Jumat, 10 Mei 2013

KETAATAN TOTAL (BELAJAR DARI ABRAHAM)


"Keesokan harinya pagi-pagi bangunlah Abraham, ia memasang pelana keledainya dan memanggil dua orang bujangnya beserta Ishak, anaknya; ia membelah juga kayu untuk korban bakaran itu, lalu berangkatlah ia dan pergi ke tempat yang dikatakan Allah kepadanya". (Kej. 22:3)

Kejadian 22 adalah sebuah kisah yang sangat menegangkan dalam narasi Alkitab, karena pada kisah ini Abraham mengalami suatu ujian dari Tuhan yang dilematis. Kita tahu bagaimana Abraham begitu lama menantikan hadirnya seorang anak sebagai penggenapan janji dari Tuhan, setelah sekian lama, Tuhan menghadirkan Ishak sebagai penggenapan itu, namun setelah Ishak hadir, Allah memerintahkan (meminta) sesuatu yang cukup aneh dari Abraham yaitu, Abraham di minta untuk mempersembahkan Ishak sebagai suatu kurban di hadapan Allah. Bukankah permintaan Allah ini semacam sebuah ancaman mengenai janji Allah itu sendiri kepada Abraham bahwa melalui Ishaklah perjanjian itu diteguhkan (Kej. 17:21)

Melalui  kisah  ini kita dapat mencermati bagaimana Alkitab bercerita mengenai respon Abraham terhadap perintah Allah ini, Abraham sama sekali tidak berontak, atau berdialog dengan Allah seperti pada peristiwa Sodom dan Gomora (Kej. 18:16-33) melainkan Abraham tetap diam dan tidak mengeluarkan suatu perkataan pun, mungkin Abraham memiliki begitu banyak pertanyaan di dalam hatinya namun dia tetap diam dan sama sekali tidak diceritakan dalam teks ini. Justru yang menarik adalah bagaimana Abraham dengan bergegas pada ayat 3 “keesokan harinya pagi-pagi Abraham bangun, untuk mempersiapkan segala sesuatu.”  Abraham tidak berlama-lama dalam menanggapi perintah Allah, tetapi pagi-pagi Abraham bangun dan mempersiapkan segala sesuatu untuk menjalankan perintah Allah.

Yang menarik di sini adalah apa yang Abraham lakukan dalam mempersiapkan segala sesuatu adalah (1) Abraham memasang pelana keledainya (2) Memanggil Bujangnya serta Ishak (3) membelah juga kayu untuk korban bakaran itu (4) berangkat ke tempat tujuan.

Pertanyaan yang hadir di ayat ini adalah, mengapa Abraham sendirilah yang mengerjakan (mempersiapkan)segala sesuatu berkaitan dengan pengurbanan ini, padahal Abraham bisa saja menyuruh para hambanya (bujangnya) untuk mengerjakan semua ini dan dia tidak perlu berlelah-lelah mempersiapkan semua ini dan bukankah hal ini merupakan pekerjaan yang pantas dan harus dilakukan oleh para hamba, dan bukan bagi Abraham? Dan mengapa Abraham harus mempersiapkan kayu untuk kurban bakaran ini, apakah di tempat yang akan dituju tidak ada kayu? Tendensi apakah yang dimaksud oleh penulis kisah ini dengan mengisahkan bagian ini?

Ada beberapa  penafsiran terhadap hal ini, saya akan coba memberikan penafsiran yang ada (lih.Hamilton)
  1. Yang menafsirkan bahwa, Abraham melakukan hal ini (mempersiapkan semuanya) untuk menghilangkan kecemasan dan ketakutan  dia berkaitan dengan tindakan ini, bahwa dia takut jika dia tidak mempersiapkan segala sesuatu dengan baik maka akan ada peluang bagi dia untuk melalaikan tugasnya ketika sudah berada di dekat Moriah, dengan menyibukkan diri dengan mencari kayu dan berbagai hal lain. Abraham tidak ingin perintah Allah yang harus dia lakukan, di kacaukan atau bahkan bisa batal karena tidak dipersiapkan dengan baik.
  2. Yang lain, menafsirkan ayat ini sebagai suatu bentuk kerinduan Abraham untuk dengan cepat melakukan tindakan ini, dan menghindari diri dari suatu pencobaan yang tidak terelakan untuk tidak melakukan hal ini. Abraham tidak mau menunda-nunda apa yang harus dikerjakan, apalagi ini berkaitan dengan perintah dari Allah, Abraham melakukan semua hal itu sendiri, sebagai wujud di mana Abraham menempatkan dirinya sebagai hamba dari Allah, yang harus mempersiapkan segala sesuatu dengan sangat baik bagi tuannya (Allah)
  3. Dan penafsiran ketiga adalah, apa yang dilakukan oleh Abraham ini merupakan sesuatu yang dilakukan Abraham dengan harapan, tindakannya ini akan menyembunyikan maksud semua ini (bahwa Abraham akan mengurbankan Ishak) dari kecurigaan Ishak. Ini didasarkan kepada penempatan kisah tentang membelah kayu pada bagian akhir kegiatan Abraham, yang  mungkin saja merupakan sebuah tendensi penulis untuk menunjukkan kedalaman dari hati Abraham yang mungkin saja ingin dengan diam-diam (tanpa sepengetahuan orang lain) untuk melaksanakan tindakan ini.
Ketiga model tafsiran ini memberikan sebuah kesimpulan sederhana bahwa apa yang Abraham lakukan adalah suatu bentuk ketaatan kepada perintah Allah yang tidak main-main. Tidak ada penundaan dari Abraham untuk melakukan tindakan ini,  dan dia melaksanakan tindakan ini dengan mempersiapkan segala sesuatu dengan sangat baik meskipun ini berkaitan dengan hal yang paling dia kasihi.

Allah adalah yang terutama bagi Abraham, tidak ada yang dia cintai selain dari pada Allah itu sendiri. Ketaatan yang mutlak ini menjadi catatan bagaimana Abraham mengkonfirmasi bahwa Iman adalah ketaatan. Sebuah kesimpulan sederhana bagi kita bahwa ketika melakukan perintah Allah haruslah dilakukan dengan sungguh-sungguh dan dengan teliti. Mempersembahkan sesuatu kepada Tuhan haruslah sebuah persembahan yang “sempurna” bukan hanya sebuah persembahan yang asal-asalan, dan dengan cara yang memuliakan Tuhan. “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna." (Mat 5:48)





Senin, 06 Mei 2013

Roh Kudus dan Penginjilan Masa Kini




Pendahuluan

Pekabaran Injil (penginjilan) berarti penyampaian kabar baik. Dalam hal ini mereka yang menerima berita Injil seharusnya memiliki sukacita karena ada kabar baik yang disampaikan untuk didengarkan. Inti kabar baik (Injil) adalah kabar mengenai keselamatan bagi manusia. Mengapa harus ada kabar baik (keselamatan)? Pada kitab Kejadian pasal 1-2 kita mendapati bahwa pertama kali Allah menciptakan manusia, Allah menciptakan manusia dalam peta dan teladan Allah, dan ditempatkan di sebuah taman yang indah yaitu taman Eden. Di dalam taman itu, manusia mengalami kedamaian (syalom) yang dari Allah, dan diembankan tugas oleh Allah untuk memelihara kehidupan yang diberikan. Namun, cerita mengenai penciptaan ini disusul kemudian dengan cerita mengenai kejatuhan manusia di dalam dosa (Kej.3). kejatuhan yang disebabkan oleh pemberontakan manusia ini mengakibatkan hilangnya damai sejahtera yang dari Allah, bahkan lebih dari itu, dosa ini tidak hanya memisahkan manusia dari Allah, tetapi juga menjadikan manusia musuh dari Allah.
Tetapi sekalipun dosa menjadikan manusia musuh dari Allah, kasih setia Tuhan terhadap ciptaan-Nya lebih besar dari pemberontakan manusia, sehingga Allah tidak membinasakan manusia yang memberontak tersebut, melainkan Allah telah merancangkan keselamatan bagi manusia dalam suatu sejarah yang pada akhirnya memuncak dalam penyataan diri Allah kepada manusia melalui Anak-Nya yang tunggal yaitu Yesus Kristus.
Segala yang dirusak oleh manusia, dipulihkan kembali di dalam diri Yesus Kristus, bahkan manusia yang seharusnya dihukum dan dibinasakan didamaikan dengan Allah melalui Yesus Kristus. Inilah kabar baik (Injil) itu yang harus disampaikan kepada semua manusia tanpa terkecuali supaya semua manusia tetap memiliki pengharapan dan sukacita akan keberadaannya di dalam dunia ini.
Karena betapa berharganya kabar ini, pekabaran Injil bukanlah sesuatu yang dapat ditawar-tawar, ini merupakan sebuah amanat yang agung yang diterima langsung dari Tuhan (Mat.28:18-20; Kis.1:8; Rm. 10:13-15; I Kor. 9:16; 2 Tim.1:11-12), dan oleh karena itu tidak ada otoritas dari manusia untuk mengubah atau membatalkan apa yang diperintahkan oleh Allah bahkan di jaman ini.
Memberitakan Injil adalah suatu keharusan[1], tetapi sejarah memperlihatkan bahwa dalam melaksanakan perintah tersebut bukanlah sesuatu yang dapat dijalankan dengan mudah, berbagai persoalan hadir dalam upaya memberitakan kabar baik tersebut, bahkan yang paling nyata terlihat adalah penganiayaan terhadap para pemberita Injil.
Sejarah Gereja memperlihatkan berbagai fakta mengenai penganiayan yang terjadi atas gereja sepanjang masa. Ada begitu banyak catatan-catatan mengenai para martyr yang dibunuh ketika memberitakan Injil. Penganiayan pertama yang dapat kita cermati secara jelas adalah pada abad pertama ketika kekristenan itu tumbuh dan berkembang, bahkan Rasul Paulus pun sebelum bertobat merupakan seorang penganiaya jemaat (Kis. 8:1b-3)[2].
Penganiayaan terus terjadi namun tidak pernah dapat meredupkan atau mematikan semangat untuk memberitakan Injil, yang sebaliknya terjadi adalah bahwa Injil terus diberitakan dan terus mengalami kemajuan demi kemajuan melalui banyaknya mereka yang pada akhirnya menjadi percaya kepada berita Injil, dan memuncak kepada pengakuan akan kekristenan sebagai agama negara[3].
Amanat untuk memberitakan Injil tidak pernah menjadi sebuah amanat yang usang. Gereja dipilih untuk memberitakan Injil, meneruskan Injil kepada semua manusia tanpa terkecuali pada segala tempat dan pada segala zaman. Injil harus terus diberitakan sampai pada kedatangan kedua dari Tuhan Yesus[4].
Pada konteks kekinian juga, pemberitaan Injil tetaplah merupakan sebuah keharusan, karena bagaimanapun berita mengenai keselamatan merupakan hal yang urgen bagi manusia pada masa kini. Pemberitaan injil dalam konteks kekinian bukan hanya sekedar perwujudan kasih tetapi focus daripada pemberitaan Injil adalah kerajaan Allah, di mana melaluinya ada suatu kehidupan, seperti yang diutarakan oleh Theo Kobong bahwa “visi pemberitaan Injil adalah visi kehidupan”.[5]

Pemberitaan Injil dan Roh Kudus

Pemberitaan Injil hanya dapat dipahami dalam pengertian model Trinitas[6], di mana Allah Bapa mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia melalui suatu peristiwa inkarnasi, sehingga melalui peristiwa itu Allah memperkenalkan hakikat dan tujuan-Nya secara sempurna kepada manusia. Dan setelah peristiwa kenaikan Yesus ke surga, misi Allah dilanjutkan melalui kehadiran dan kegiatan yang aktif dari Roh Kudus yang keluar dari Allah Bapa dan Anak[7].
Ini membuktikan bahwa pemberitaan Injil merupakan karya Allah dan bukan tindakan dari manusia semata. Dalam kaitan dengan tulisan ini, penulis akan membahas mengenai peranan pribadi ke-3 dalam Tritunggal yaitu Roh Kudus dalam upaya meneruskan misi Yesus di dalam dunia.[8]
Yesus pada saat-saat terakhir sebelum mengalami penderitaan, dalam pengajarannya yang secara khusus dialamatkan kepada para murid, menyampaikan begitu banyak pesan dan nasihat yang penting tentang berbagai hal yang akan terjadi nanti, dan juga mengenai apa yang harus dilakukan oleh semua murid (dalam hal ini tidak terkecuali perintah untuk memberitakan Injil). Dan tidak hanya sekedar sebuah nasihat dan pesan semata, tetapi Yesus juga berjanji mengenai adanya pribadi yang akan menyertai para murid dalam mempersiapkan diri dalam melaksanakan amanat agung (perintah; ay.15) Tuhan ini (bnd. Mat. 28: 20c ; Yoh. 14:1). Yesus tidak hanya memberikan kepada mereka pesan untuk meneruskan misi-Nya di dalam dunia, melainkan juga memberikan penolong yang lain (Parakletos) untuk menjalankan misi tersebut.
Penolong yang lain ini secara jelas mengacu kepada Roh Kudus. Meskipun penggunaan kata parakletos (advocate) juga mengimplikasikan bahwa sebenarnya Yesus juga adalah seorang ‘advocate’.[9] Namun penggunaan kata “yang lain” ini merujuk kepada sosok yang secara esensial sama dengan Yesus, namun berbeda dalam kepribadian, yaitu Roh Kudus.
Apakah yang akan dilakukan oleh Roh Kudus ketika Dia datang ke dalam dunia dalam kaitan dengan pemberitaan Injil? Ini menjadi suatu yang penting untuk dipertanyakan. Berdasarkan kepada apa yang Yesus sampaikan dan perjalanan sejarah Gereja yang dicatat di dalam Alkitab, kita akan melihat apa yang akan dikerjakan oleh Roh Kudus dalam konteks pemberitaan Injil.

Roh Kudus Mengajarkan Injil kepada Murid-Murid (Yoh. 14:26)
Yesus menjelaskan bahwa ketika Roh Kudus (penolong yang lain) itu datang maka hal yang akan Dia (RK) lakukan adalah “akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu” (Yoh 14:26). Ridderbos dalam komentarnya mengenai ayat ini menjelaskan bahwa
Pernyataan tentang “mengajarkan segala sesuatu” dijelaskan oleh “dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Ku katakan kepadamu,” yang jelas terkait bukan hanya kepada kapasitas murid-murid untuk mengingat tetapi juga proses memahami apa yang tersembunyi, sebagai harta yang belum ditemukan, dalam ingatan mereka dan tradisi mengenai Yesus… dan karena itu Roh dapat mengingatkan perkataan Yesus ke dalam pikiran mereka, juga jelas bahwa sang penginjil dengan demikian secara tidak langsung memberikan petunjuk yang penting akan sifat Injilnya sendiri.[10]
Dalam hal ini, dalam pemberitaan Injil, Roh Kuduslah yang membawa ingatan kepada murid-murid tentang apa sebenarnya Injil tersebut. Pada masa murid-murid berita Injil belumlah menjadi sebuah berita yang tertulis sehingga mudah untuk diingat dan disampaikan, berita Injil masihlah merupakan berita verbal yang dikembangkan dalam suatu tradisi oral, sehingga kemampuan mengingat adalah sesuatu yang sangat diharapkan ada pada sang penginjil. Roh Kuduslah yang membawa ingatan-ingatan tersebut kepada pikiran para murid sehingga mereka dapat menyampaikan berita ini tanpa melebihkan atau mengurangi esensi berita ini.
Bukan hanya sekedar mengingatkan saja, melainkan Roh Kudus jugalah yang membuka pikiran para murid untuk mengerti dan memahami esensi berita Injil pada masa itu. Murid-murid tetaplah hanya orang-orang biasa seperti kebanyakan orang lain yang tidak dapat memahami perbuatan dan perkataan Yesus pada saat Dia hidup, ini terlihat dalam berbagai percakapan dan pertentangan yang terjadi antara para murid dan Yesus. Mengenai ucapan Yesus tentang penderitaan-Nya (Mat.16:21-23), tentang dua orang murid yang berjalan ke Emaus yang tidak mengerti Kitab Suci sebelum dibukakan (Luk.24:13-35) dan peristiwa yang paling dapat dijadikan contoh adalah pada saat hari Pentakosta di mana Roh Kudus membukakan pikiran Petrus untuk berkhotbah tentang Yesus berdasarkan kepada pemahaman yang benar tentang kitab suci.
Roh kudus jugalah yang menjadi saksi dari pemberitaan Injil, bahwa apa yang diberitakan dalam pemberitaan Injil adalah hal yang benar, Dan kami adalah saksi dari segala sesuatu itu, kami dan Roh Kudus, yang dikaruniakan Allah kepada semua orang yang mentaati Dia." (Kis. 5:32 band. Yoh. 15:26)

Roh Kudus Menjadi Kekuatan dalam Pemberitaan Injil (Kis.1:8)
             Roh Kuduslah tenaga dorongan yang selalu beraktif di dalam anggota-angotta jemaat di Yerusalem. “Dan mereka semua penuh dengan Roh Kudus, lalu mereka memberitakan Firman Allah dengan beran,.”(Kis. 4:31). “Dan dengan kuasa yang besar rasul-rasul memberi kesaksian tentang kebangkitan Tuhan Yesus dan mereka semua hidup dalam kasih karunia yang melimpah-limpah, “ Kis. (4:33). Rasul-rasul Petrus dan Yohanes menjawab kepada Mahkamah Agama (Sanhedrin) “Dan kami adalah saksi dari segala sesuatu itu, kami dan Roh Kudus, yang dikaruniakan Allah kepada semua orang yang mentaati Dia” (Kis. 5:32).
          Sproul menjelaskan bahwa aspek kedua dari kata “penghibur” berasal dari bahasa latin yaitu “dengan kekuatan”. Roh kudus datang kepada kita saat kita membutuhkan kekuatan. Dia memperlengkapi kita dengan semangat dan keberanian.[11]
          Kuasa (kemampuan dan keberanian) untuk memberitakan Injil merupakan pemberian dari Allah. Dalam peristiwa Pentakosta, ketika pencurahan Roh Kudus memampukan para murid yang pada waktu kematian Yesus begitu mengalami ketakutan yang luar biasa sehingga bersembunyi di rumah dalam keadaaan pintu yang tertutup rapat (Yoh.20:19, 26) berubah menjadi pribadi yang begitu berani dan penuh kuasa untuk memberitakan Injil di begitu banyak orang (Kis.2: 14-47; Kis. 4:1-22).
          Roh Kudus jugalah yang memberikan kekuatan dalam menghadapi berbagai penganiayaan yang ditimbulkan dari pemberitaan Injil tersebut (Kis.4:29-31).  Kisah tentang Stefanus, salah satu dari orang yang percaya, begitu dengan berani dan penuh keteguhan hati memberitakan Injil (Kis.6: 8-15) bahkan ketika mengalami penganiayaan pun masih dapat dengan tenang dan penuh dengan kewibawaan mendoakan mereka yang menganiaya dia (Kis.7:54-60)
          Dan tidak hanya itu saja, kisah tentang begitu banyak martyr yang difitnah, rela mati demi imannya kepada Yesus Kristus, dipancung, di bakar hidup-hidup, diadu dengan singa,  dan berbagai penganiayaan lainnya masih tetap teguh beriman kepada Yesus Kristus karena Roh Kudus telah hadir dalam diri mereka (Kis.1:8)

Roh Kudus Mengerjakan Pertobatan sebagai Buah Pemberitaan Injil (Yoh.16:8-11)
Salah satu alat ukur dalam pemberitaan Injil adalah pertobatan dari para pendengar berita Injil tersebut, dan penekanan utama dari pertobatan adalah bahwa Roh Kuduslah yang menggerakkan di dalam diri manusia kemampuan untuk dapat bertobat, seperti yang tertuang dalam Injil Yohanes 16:8-11,Dan kalau Ia datang, Ia akan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman; akan dosa, karena mereka tetap tidak percaya kepada-Ku; akan kebenaran, karena Aku pergi kepada Bapa dan kamu tidak melihat Aku lagi; akan penghakiman, karena penguasa dunia ini telah dihukum.”
Pertobatan yang terjadi kepada para pendengar berita Injil merupakan karya Roh Kudus dan bukan karena kehebatan atau kemampuan si pemberita Injil. Kehadiran Roh Kudus dalam penginjilan ini memberikan penghiburan yang teguh akan adanya petobat-petobat dalam pemberitaan Injil.
 Roh Kuduslah yang membuat 3000 orang yang hadir pada hari raya Pentakosta mengalami pertobatan, dan Roh Kudus jugalah yang menggerakan pertobatan yang terjadi di mana Injil diberitakan, tanpa karya Roh Kudus, pemberitaan Injil hanyalah menjadi sebauh pemberitaan yang tidak memiliki hasil. Roh Kudus menjadikan Firman (Injil) yang diberitakan menjadi efektif di dalam diri manusia.
Roh Kudus merupakan arrabon (jaminan) akan keberhasilan dalam pemberitaan Injil dan juga jaminan kekuatan bagi para murid dalam memberitakan Injil Yesus Kristus. Tanpa Roh Kudus pemberitaan Injil tidak akan berdaya guna dan menjadi sebuah beban yang mendatangkan keputus-asaan bagi pemberita.

Persoalan-persoalan Pemberitaan Injil Masa Kini
Cukup sulit untuk mengklasifikasikan persoalan-persoalan yang hadir pada masa kini dalam persoalan pemberitaan Injil karena abad ini adalah abad yang terus menerus diwarnai dengan berbagai perubahan yang bergerak dengan cepat. Zaman ini adalah zaman kecanggihan Iptek dan kemajuan bioteknologi yang memunculkan harapan-harapan akan kehidupan yang lebih baik, namun di sisi yang lain menghadirkan berbagai kecemasan.[12]
Salah satu isu yang menghadirkan harapan sekaligus kecemasan adalah apa yang dijelaskan oleh John Naisbitt dan kawan-kawannya seperti yang dikutip oleh Yewanggoe adalah mengenai persoalan revolusi komunikasi, mereka berkata bahwa revolusi komunikasi akan begitu rupa merubah relasi antara manusia yang selama ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Telekomunikasi akan merupakan kekuatan penggerak yang secara serentak menciptakan ekonomi global yang sangat besar dan menjadikan bagian-bagiannya lebih kecil dan lebih kuat.[13]
Yang dimaksud dalam hal ini adalah perkembangan telekomunikasi melahirkan harapan akan efisiensi penggunaan bahasa namun di sisi yang berbeda melahirkan sebuah ketakuatan akan alienasi pada tataran kehidupan, di mana hubungan kekeluargaan yang  selama ini terjalin dengan erat dalam pertemuan-pertemuan personal tergantikan melalui pertemuan yang tidak sungguh-sungguh  bertemu.[14]
Perkembangan-perkembangan dalam dunia telekomunikasi ini secara tidak langsung mempengaruhi relasi kekristenan berkaitan dengan pemberitaan Injil, apakah Gereja dapat menggunakan perkembangan tersebut untuk memberitakan Injil atau sebaliknya justru Gereja tenggelam dalam alienasi sehingga pemberitaan Injil menjadi terhambat.
Perkembangan telekomunikasi ini juga secara langsung berdampak kepada suatu upaya keterbukaan terhadap berbagai hal (globalisasi) sehingga berita Injil dituntut untuk mampu di desain (rekonstruksi) dalam suasana kekinian jika tidak ingin ditinggalkan, karena jika mencermati sejarah, maka kegagalan dan keterhilangan dari sekian banyak agama yang hadir di dunia ini adalah ketidakmampuan untuk merekonstruksi[15] diri sendiri.[16]
Ini menjadi sebuah persoalan tersendiri, apakah berita Injil harus berubah (dituntut) dalam kerangka pemikiran Globalisasi, karena pada hakikat-Nya inti berita Injil tidak dapat diubah. Apakah yang diubah adalah ‘kemasan’ pemberitaan Injil dan kemasan seperti apakah yang di harapkan dalam tataran globalisasi dengan segala bentuk perubahan dan perkembangan yang terus berubah.
Dalam kaitan dengan perkembangan telekomunikasi ini, kita memiliki  ini ada dua bentuk pendekatan yang digunakan terhadap ini. Pendektan yang pertama adalah melihat perkembangan ini dari sudut negative, sehingga menolak semua bentuk perkembangan dalam telekomunikasi karena menurut kelompok ini, komunikasi membawa perubahan yang jelek terhadap perkembangan kemanusiaan.[17]
Dan alasan yang juga dikembangkan adalah bahwa penginjilan sepatutnya bukan hanya sekadar memberitakan Injil tetapi penginjilan adalah hubungan yang manusiawi, personal, asli antara pemberita dengan orang lain. Penginjilan mewajibkan kita untuk hadir dan bertemu dengan orang lain secara personal dan alamiah, dalam rangka memperjuangkan, menghormati, dan menyemangati kehidupan itu sendiri.[18]
Pendekatan kedua, adalah yang lebih positif dari model pendekatan pertama, yaitu pendekatan yang menerima bahkan menggunakan media telekomunikasi ini dengan sedemikian rupa untuk penginjilan, dengan mencermati penginjilan yang paripurna (holistic) maka golongan ini juga mencermati peran Iptek dalam mewujudkan keselamatan yang paripurna dan seutuhnya baik dalam dunia maupun dalam menuju surge. Dalam hal ini, Iptek kita lihat sebagai wahana untuk membawa kesejahteraan manusia, lahir dan batin, di dunia dan di akhirat.[19]
Golongan ini, menggunakan setiap teknologi yang ada untuk menyiarkan kabar baik melalui televisi, radio, internet dan berbagai media lain yang memungkinkan untuk menyampaikan hal ini, penginjilan bukan hanya sekedar kehadiran, tetapi lebih dari itu merupakan komunikasi paripurna yang efektif dan karenanya dapat memakai wahana teknologi untuk meningkatkan efektivitas dan keberhasilan.[20]
Penulis tidak menolak kedua pendekatan di atas, tetapi penulis mencoba mensintesiskan kedua pandangan di atas dalam suatu pendekatan bahwa penginjilan adalah menyampaikan kabar baik tanpa menghilangkan esensi pemberitaan Injili dan bahwa penggunaan teknologi hanyalah salah satu bagian dari komunikasi Injili yang efektif, sehingga tidak menghapuskan upaya dalam pendekatan personal dalam pemberitaan Injil.
Perkembangan berikut yang hadir pada abad ini, sekalipun jika dicermati ini telah hadir dan berakar dalam semua kebudayaan, adalah persoalan mengenai kondisi masyarakat yang terdiri dari kepelbagian suku, agama dan budaya yang bermuara kepada pluralisme. Leslie Newbigin menuliskan hal ini dengan baik dalam pendahuluan bukunya

Kita sudah terbiasa mengatakan bahwa kita hidup di dalam masyarakat yang majemuk – bukan hanya masyarakat yang pada kenyataannya mejemuk dalam bermacam-macam kebudayaan, agama dan gaya hidup, tetapi juga mejemuk dalam arti bahwa kemajemukan ini dirayakan sebagai perkara yang disepakati dan dihargai.[21]

Pluralisme menolak sebuah kebenaran tunggal dan menerima serta mengakui bahwa di semua tempat dan waktu selalu ada kebenaran masing-masing sehingga tidak boleh ada yang mengkalim bahwa hanya dialah satu-satunya kebenaran.
Dalam kaitan dengan pemberitaan Injil, pengakuan Iman Kristen bahwa Yesus Kristus adalah satu-satunya kebenaran, dipertanyakan kembali dalam konteks kini. Ini menjadi sebuah persoalan tersendiri dalam pemberitaan Injil. Jika Injil dipahami sebagai berita tentang Yesus Kristus adalah satu-satunya juruselamat bagi manusia, maka pemberitaan Injil menjadi sesuatu yang dipertentangkan dan menjadi hal yang sangat tidak diharapkan.   
Perkembangan dan kesadaran manusia akan “Human Rights” melahirkan kesulitan tersendiri juga akan pemberitaan Injil, karena pemberitaan injil dianggap merampas hak manusia untuk tetap ada dalam agama dan kepercayaannya. Demi alasan kebebasan, pemberitaan Injil ditolak.
Semangat Post-modernisme yang menolak kesaksian berita Injil dengan merelativkan kebenaran Injil menjadi catatan tersendiri dalam persoalan masa kini. Berita Injil terus dirongrong, bahkan tidak jarang dibedah demi rasionalitas, humanitas dan kesesuaian dengan perkembangan ilmu pengetahuan, dan ini secara tidak langsung memberikan peluang sekularisasi Injil, sehingga berita Injil bukan lagi menjadi berita sukacita dan keselamatan melainkan diturunkan derajatnya pada tataran pragmatis.
Beberapa solusi alternatif coba dikembangkan oleh berbagai teolog dalam kaitan dengan pembicaraan mengenai pemberitaan Injil dan konteks pluralisme yang berkembang adalah dengan mengadakan dialog antar umat beragama, bagi mereka memang penginjilan tetap merupakan perintah Allah yang tidak dapat diturunkan derajatnya (taken for granted), tetapi kemajemukan juga merupakan fakta yang tidak dapat dihilangkan.[22]  Sehingga solusi yang coba ditawarkan adalah mengenai dialog yang melaluinya Injil dapat diberitakan tanpa menghilangkan kemajemukan[23]
Namun, metode dialog ini tidak sepatutnya dapat digunakan karena seperti yang dijelaskan oleh Stevri Indra Lumintang, “bahwa metode dialog telah merubah arti dan hakikat masing-masing agama, termasuk merubah arti agama Kristen. Karena metode dialog ini telah melangkah lebih jauh dari metode dialog sebelumnya, di mana dulunya dialog dilihat sebagai wadah persekutuan antar umat beragama; namun dalam perkembangan selanjutnya, dialog menjadi usaha masing-masing dan antar agama untuk mempelajari sampai pada taraf menerima keabsahan, kebenaran semua agama.”[24]
Penulis lebih menyetujui pandangan Lumintang ini, karena pada dasarnya kekristenan ortodoks dibangun diatas dasar dan pemahaman antithesis[25] dan bukan sintesis[26] dalam suatu pengertian bahwa kekeristenan pada dasarnya adalah kebenaran yang sejati, jika berusaha mengkompromikan kekristenan pada suatu sisi dialog akan menimbulkan suatu presuposisi mendasar atau sebuah jurang untuk terjebak dalam situasi pluralisme.[27]
Meskipun demikian, penulis tidak serta merta menolak dialog antar umat beragama dalam suatu pengertian sebagai sebuah pembuktian iman dan pembelaan iman (apologetika) karena pada dasarnya “apologetika adalah pengkomunikasian Injil kepada generasi masa sekarang dalam istilah-istilah yang mereka pahami.”[28]
Ada begitu banyak lagi persoalan yang hadir di masa kini dalam pemberitaan Injil, namun secara garis besar yang harus dihadapi Gereja dalam konteks pemberitaan Injil adalah bagaimana Gereja  dapat terus memberitakan Injil dengan terus menjaga kemurniaan berita Injil dengan menghadirkan kerajaan Allah yang teologis dan kontekstual.
Dengan kata lain, bagaimana Gereja menata kembali pola pemberitaan Injil disesuaikan dengan konteks dan perkembangan masa kini, bagaimana memberitakan Injil dalam masyarakat pengetahuan yang telah bertumbuh dalam perkembangan telekomunikasi yang pesat, perkembangan Globalisasi dan keterbukaan terhadap berbagai informasi dalam komunitas majemuk (pluralis) yang menjunjung tinggi humanitas.

Roh Kudus dalam Penginjilan Masa Kini
Sebuah pertanyaan sederhana hadir dalam konteks pemberitaan Injil di masa kini, dengan berbagai tantangan, perkembangan dari persoalan yang ada dan konteks yang berbeda dengan konteks gereja mula-mula adalah apakah bagaimana Roh Kudus berperan dalam pemberitaan Injil masa kini? Masihkah Roh Kudus berkarya seperti pada masa lampau di awal Gereja berdiri? Dan bentuk seperti apakah yang dikerjakan oleh Roh Kudus pada masa kini?
Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, hal pertama yang perlu dilakukan adalah menerima dan mengakui bahwa “Alkitab adalah  wahyu Allah kepada segala kebudayaan dan dokumen tertinggi dan yang tak dapat ditandingi sebagai patokan tolak ukur segala kebudayaan manusia dan suatu koreksi bagi segala jenis kebudayaan manusia.”[29]
Berdasarkan kepada pengakuan ini, maka peran Roh Kudus masih berada dalam tataran yang sama, yaitu menggerakkan setiap pribadi yang percaya untuk memberitakan Injil, memperlengkapi orang percaya yang akan memberitakan Injil dengan mengajar orang percaya tentang Injil, memberikan kekuatan untuk memberitakan injil dan menjadi jaminan bagi keberhasilan pemberitaan Injil, seperti yang terjadi pada gereja mula-mula.
Roh yang sama yang bergerak dalam pribadi dan karya para Rasul mula-mula dalam pemberitaan Injil jugalah yang akan bergerak dalam pribadi dan karya orang percaya pada masa kini dalam pemberitaan Injil.




