Jumat, 20 Mei 2011

“Posible impossibility”


“experience is the best teacher” pengalaman adalah guru yang terbaik, mungkin ini sebuah terjemahan sederhana dari sebuah pepatah kuno yang sudah sering kita ucapkan bahwa pengalaman atas peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi di masa lampau bisa diambil menjadi pelajaran yang berharga buat manusia berjalan menyongsong masa depan agar tidak jatuh pada kesalahan yang sama.

Begitu juga dengan perjalanan sejarah Gereja, sejak Gereja hadir di tengah dunia sampai saat ini Gereja selalu berhadapan dengan masalah dan masalah yang sekan tidak pernah habis, entah itu masalah dari dalam (internal) maupun ancaman dari luar (eksternal), dan ironisnya adalah pemimpin gereja selalu jatuh pada kesalahan yang sama dan tidak pernah belajar dari sejarah untuk melakukan tindakan antisipasi.

Ketika diawal-awal Gereja hadir, gereja selalu dianiaya dari pihak-pihak yang tidak menginginkan gereja hadir dan pada kenyataannya kita melihat gereja bersatu untuk menghadapi penganiayaan tersebut sehingga lahirlah para martyr yang rela menyerahkan hidupnya untuk mempertahankan iman mereka, walaupun memang harus diakui bahwa diantara penganiayaan itu juga gereja terpecah dengan lahirnya bidat-bidat seperti Marcion dan Montanus, namun itu tidak dapat menutupi bahwa Gereja menjadi sebuah persekutuan yang begitu kuat dan begitu siap menghadapi bahaya di depan, ibarat sebuah kapal yang terus berlayar walau ada gelombang dan badai yang menerpanya.

Penganiayaan ini berlangsung sekitar 2 abad, perjalanan yang tidak pendek untuk dijalani dalam masa sengsara (sekiranya catatan sejarah saya tidak salah..hehehe) sampai pada masa pemerintahan kaisar konstantinus agung (thn 312M) di mana gereja mengalami masa tenang tidak ada lagi penganiayaan, gereja menjadi sebuah organisasi yang diakui dan mendapat tempat yang layak dalam sisitem pemerintahan. Namun, ternyata sejarah memperlihatkan kepada kita bahwa justru di situasi inilah gereja sedang menuju kemunduran yang berujung pada kehancuran. Dimulai dengan perseteruan mengenai kedua natur Kristus, diteruskan dengan perpecahan gereja timur dan barat (325 – 1054M) yang diwarnai dengan lahirnya organisasi Gereja yang imoral dan korup, kekuasaan paus yang luar biasa tak tertandingi.

Dan hal yang sama jugalah yang terjadi pada masa kini dalam pemerintahan Gereja, ketika Gereja berada pada masa sulit, banyak pemimpin gereja yang lahir menjadi “martyr” untuk mempertahankan iman yang sejati, meneruskan amanat agung Tuhan Yesus, memberitakan injil sampai ke ujung dunia, namun sejarah memperlihatkan bahwa jiwa yang murni untuk memberitakan Injil dan mempertahankan iman yang sejati akhirnya terdistorsi ketika Gereja telah mengalami masa yang begitu menyenangkan, memang tidak semua pemimpin Gereja yang tersesat, akan tetapi itu telah menjadi catatan yang kelam buat Gereja bahwa hampir kesemuanya telah menyimpang.

Sadar atau tidak sadar, mau atau tidak mau catatan sejarah memperlihatkan bahwa makin besar pengaruh gereja atas dunia, makin bertambah pula pikiran-pikiran dan ambisi-ambisi dunia memasuki gereja, disini seorang pemimpin gereja di tuntut untuk bijaksana dalam mengambil sebuah keputusan dan tindakan, janganlah lagi jatuh pada kesalahan yang sama, belajarlah untuk menjadi seorang pemimpin yang tidak membangun suatu sistem pemerintahan yang imoral dan korup, dan juga janganlah membangun sebuah sistem pemerintahan yang sepertinya tak bisa ditandingi (seperti Paus) pada masa sejarah Gereja, karena semuanya sama seperti membangun diatas dasar yang rapuh. Perlu diingat bahwa sesuatu yang dibangun diatas dasar yang kuat saja hampir-hampir tidak dapat dipertahankan terlebih lagi yang di bangun diatas dasar yang rapuh…!!!

Mengutip sebuah pernyataan bahwa “sebuah bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya” maka gereja yang besar adalah gereja yang menghargai sejarahnya juga…

Sampai pada bagian ini, kita melihat bahwa gereja lahir dari suatu keadaan dimana ada penderitaan dan aniaya yang begitu sangat tetapi melahirkan para martyr, kemudian menuju kepada keadaan tenang dan begitu nyaman buat gereja namun melahirkan pemimpin Gereja yang imoral dan korup yang berujung pada perpecahan Gereja. Haruskah penderitaan dan aniaya menimpa gereja lagi untuk mengembalikan Gereja yang sejati, yang melahirkan pemimpin gereja yang rela mati demi kebenaran (martir), kembali pada jalur yang benar, melaksanakn misi TUHAN???

Ketika ada badai, semua orang bersatu mengayuh kapal tersebut agar bisa tiba dengan selamat dan jangan sampai pecah berkeping-keping, tetapi ketika tenang ternyata kapal itu pecah juga…di sini di tuntut suatu kerendahan hati untuk mengoreksi diri, benarkah kita masih setia dengan panggilan kita atau justru kita telah beralih ketika kita berada pada masa tenang?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar