1).
Teologi Kemakmuran juga memberitakan bahwa orang Kristen harus sehat dan bahwa penyakit adalah tanda dari dosa dan kurang beriman. Alkitab dikatakan menjanjikan kesembuhan kepada setiap orang Kristen. Beberapa dari kutipan Alkitab yang paling mendukung pandangan ini adalah Yes. 53:4-6; Mrk. 16:15-18; Yak. 5:13-16; dan 1Pet. 2:24. Apa yang dapat dikatakan mengenai pandangan ini? Pertama, walaupun bagian-bagian yang ditunjukkan harus ditangani secara serius, Perjanjian Baru sendiri menjelaskan bahwa penyakit tidak selalu merupakan konsekuensi dari dosa tertentu yang dilakukan oleh seseorang yang sedang atau menjadi sakit, misalnya Yoh. 9:1-3. Kedua, ada contoh-contoh dalam Perjanjian Baru mengenai orang Kristen menjadi sakit tanpa ada alasan untuk menganggap bahwa ini dapat dihubungkan dengan beberapa dosa yang mereka lakukan, contohnya Flp. 2:25-27; 1Tim. 5:23; 2Tim. 4:20. Ketiga, meskipun Perjanjian Baru tidak memandang kesakitan atau penderitaan memiliki nilai intrinsik -- penderitaan tidak bernilai dalam penderitaan itu sendiri -- dapat menjadi alat yang bernilai karena dapat memimpin kepada suatu hal yang baik, misalnya kesabaran; lihat Rm. 5:3-5; 8:35-37. Akhirnya, Perjanjian Baru tidak menjanjikan kita hidup tanpa penderitaan atau masalah Kerajaan Allah dengan berkat-berkatnya (termasuk berkat jasmani) telah datang ke dalam sejarah bersama Yesus, tapi sebagai orang Kristen kita hanya 'mencicipi' Kerajaan Allah, yang kepenuhannya kita harapkan dan rindukan (lihat Rm. 8:18-28; 2Kor. 5:6-8; Why. 21:23-27; 22:1-5).
Satu hal lagi dari Gerakan Teologi kemakmuran memperkenalkan ajaran positive confession atau word of faith dalam sikap berdoa orang Kristen. Ajaran ini dewasa ini telah masuk ke dalam gereja-gereja dengan mempopulerkan kata-kata “berkuasa” yakni “name it & claime it” (sebutkan dan klaim janji Tuhan) sehingga orang percaya dengan segala ucapannya dapat menjadikan apa saja menjadi nyata. Positive Confession percaya bahwa pikiran manusia melalui pengakuan yang positif (positive thinking) mempunyai kuasa menciptakan realitanya sendiri baik itu kesehatan, kekayaan serta kesuksesan. Pengakuan yang dimaksud gerakan positive confession berbeda dengan ajaran Alkitab tentang pengukan yang lebih menekankan ketidak-berdayaan diri, bahwa manusia itu berdosa dan terbatas.
Doa (positive confession ) seperti ini, bukanlah doa yang menunjukan ketidak-berdayaan kita sebagai manusia. Doa seperti ini justru adalah doa yang congkak, yang memanipulasi Alkitab untuk kepentingan diri. Kesalahan utama mereka yang mengikuti gerakan faith movement atau positive confession ini adalah mereka meletakkan diri pada posisi yang tidak tepat. Orang yang mengerti posisinya dihadapan Tuhan pastilah rendah hati.
Implikasi dari ajaran positive Confession ini akhirnya hanya menjadikan Allah sebagai penjawab doa kita, atau pemenuh semua keperluan kita, sehingga jika Allah tidak menjawab doa mereka maka mereka tidak akan percaya kepada Allah lagi. Inti dari Iman Kristen bukanlah menjadikan Allah sebagai sebatas pemenuh kebutuhan kita tetapi Allah harus menjadi semua atas semua,Ajaran ini sering juga mendatangkan konsekuensi bencana pada kesehatan mental mereka yang ingin menjadi Kristen tapi tidak mengalami semua berkat yang (dianggap) disediakan oleh para pengkhotbah Teologi Kemakmuran. Orang-orang yang mengalami hal sedemikian sering menjadi terganggu secara mental.
Kalau kita betul-betul memeperhatikan dan membandingkan keseluruhan Alkitab, maka akan mengambil kesimpulan bahwa Tuhan tidak pernah menjanjikan bahwa seseorang yang percaya selama hidup di dunia pasti akan bebas dari kemiskinan, sakit-penyakit, masalah rumah tangga dan masalah relasi, serta lepas dari penderitaan dan penganiayaan. Justru sebaliknya, Kristus datang ke dunia, hidup dalam penderitaan dan mati ditinggalkan pengikut-pengikut-Nya, Sehingga Iman yang sejati bukan iman yang melihat kepada berkat jasmani tetapi adalah iman yang melihat kepada Salib Yesus sebagai pusatnya. Setiap pengikut Kristus yang telah diselamatkan dari kematian kekal, dipanggil keluar dari kegelapan, akan menjalani hidup yang berhadapan dengan penderitaan akibat eksistensinya di dalam dunia yang sudah jatuh ke dalam dosa ini. Setiap orang wajib menyangkal diri mengikut Tuhan.
Teologi kemakmuran yang menyatakan bahwa setiap orang yang mengasihi Allah akan diberkati sebenarnya membuat sebuah kesalahan fatal dalam asumsi mereka. Tuhan memang berjanji akan memberkati setiap orang yang mengasihiNya, akan tetapi BUKAN BERARTI BERKAT TERSEBUT HARUS BERUPA BERKAT FISIK/MATERI.
Di dalam Alkitab kita temui banyak contoh akan orang-orang yang mengasihi Allah namun hidupnya tidak “makmur”. Kitab Ayub dengan jelas menyatakan bahwa Ayub adalah orang yang benar di hadapan Allah (bahkan Allah sendiri memuji Ayub!), akan tetapi kita tahu bahwa tetap Tuhan mengijinkan penderitaan terjadi pada diri Ayub. Kita juga melihat kisah nabi Yeremia yang sepanjang hidupnya menderita. Apakah ia kurang mengasihi Allah?
Contoh terakhir adalah Kristus sendiri. Dapatkah kita mengatakan bahwa IA kurang mengasihi Allah? Dapatkah kita mengatakan bahwa IA kurang setia dalam menjalankan FirmanNya? Tetapi kita tahu bahwa Kristus adalah orang yang tergolong miskin pada jamanNya. Selain itu, cara Ia mati pun bukanlah cara mati yang “terbaik”.
Jadi sebenarnya apakah berkat yang dijanjikan oleh Allah apabila kita mengasihiNya? Berkat tersebut adalah berkat rohani. Dan yang terutama dari segala berkat rohani itu adalah karya keselamatan yang diberikan melalui Kristus.
Pengejaran kita akan kekudusan tidaklah boleh dilandaskan akan harapan untuk mendapatkan berkat jasmani. Namun, apabila Tuhan mempercayakan berkat jasmani kepada kita, kita wajib mempergunakan apa yang Tuhan percayakan untuk kemuliaanNya. Solideo Gloria…!!!