[1] Ada yang menyebut keharusan ini dengan sebuah sebutan “mandat missioner” yang merupakan suatu kesetiaan kepada suatu perintah. (Lih. Leslie Newbigin, Injil dalam Masyarakat Majemuk (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2010) hlm 163)
[2] Salah satu penganiayaan terhebat dalam sejarah kekristenan ini dapat dilihat pada masa pemerintahan Kaisar Nero (+ 64 M), di mana orang-orang Kristen dituduh dengan tuduhan palsu, dimasukkan ke dalam penjara, diadu dengan singa sambil dipertontonkan kepada begitu banyak orang, dipenggal kepalanya bahkan ada yang dibakar hidup-hidup
[3] Ini terjadi pada waktu Kaisar Konstantinus Agung memerintah  sekitar tahun 312 M dengan dikeluarkannya edik Milano yang menyatakan kekristenan sebagai agama negara.
[4] Ini tampak dalam lima dokumen keesaan Gereja yang menyatakan bahwa tugas Gereja adalah memberitakan Injil ( Lih. Lima Dokumen Keesaan Gereja, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1996) hlm 24
[5] Theo Kobong, Kerajaan Allah dan Amanat Agung dalam Visi Gereja Memasuki Milenium Baru ed. Weinata Sairin (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2002) hlm 118
[6] Leslie Newbigin, Injil dalam Masyarakat Majemuk … hlm 166
[7] Memang ada perdebatan mengenai penggunaan istilah keluar dari Bapa dan Anak (Filioque).
[8] Herman N. Ridderbos, Injil Yohanes Suatu Tafsiran  Theologis (Surabaya: Momentum, 2012) hlm 555
[9] Hlm 784
[10] Herman N. Ridderbos, Injil Yohanes Suatu Tafsiran  Theologis, hlm, 555
[11] R. C Sproul, Dasar-dasar Iman Kristen (Malang: Literatur SAAT, 1997) hlm 160
[12] A. A Yewangoe,Tantangan Gereja Memasuki Abad ke XXI dalam Visi Gereja Memasuki Milenium Baru ed. Weinata Sairin (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2002) hlm 2
[13] John Naisbitt, Global Paradox, (Jakarta: 1977) hlm 51 dalam  A. A Yewangoe,Tantangan Gereja Memasuki Abad ke XXI dalam Visi Gereja Memasuki Milenium Baru ed. Weinata Sairin… hlm 2
[14] A. A Yewangoe,Tantangan Gereja Memasuki Abad ke XXI, hlm 2
[15] Yang dimaksud dengan merekonstruksi di sini adalah, kemampuan untuk menghadirkan Gereja dalam konteks kekinian sehingga memberikan sumbangsih yang berarti atau dengan kata lain Gereja harus dapat diakui sebagai tanda-tanda kerajaan Allah di periode kini.
[16] Ibid, hlm 7
[17] Y.I. Iswarahadi, Beriman dan Bermedia, Antologi Komunikasi (Yogyakarta: Kanisius, 2003) hlm 22
[18] Ini dapat dibandingkan dengan penjelasan mengenai penginjilan model lama dari Rick Richardson dalam bukunya Reimagining Evangelism (Merombak Citra Penginjilan), (Surabaya: Literatur Perkantas Jawa Timur, 2010) hlm 18
[19] Jonathan L. Parapak, Pelaksanaan Pekabaran Injil di Tengah Perkembangan Teknologi Komunikasi (Informasi) dalam Visi Gereja Memasuki Milenium Baru, ed. Weinata Sairin , hlm 112
[20] Ibid, hlm 116
[21] Leslie Newbigin, Injil dalam Masyarakat Majemuk … hlm 1
[22] Eka Darmaputera, Memberitakan Injil di Tengah Masyarakat Majemuk, dalam Visi Gereja Memasuki Milenium Baru, ed. Weinata Sairin , hlm 127-128
[23] Pandangan ini di dukung oleh begitu banyak teolog-teolog mainstream, yang mengedepankan dialog antar umat beragama, dapat ditemukan dalam pandangan A. A Yewanggoe, Eka Darmaputera dan banyak teolog lain lagi di Indonesia yang menggunakan pendekatan ini.
[24] Stevri Indra Lumintang, Theologia Abu-abu (Surabaya: Gandum Mas, 2009) hlm 14
[25] Pemahaman antithesis dapat dijelaskan secara sederhana bahwa jika sesuatu A, maka yang lain bukan A, dalam hal ini jika kekristenan adalah kebenaran  maka yang lain adalah salah.
[26] Penalaran sintesis adalah penalaran yang menolak kebenaran dari berbagai pihak, tetapi berusaha mencari kebenaran yang berbeda dengan menggabungkan kedua penalaran di atas.
[27] Bandingkan dengan penjelasan Francis A. Schaeffer, Allah Yang Ada di Sana (Surabaya: Momentum, 2012)
[28] Francis A. Schaeffer, Allah Yang Ada di Sana (Surabaya: Momentum, 2012) hlm 201
[29] Rainer Scheunemann, Misi dan Penginjilan dari Sudut Pandang Theologia-Theologia Indonesia dalam Dipanggil Untuk Melayani (Malang: Literarur YPPII, 1998) hlm 125 dalam Petrus Octavianus, Identitas Kebudayaan Asia dalam Terang Firman Allah (Batu: … 1985) hlm 24