Jumat, 10 Mei 2013

KETAATAN TOTAL (BELAJAR DARI ABRAHAM)


"Keesokan harinya pagi-pagi bangunlah Abraham, ia memasang pelana keledainya dan memanggil dua orang bujangnya beserta Ishak, anaknya; ia membelah juga kayu untuk korban bakaran itu, lalu berangkatlah ia dan pergi ke tempat yang dikatakan Allah kepadanya". (Kej. 22:3)

Kejadian 22 adalah sebuah kisah yang sangat menegangkan dalam narasi Alkitab, karena pada kisah ini Abraham mengalami suatu ujian dari Tuhan yang dilematis. Kita tahu bagaimana Abraham begitu lama menantikan hadirnya seorang anak sebagai penggenapan janji dari Tuhan, setelah sekian lama, Tuhan menghadirkan Ishak sebagai penggenapan itu, namun setelah Ishak hadir, Allah memerintahkan (meminta) sesuatu yang cukup aneh dari Abraham yaitu, Abraham di minta untuk mempersembahkan Ishak sebagai suatu kurban di hadapan Allah. Bukankah permintaan Allah ini semacam sebuah ancaman mengenai janji Allah itu sendiri kepada Abraham bahwa melalui Ishaklah perjanjian itu diteguhkan (Kej. 17:21)

Melalui  kisah  ini kita dapat mencermati bagaimana Alkitab bercerita mengenai respon Abraham terhadap perintah Allah ini, Abraham sama sekali tidak berontak, atau berdialog dengan Allah seperti pada peristiwa Sodom dan Gomora (Kej. 18:16-33) melainkan Abraham tetap diam dan tidak mengeluarkan suatu perkataan pun, mungkin Abraham memiliki begitu banyak pertanyaan di dalam hatinya namun dia tetap diam dan sama sekali tidak diceritakan dalam teks ini. Justru yang menarik adalah bagaimana Abraham dengan bergegas pada ayat 3 “keesokan harinya pagi-pagi Abraham bangun, untuk mempersiapkan segala sesuatu.”  Abraham tidak berlama-lama dalam menanggapi perintah Allah, tetapi pagi-pagi Abraham bangun dan mempersiapkan segala sesuatu untuk menjalankan perintah Allah.

Yang menarik di sini adalah apa yang Abraham lakukan dalam mempersiapkan segala sesuatu adalah (1) Abraham memasang pelana keledainya (2) Memanggil Bujangnya serta Ishak (3) membelah juga kayu untuk korban bakaran itu (4) berangkat ke tempat tujuan.

Pertanyaan yang hadir di ayat ini adalah, mengapa Abraham sendirilah yang mengerjakan (mempersiapkan)segala sesuatu berkaitan dengan pengurbanan ini, padahal Abraham bisa saja menyuruh para hambanya (bujangnya) untuk mengerjakan semua ini dan dia tidak perlu berlelah-lelah mempersiapkan semua ini dan bukankah hal ini merupakan pekerjaan yang pantas dan harus dilakukan oleh para hamba, dan bukan bagi Abraham? Dan mengapa Abraham harus mempersiapkan kayu untuk kurban bakaran ini, apakah di tempat yang akan dituju tidak ada kayu? Tendensi apakah yang dimaksud oleh penulis kisah ini dengan mengisahkan bagian ini?

Ada beberapa  penafsiran terhadap hal ini, saya akan coba memberikan penafsiran yang ada (lih.Hamilton)
  1. Yang menafsirkan bahwa, Abraham melakukan hal ini (mempersiapkan semuanya) untuk menghilangkan kecemasan dan ketakutan  dia berkaitan dengan tindakan ini, bahwa dia takut jika dia tidak mempersiapkan segala sesuatu dengan baik maka akan ada peluang bagi dia untuk melalaikan tugasnya ketika sudah berada di dekat Moriah, dengan menyibukkan diri dengan mencari kayu dan berbagai hal lain. Abraham tidak ingin perintah Allah yang harus dia lakukan, di kacaukan atau bahkan bisa batal karena tidak dipersiapkan dengan baik.
  2. Yang lain, menafsirkan ayat ini sebagai suatu bentuk kerinduan Abraham untuk dengan cepat melakukan tindakan ini, dan menghindari diri dari suatu pencobaan yang tidak terelakan untuk tidak melakukan hal ini. Abraham tidak mau menunda-nunda apa yang harus dikerjakan, apalagi ini berkaitan dengan perintah dari Allah, Abraham melakukan semua hal itu sendiri, sebagai wujud di mana Abraham menempatkan dirinya sebagai hamba dari Allah, yang harus mempersiapkan segala sesuatu dengan sangat baik bagi tuannya (Allah)
  3. Dan penafsiran ketiga adalah, apa yang dilakukan oleh Abraham ini merupakan sesuatu yang dilakukan Abraham dengan harapan, tindakannya ini akan menyembunyikan maksud semua ini (bahwa Abraham akan mengurbankan Ishak) dari kecurigaan Ishak. Ini didasarkan kepada penempatan kisah tentang membelah kayu pada bagian akhir kegiatan Abraham, yang  mungkin saja merupakan sebuah tendensi penulis untuk menunjukkan kedalaman dari hati Abraham yang mungkin saja ingin dengan diam-diam (tanpa sepengetahuan orang lain) untuk melaksanakan tindakan ini.
Ketiga model tafsiran ini memberikan sebuah kesimpulan sederhana bahwa apa yang Abraham lakukan adalah suatu bentuk ketaatan kepada perintah Allah yang tidak main-main. Tidak ada penundaan dari Abraham untuk melakukan tindakan ini,  dan dia melaksanakan tindakan ini dengan mempersiapkan segala sesuatu dengan sangat baik meskipun ini berkaitan dengan hal yang paling dia kasihi.

Allah adalah yang terutama bagi Abraham, tidak ada yang dia cintai selain dari pada Allah itu sendiri. Ketaatan yang mutlak ini menjadi catatan bagaimana Abraham mengkonfirmasi bahwa Iman adalah ketaatan. Sebuah kesimpulan sederhana bagi kita bahwa ketika melakukan perintah Allah haruslah dilakukan dengan sungguh-sungguh dan dengan teliti. Mempersembahkan sesuatu kepada Tuhan haruslah sebuah persembahan yang “sempurna” bukan hanya sebuah persembahan yang asal-asalan, dan dengan cara yang memuliakan Tuhan. “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna." (Mat 5:48)





Tidak ada komentar:

Posting Komentar