Jumat, 20 Mei 2011

Kemustahilan Yang Mungkin

Ternyata tidak mudah menjadi seorang pemimpin, apalagi jika kita harus memimpin sembari meneladani pola kepemimpinan Yesus, suatu pola kepemimpinan merendahkan diri, turun ke bawah. Banyak dari kita seringkali ketika memimpin tidak mau diusik atau menjadi seorang pemimpin yang otoriter dan tidak jarang juga ketika kita memimpin kita lebih mengutamakan kepentingan pribadi, kepentingan keluarga bahkan orang-orang disekitar kita, sehingga begitu sering kita menyingkirkan dengan cara yang tidak terhormat atau bahkan dengan suatu sikap yang arogan orang-orang yang berada disekitar kita yang kita rasa dan pikir dapat mengancam kepentingan kita tersebut untuk memuluskan apa yang ada di otak kita, ini yang dalam hukum ekonomi disebut dengan ” Live and let die” ( untuk hidup harus tega membunuh)

Dalam hukum politik berlaku suatu sistem bahwa jika ada orang yang membantu kita untuk mendapatkan suatu posisi kepemimpinan maka sudah sepatutnya kita harus menyingkirkan orang tersebut secepatnya karena jika tidak maka akan ada kemungkinan yang cukup besar bahwa suatu saat orang tersebut akan membantu orang lain untuk menyaingi kita atau bahkan menyingkirkan kita lagi. Ya, mungkin seperti hukum rimba, tetapi pada kenyataannya sadar atau tidak sadar kita seringkali berbuat seperti itu, bahkan tidak dapat dipungkiri lagi bahwa pola seperti ini telah begitu berlaku di dalam ruang lingkup gereja atau organisasi-organisasi berbau kekristenan...ironis, namun inilah kenyataannya.

Dan dari kekuatiran-kekuatiran seperti inilah yang pada akhirnya suatu sikap hati yang murni untuk membangun kerajaan Allah terdistorsi menjadi sebuah ambisi pribadi, dengan membentuk pelayanan sebagai sebuah kerajaan-kerajaan pribadi seperti pada jaman majapahit atau mungkin seperti jaman orde baru. Kerajaan pribadi yang bisa membuat kita menjadi lebih terkenal, makmur dan memperoleh banyak sanjungan dan lebih luar biasanya lagi adalah kerajaan pribadi itu dibungkus dengan suatu bungkusan yang manis, indah dan menggiurkan bertemakan “membangun kerajaan Allah” agar tidak kelihatan dari luar dan juga dapat menarik begitu banyak orang untuk terbeban dan terlibat dalam misi tersebut” (suatu misi dibalik misi)

Gereja menjadi kerajaan, Pelayanan menjadi bisnis yang berkomiditi tinggi, mungkin ada benarnya juga pepatah klasik “kalau kesuksesan dan materi dapat merubah seseorang”. Suatu kesulitan yang cukup sulit dalam hal seperti ini adalah seringkali hati seorang pemimpin telah menjadi keras dan begitu angkuhnya untuk menerima masukan karena dia telah begitu yakin dengan kesuksesan yang diraihnya. Meminjam bahasanya Karl Barth inilah yang disebut dengan “Posible Impossibility (Kemustahilan yang mungkin)”. Karena seharusnya semakin lama seseorang terlibat dalam pelayanan sudah sepatutnya semakin dia mengerti isi hati Tuhan, semakin seseorang belajar tentang Firman Tuhan sudah sepatutnya dia memahami hati Tuhan, dan semakin seseorang mengenal siapa Tuhan Yesus sudah selayaknya juga dia dapat meneladani pola kepemimpinan Yesus, mustahil seseorang yang telah mengenal Yesus dengan begitu sangat pada akhirnya justru adalah orang yang paling memanfaatkan ketulusan hati Yesus untuk kepentingan pribadinya... tapi kita tidak dapat menutup mata bahwa inilah “Posible Impossibility ”.

Tidak mau disaingi atau digantikan seringkali itu menjadi akar dari sikap arogan yang tidak beralasan selain alasan kesuksesan dan materi. Walaupun dalam sistem kepemimpinan dikenal yang namanya regenerasi untuk membaharui atau dengan istilah komputer merefresh suatu bentuk kejenuhan yang ada, tetapi ternyata sedikit pemimpin yang mau turun takhta untuk sekedar memberikan kesempatan kepada generasi selanjutnya untuk melanjutkan tongkat estafet, mungkin ada banyak pertimbangan disini dan mungkin juga ada begitu banyak alasan rohani yang dapat kita buat untuk hal ini, namun jika kita mau berbesar hati dan mau jujur serta menurunkan sedikit “harga penawaran” maka kita akan mendapati bahwa ternyata ambisi kita untuk mengerjakan misi dibalik misi itu begitu kuat sehingga telah membutakan mata kita.

Sekali lagi, ternyata meneladani Yesus yang mau merendahkan diri itu sungguh teramat sulit, karena yang ada di dalam pikiran, hati dan tindakan Yesus adalah mengerjakan perintah Bapa-Nya, sedangkan kita seringkali masih memiliki ambisi-ambisi pribadi yang cukup banyak, dapatkah seorang pemimpin ketika berada di masa kesuksesan mau belajar merendahkan diri dengan menerima masukan? Dapatkah seorang pemimpin ketika berada di masa emasnya mau mengutamakan pekerjaan Tuhan daripada mengutamakan kepentingan pribadinya? Dan dapatkah seorang pemimpin berani jujur mengakui kesalahannya? Dan siapkah dia menyerahkan tongkat estafet itu kepada yang lain ketika memang sudah sepatutnya dia “turun takhta”? Dan masih banyak pertanyaan lagi yang sebenarnya harus muncul namun ya, saya coba membatasi diri dengan sedikit tersenyum simpul sambil berujar dalam hati “belajar realistis sajalah J-LO, idealisme itu pada akhirnya hanya akan terwujud dalam dunia ide saja (namun jika itu hanya ada dalam dunia ide saja mengapa ada teladan dari Yesus???)”.

Solideo Gloria

Tidak ada komentar:

Posting Komentar