Kamis, 03 September 2009

Jangan Mengambil keputusan pada saat emosi

Seringkali kita terlalu cepat menghakimi atau menghukum orang lain tanpa tahu fakta yang sebenarnya, hanya karena tidak sesuai dengan persepsi/ rencana kita, sehingga justru lebih sering lagi kita menyakiti orang-orang yang kita cintai. Kita memang perlu terus belajar sebelum terlambat, salah satunya dari kisah di bawah ini:
Siu lan,seorang janda miskin memiliki seorang putrid kecil berumur 7 tahun, Lie Mei. Kemiskinan memaksanya untuk membuat sendiri kue-kue dan menjajakannya di pasar untuk biaya hidup berdua. Hidup penh kekurangan membuat Lie Mei tidak pernah bermanja-manja pada ibunya, seperti anak kecil lainnya.
Suatu ketika di musim dinginm, saat selesai membuat kue, Siu Lan melihat keranjang penjaja kuenya sudah rusak berat. Dia berpesan agar Lie Mei menunggu di rumah karena dia akan membeli keranjang kue yang baru. Pulang dari membeli keranjang kue, Siu Lan menemukan pintu rumahnya tidak terkunci dan Lie Mei tidak berada di rumah. Marahlah Siu Lan, katanya “dasar tidak tahu diri, hidup sudah susah masih juga pergi bermain dengan teman-temannya”. Lie Mei tidak menunggu di rumah seperti pesannya.
Siu Lan menyusun kue dalam keranjang dan pergi keluar rumah untuk menjajakannya, dinginnya salju yang memenuhi jalan tidak menyurutkan niatnya untuk menjual kue, bagaimana lagi? Mereka harus dapat uang untuk makan, sebagai hukuman bagi Lie Mei, putrinya, pintu rumahnya di kunci Siu Lan dari luar agar Lie Mei tidak bias pulang. “Putri kecil itu harus di beri pelajaran” gumamnya geram, “Lie Mei sudah berani kurang ajar”.
Sepulang menjajakan kue, Siu Lan menemukan Lie Mei, gadis kecil itu tergeletak di depan pintu. Siu Lan berlari memeluk Lie Mei yang membeku dan sudah tidak bernyawa itu, Siu Lan berteriak membelah kebekuan salju dan menangis meraung-raung, tapi Lie Mei tetap tidak bergerak, dengan segera Siu Lan membopong Lie Mei masuk ke dalam rumah.
Siu Lan menggoncang-goncangkan tubuh beku putri kecilnya sambil meneriakkan nama Lie Mei, tiba-tiba jatuh sebuah bungkusan kecil dari tangan Lie Mei, Siu Lan mengambil bungkusan kecil itu, isinya sebungkus kecil biscuit yang di bungkus kertas using. Siu Lan mengenali tulisan pada kertas usang itu…itu adalah tulisan Lie Mei yang masih berantakan namun tetap terbaca “hi..hi..hi..Mama pasti lupa, ini hari istimewa buat mama, aku membelikan biscuit kecil ini untuk hadiah, uangku tidak cukup untuk membeli biscuit ukuran besar…hi..hi..hi..Mama, selamat Ulang tahun.”
Ketika membaca cerita ini, saya terharu dan biarpun sudah lebih dari 5 x saya membacanya saya masih tetap terharu (rasanya ingin meneteskan air mata), betapa begitu menyakitkan jika kita kehilangan orang yang kita sayangi oleh karena kesalahan kita dan itu hanya di sebabkan oleh karena keegoisan kita…seringkali kita menemukan bahwa kenyataan memang tidak selalu seperti yang diharapkan, atau justru orang-orang yang kita harapkan dan begitu dekat dengan kita justru mengecewakan kita dan itu membuat kita begitu marah dan emosi ( sehingga terkadang kita mengambil suatu keputusan untuk mengakhiri persahabatan atau suatu hubungan dengan mereka) tetapi dari cerita ini kita di beri suatu pengertian bahwa jangan pernah mengambil suatu keputusan pada saat emosi tidak dalam keadaan stabil karena selalu hasilnya tidak baik…!!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar