Pendahuluan
Pekabaran Injil (penginjilan) berarti penyampaian kabar baik. Dalam
hal ini mereka yang menerima berita Injil seharusnya memiliki sukacita karena
ada kabar baik yang disampaikan untuk didengarkan. Inti kabar baik (Injil)
adalah kabar mengenai keselamatan bagi manusia. Mengapa harus ada kabar baik
(keselamatan)? Pada kitab Kejadian pasal 1-2 kita mendapati bahwa pertama kali
Allah menciptakan manusia, Allah menciptakan manusia dalam peta dan teladan
Allah, dan ditempatkan di sebuah taman yang indah yaitu taman Eden. Di dalam
taman itu, manusia mengalami kedamaian (syalom) yang dari Allah, dan diembankan
tugas oleh Allah untuk memelihara kehidupan yang diberikan. Namun, cerita
mengenai penciptaan ini disusul kemudian dengan cerita mengenai kejatuhan
manusia di dalam dosa (Kej.3). kejatuhan yang disebabkan oleh pemberontakan
manusia ini mengakibatkan hilangnya damai sejahtera yang dari Allah, bahkan
lebih dari itu, dosa ini tidak hanya memisahkan manusia dari Allah, tetapi juga
menjadikan manusia musuh dari Allah.
Tetapi sekalipun dosa menjadikan manusia musuh dari Allah, kasih
setia Tuhan terhadap ciptaan-Nya lebih besar dari pemberontakan manusia,
sehingga Allah tidak membinasakan manusia yang memberontak tersebut, melainkan
Allah telah merancangkan keselamatan bagi manusia dalam suatu sejarah yang pada
akhirnya memuncak dalam penyataan diri Allah kepada manusia melalui Anak-Nya
yang tunggal yaitu Yesus Kristus.
Segala yang dirusak oleh manusia, dipulihkan kembali di dalam diri
Yesus Kristus, bahkan manusia yang seharusnya dihukum dan dibinasakan
didamaikan dengan Allah melalui Yesus Kristus. Inilah kabar baik (Injil) itu
yang harus disampaikan kepada semua manusia tanpa terkecuali supaya semua
manusia tetap memiliki pengharapan dan sukacita akan keberadaannya di dalam
dunia ini.
Karena betapa berharganya kabar ini, pekabaran Injil bukanlah
sesuatu yang dapat ditawar-tawar, ini merupakan sebuah amanat yang agung yang
diterima langsung dari Tuhan (Mat.28:18-20; Kis.1:8; Rm. 10:13-15; I Kor. 9:16;
2 Tim.1:11-12), dan oleh karena itu tidak ada otoritas dari manusia untuk
mengubah atau membatalkan apa yang diperintahkan oleh Allah bahkan di jaman
ini.
Memberitakan Injil adalah suatu keharusan[1],
tetapi sejarah memperlihatkan bahwa dalam melaksanakan perintah tersebut
bukanlah sesuatu yang dapat dijalankan dengan mudah, berbagai persoalan hadir
dalam upaya memberitakan kabar baik tersebut, bahkan yang paling nyata terlihat
adalah penganiayaan terhadap para pemberita Injil.
Sejarah Gereja memperlihatkan berbagai fakta mengenai penganiayan
yang terjadi atas gereja sepanjang masa. Ada begitu banyak catatan-catatan
mengenai para martyr yang dibunuh ketika memberitakan Injil. Penganiayan
pertama yang dapat kita cermati secara jelas adalah pada abad pertama ketika
kekristenan itu tumbuh dan berkembang, bahkan Rasul Paulus pun sebelum bertobat
merupakan seorang penganiaya jemaat (Kis. 8:1b-3)[2].
Penganiayaan terus terjadi namun tidak pernah dapat meredupkan atau
mematikan semangat untuk memberitakan Injil, yang sebaliknya terjadi adalah
bahwa Injil terus diberitakan dan terus mengalami kemajuan demi kemajuan
melalui banyaknya mereka yang pada akhirnya menjadi percaya kepada berita
Injil, dan memuncak kepada pengakuan akan kekristenan sebagai agama negara[3].
Amanat untuk memberitakan Injil tidak pernah menjadi sebuah amanat
yang usang. Gereja dipilih untuk memberitakan Injil, meneruskan Injil kepada semua
manusia tanpa terkecuali pada segala tempat dan pada segala zaman. Injil harus
terus diberitakan sampai pada kedatangan kedua dari Tuhan Yesus[4].
Pada konteks kekinian juga, pemberitaan Injil tetaplah merupakan
sebuah keharusan, karena bagaimanapun berita mengenai keselamatan merupakan hal
yang urgen bagi manusia pada masa kini. Pemberitaan injil dalam konteks
kekinian bukan hanya sekedar perwujudan kasih tetapi focus daripada pemberitaan
Injil adalah kerajaan Allah, di mana melaluinya ada suatu kehidupan, seperti
yang diutarakan oleh Theo Kobong bahwa “visi pemberitaan Injil adalah visi
kehidupan”.[5]
Pemberitaan Injil dan Roh Kudus
Pemberitaan Injil hanya dapat dipahami dalam pengertian model
Trinitas[6],
di mana Allah Bapa mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia melalui suatu
peristiwa inkarnasi, sehingga melalui peristiwa itu Allah memperkenalkan
hakikat dan tujuan-Nya secara sempurna kepada manusia. Dan setelah peristiwa
kenaikan Yesus ke surga, misi Allah dilanjutkan melalui kehadiran dan kegiatan
yang aktif dari Roh Kudus yang keluar dari Allah Bapa dan Anak[7].
Ini membuktikan bahwa pemberitaan Injil merupakan karya Allah dan
bukan tindakan dari manusia semata. Dalam kaitan dengan tulisan ini, penulis
akan membahas mengenai peranan pribadi ke-3 dalam Tritunggal yaitu Roh Kudus
dalam upaya meneruskan misi Yesus di dalam dunia.[8]
Yesus pada saat-saat terakhir sebelum mengalami penderitaan, dalam
pengajarannya yang secara khusus dialamatkan kepada para murid, menyampaikan
begitu banyak pesan dan nasihat yang penting tentang berbagai hal yang akan
terjadi nanti, dan juga mengenai apa yang harus dilakukan oleh semua murid
(dalam hal ini tidak terkecuali perintah untuk memberitakan Injil). Dan tidak
hanya sekedar sebuah nasihat dan pesan semata, tetapi Yesus juga berjanji
mengenai adanya pribadi yang akan menyertai para murid dalam mempersiapkan diri
dalam melaksanakan amanat agung (perintah; ay.15) Tuhan ini (bnd. Mat. 28: 20c
; Yoh. 14:1). Yesus tidak hanya memberikan kepada mereka pesan untuk meneruskan
misi-Nya di dalam dunia, melainkan juga memberikan penolong yang lain (Parakletos)
untuk menjalankan misi tersebut.
Penolong yang lain ini secara jelas mengacu kepada Roh Kudus.
Meskipun penggunaan kata parakletos (advocate) juga mengimplikasikan
bahwa sebenarnya Yesus juga adalah seorang ‘advocate’.[9]
Namun penggunaan kata “yang lain” ini merujuk kepada sosok yang secara esensial
sama dengan Yesus, namun berbeda dalam kepribadian, yaitu Roh Kudus.
Apakah yang akan dilakukan oleh Roh Kudus ketika Dia datang ke
dalam dunia dalam kaitan dengan pemberitaan Injil? Ini menjadi suatu yang
penting untuk dipertanyakan. Berdasarkan kepada apa yang Yesus sampaikan dan
perjalanan sejarah Gereja yang dicatat di dalam Alkitab, kita akan melihat apa
yang akan dikerjakan oleh Roh Kudus dalam konteks pemberitaan Injil.
Roh Kudus Mengajarkan Injil kepada Murid-Murid (Yoh. 14:26)
Yesus menjelaskan bahwa ketika Roh Kudus (penolong yang lain) itu
datang maka hal yang akan Dia (RK) lakukan adalah “akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan
akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu”
(Yoh 14:26). Ridderbos dalam komentarnya mengenai ayat ini menjelaskan
bahwa
Pernyataan
tentang “mengajarkan segala sesuatu” dijelaskan oleh “dan akan mengingatkan
kamu akan semua yang telah Ku katakan kepadamu,” yang jelas terkait bukan hanya
kepada kapasitas murid-murid untuk mengingat tetapi juga proses memahami apa
yang tersembunyi, sebagai harta yang belum ditemukan, dalam ingatan mereka dan
tradisi mengenai Yesus… dan karena itu Roh dapat mengingatkan perkataan Yesus
ke dalam pikiran mereka, juga jelas bahwa sang penginjil dengan demikian secara
tidak langsung memberikan petunjuk yang penting akan sifat Injilnya sendiri.[10]
Dalam hal ini, dalam pemberitaan Injil, Roh
Kuduslah yang membawa ingatan kepada murid-murid tentang apa sebenarnya Injil
tersebut. Pada masa murid-murid berita Injil belumlah menjadi sebuah berita
yang tertulis sehingga mudah untuk diingat dan disampaikan, berita Injil
masihlah merupakan berita verbal yang dikembangkan dalam suatu tradisi
oral, sehingga kemampuan mengingat adalah sesuatu yang sangat diharapkan ada
pada sang penginjil. Roh Kuduslah yang membawa ingatan-ingatan tersebut kepada
pikiran para murid sehingga mereka dapat menyampaikan berita ini tanpa
melebihkan atau mengurangi esensi berita ini.
Bukan hanya sekedar mengingatkan saja,
melainkan Roh Kudus jugalah yang membuka pikiran para murid untuk mengerti dan
memahami esensi berita Injil pada masa itu. Murid-murid tetaplah hanya
orang-orang biasa seperti kebanyakan orang lain yang tidak dapat memahami
perbuatan dan perkataan Yesus pada saat Dia hidup, ini terlihat dalam berbagai
percakapan dan pertentangan yang terjadi antara para murid dan Yesus. Mengenai
ucapan Yesus tentang penderitaan-Nya (Mat.16:21-23), tentang dua orang murid
yang berjalan ke Emaus yang tidak mengerti Kitab Suci sebelum dibukakan
(Luk.24:13-35) dan peristiwa yang paling dapat dijadikan contoh adalah pada
saat hari Pentakosta di mana Roh Kudus membukakan pikiran Petrus untuk
berkhotbah tentang Yesus berdasarkan kepada pemahaman yang benar tentang kitab
suci.
Roh kudus jugalah yang menjadi saksi dari
pemberitaan Injil, bahwa apa yang diberitakan dalam pemberitaan Injil adalah
hal yang benar, Dan kami adalah saksi dari segala sesuatu itu, kami dan Roh
Kudus, yang dikaruniakan Allah kepada semua orang yang mentaati Dia." (Kis.
5:32 band. Yoh. 15:26)
Roh Kudus Menjadi Kekuatan dalam Pemberitaan
Injil (Kis.1:8)
Roh Kuduslah tenaga dorongan yang selalu beraktif di
dalam anggota-angotta jemaat di Yerusalem. “Dan mereka semua penuh dengan Roh Kudus,
lalu mereka memberitakan Firman Allah dengan beran,.”(Kis. 4:31). “Dan dengan kuasa yang besar rasul-rasul
memberi kesaksian tentang kebangkitan Tuhan Yesus dan mereka semua hidup dalam
kasih karunia yang melimpah-limpah, “ Kis. (4:33). Rasul-rasul Petrus dan
Yohanes menjawab kepada Mahkamah Agama (Sanhedrin) “Dan kami adalah saksi dari
segala sesuatu itu, kami dan Roh Kudus, yang dikaruniakan Allah kepada semua
orang yang mentaati Dia” (Kis. 5:32).
Sproul
menjelaskan bahwa aspek kedua dari kata “penghibur” berasal dari bahasa latin
yaitu “dengan kekuatan”. Roh kudus datang kepada kita saat kita membutuhkan kekuatan. Dia
memperlengkapi kita dengan semangat dan keberanian.[11]
Kuasa (kemampuan dan keberanian) untuk
memberitakan Injil merupakan pemberian dari Allah. Dalam peristiwa Pentakosta,
ketika pencurahan Roh Kudus memampukan para murid yang pada waktu kematian
Yesus begitu mengalami ketakutan yang luar biasa sehingga bersembunyi di rumah
dalam keadaaan pintu yang tertutup rapat (Yoh.20:19, 26) berubah menjadi pribadi
yang begitu berani dan penuh kuasa untuk memberitakan Injil di begitu banyak
orang (Kis.2: 14-47; Kis. 4:1-22).
Roh Kudus jugalah yang memberikan
kekuatan dalam menghadapi berbagai penganiayaan yang ditimbulkan dari
pemberitaan Injil tersebut (Kis.4:29-31). Kisah tentang Stefanus, salah satu dari orang
yang percaya, begitu dengan berani dan penuh keteguhan hati memberitakan Injil
(Kis.6: 8-15) bahkan ketika mengalami penganiayaan pun masih dapat dengan
tenang dan penuh dengan kewibawaan mendoakan mereka yang menganiaya dia
(Kis.7:54-60)
Dan tidak hanya itu saja, kisah
tentang begitu banyak martyr yang difitnah, rela mati demi imannya kepada Yesus
Kristus, dipancung, di bakar hidup-hidup, diadu dengan singa, dan berbagai penganiayaan lainnya masih tetap
teguh beriman kepada Yesus Kristus karena Roh Kudus telah hadir dalam diri
mereka (Kis.1:8)
Roh Kudus Mengerjakan Pertobatan sebagai Buah Pemberitaan
Injil (Yoh.16:8-11)
Salah satu alat ukur dalam pemberitaan Injil
adalah pertobatan dari para pendengar berita Injil tersebut, dan penekanan
utama dari pertobatan adalah bahwa Roh Kuduslah yang menggerakkan di dalam diri
manusia kemampuan untuk dapat bertobat, seperti yang tertuang dalam Injil
Yohanes 16:8-11, “Dan kalau Ia datang, Ia akan menginsafkan dunia akan dosa,
kebenaran dan penghakiman; akan dosa, karena mereka tetap tidak percaya
kepada-Ku; akan kebenaran, karena Aku pergi kepada Bapa dan kamu tidak melihat
Aku lagi; akan penghakiman, karena penguasa dunia ini telah dihukum.”
Pertobatan yang terjadi kepada para pendengar
berita Injil merupakan karya Roh Kudus dan bukan karena kehebatan atau
kemampuan si pemberita Injil. Kehadiran Roh Kudus dalam penginjilan ini
memberikan penghiburan yang teguh akan adanya petobat-petobat dalam pemberitaan
Injil.
Roh
Kuduslah yang membuat 3000 orang yang hadir pada hari raya Pentakosta mengalami
pertobatan, dan Roh Kudus jugalah yang menggerakan pertobatan yang terjadi di
mana Injil diberitakan, tanpa karya Roh Kudus, pemberitaan Injil hanyalah
menjadi sebauh pemberitaan yang tidak memiliki hasil. Roh Kudus menjadikan
Firman (Injil) yang diberitakan menjadi efektif di dalam diri manusia.
Roh Kudus merupakan arrabon (jaminan)
akan keberhasilan dalam pemberitaan Injil dan juga jaminan kekuatan bagi para
murid dalam memberitakan Injil Yesus Kristus. Tanpa Roh Kudus pemberitaan Injil
tidak akan berdaya guna dan menjadi sebuah beban yang mendatangkan
keputus-asaan bagi pemberita.
Persoalan-persoalan
Pemberitaan Injil Masa Kini
Cukup sulit untuk mengklasifikasikan persoalan-persoalan yang hadir
pada masa kini dalam persoalan pemberitaan Injil karena abad ini adalah abad
yang terus menerus diwarnai dengan berbagai perubahan yang bergerak dengan
cepat. Zaman ini adalah zaman kecanggihan Iptek dan kemajuan bioteknologi yang
memunculkan harapan-harapan akan kehidupan yang lebih baik, namun di sisi yang
lain menghadirkan berbagai kecemasan.[12]
Salah satu isu yang menghadirkan harapan sekaligus kecemasan adalah
apa yang dijelaskan oleh John Naisbitt dan kawan-kawannya seperti yang dikutip
oleh Yewanggoe adalah mengenai persoalan revolusi komunikasi, mereka berkata
bahwa revolusi komunikasi akan begitu rupa merubah relasi antara manusia yang
selama ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Telekomunikasi akan merupakan
kekuatan penggerak yang secara serentak menciptakan ekonomi global yang sangat
besar dan menjadikan bagian-bagiannya lebih kecil dan lebih kuat.[13]
Yang dimaksud dalam hal ini adalah perkembangan telekomunikasi
melahirkan harapan akan efisiensi penggunaan bahasa namun di sisi yang
berbeda melahirkan sebuah ketakuatan akan alienasi pada tataran
kehidupan, di mana hubungan kekeluargaan yang
selama ini terjalin dengan erat dalam pertemuan-pertemuan personal
tergantikan melalui pertemuan yang tidak sungguh-sungguh bertemu.[14]
Perkembangan-perkembangan dalam dunia telekomunikasi ini secara
tidak langsung mempengaruhi relasi kekristenan berkaitan dengan pemberitaan
Injil, apakah Gereja dapat menggunakan perkembangan tersebut untuk memberitakan
Injil atau sebaliknya justru Gereja tenggelam dalam alienasi sehingga
pemberitaan Injil menjadi terhambat.
Perkembangan telekomunikasi ini juga secara langsung berdampak
kepada suatu upaya keterbukaan terhadap berbagai hal (globalisasi) sehingga
berita Injil dituntut untuk mampu di desain (rekonstruksi) dalam suasana
kekinian jika tidak ingin ditinggalkan, karena jika mencermati sejarah, maka
kegagalan dan keterhilangan dari sekian banyak agama yang hadir di dunia ini
adalah ketidakmampuan untuk merekonstruksi[15]
diri sendiri.[16]
Ini menjadi sebuah persoalan tersendiri, apakah berita Injil harus
berubah (dituntut) dalam kerangka pemikiran Globalisasi, karena pada
hakikat-Nya inti berita Injil tidak dapat diubah. Apakah yang diubah adalah
‘kemasan’ pemberitaan Injil dan kemasan seperti apakah yang di harapkan dalam
tataran globalisasi dengan segala bentuk perubahan dan perkembangan yang terus
berubah.
Dalam kaitan dengan perkembangan telekomunikasi ini, kita
memiliki ini ada dua bentuk pendekatan
yang digunakan terhadap ini. Pendektan yang pertama adalah melihat perkembangan
ini dari sudut negative, sehingga menolak semua bentuk perkembangan dalam
telekomunikasi karena menurut kelompok ini, komunikasi membawa perubahan yang
jelek terhadap perkembangan kemanusiaan.[17]
Dan alasan yang juga dikembangkan adalah bahwa penginjilan
sepatutnya bukan hanya sekadar memberitakan Injil tetapi penginjilan adalah
hubungan yang manusiawi, personal, asli antara pemberita dengan orang lain.
Penginjilan mewajibkan kita untuk hadir dan bertemu dengan orang lain secara
personal dan alamiah, dalam rangka memperjuangkan, menghormati, dan menyemangati
kehidupan itu sendiri.[18]
Pendekatan kedua,
adalah yang lebih positif dari model pendekatan pertama, yaitu pendekatan yang
menerima bahkan menggunakan media telekomunikasi ini dengan sedemikian rupa
untuk penginjilan, dengan mencermati penginjilan yang paripurna (holistic) maka
golongan ini juga mencermati peran Iptek dalam mewujudkan keselamatan yang
paripurna dan seutuhnya baik dalam dunia maupun dalam menuju surge. Dalam hal
ini, Iptek kita lihat sebagai wahana untuk membawa kesejahteraan manusia, lahir
dan batin, di dunia dan di akhirat.[19]
Golongan ini,
menggunakan setiap teknologi yang ada untuk menyiarkan kabar baik melalui
televisi, radio, internet dan berbagai media lain yang memungkinkan untuk
menyampaikan hal ini, penginjilan bukan hanya sekedar kehadiran, tetapi lebih
dari itu merupakan komunikasi paripurna yang efektif dan karenanya dapat
memakai wahana teknologi untuk meningkatkan efektivitas dan keberhasilan.[20]
Penulis tidak
menolak kedua pendekatan di atas, tetapi penulis mencoba mensintesiskan kedua
pandangan di atas dalam suatu pendekatan bahwa penginjilan adalah menyampaikan
kabar baik tanpa menghilangkan esensi pemberitaan Injili dan bahwa penggunaan
teknologi hanyalah salah satu bagian dari komunikasi Injili yang efektif, sehingga
tidak menghapuskan upaya dalam pendekatan personal dalam pemberitaan Injil.
Perkembangan berikut yang hadir pada abad ini, sekalipun jika
dicermati ini telah hadir dan berakar dalam semua kebudayaan, adalah persoalan
mengenai kondisi masyarakat yang terdiri dari kepelbagian suku, agama dan
budaya yang bermuara kepada pluralisme. Leslie Newbigin menuliskan hal ini
dengan baik dalam pendahuluan bukunya
Kita sudah terbiasa mengatakan bahwa
kita hidup di dalam masyarakat yang majemuk – bukan hanya masyarakat yang pada
kenyataannya mejemuk dalam bermacam-macam kebudayaan, agama dan gaya hidup,
tetapi juga mejemuk dalam arti bahwa kemajemukan ini dirayakan sebagai perkara
yang disepakati dan dihargai.[21]
Pluralisme menolak sebuah kebenaran tunggal dan menerima serta
mengakui bahwa di semua tempat dan waktu selalu ada kebenaran masing-masing
sehingga tidak boleh ada yang mengkalim bahwa hanya dialah satu-satunya
kebenaran.
Dalam kaitan dengan pemberitaan Injil, pengakuan Iman Kristen bahwa
Yesus Kristus adalah satu-satunya kebenaran, dipertanyakan kembali dalam
konteks kini. Ini menjadi sebuah persoalan tersendiri dalam pemberitaan Injil.
Jika Injil dipahami sebagai berita tentang Yesus Kristus adalah satu-satunya
juruselamat bagi manusia, maka pemberitaan Injil menjadi sesuatu yang
dipertentangkan dan menjadi hal yang sangat tidak diharapkan.
Perkembangan dan kesadaran manusia akan “Human Rights”
melahirkan kesulitan tersendiri juga akan pemberitaan Injil, karena pemberitaan
injil dianggap merampas hak manusia untuk tetap ada dalam agama dan
kepercayaannya. Demi alasan kebebasan, pemberitaan Injil ditolak.
Semangat Post-modernisme yang menolak kesaksian berita Injil dengan
merelativkan kebenaran Injil menjadi catatan tersendiri dalam persoalan masa
kini. Berita Injil terus dirongrong, bahkan tidak jarang dibedah demi
rasionalitas, humanitas dan kesesuaian dengan perkembangan ilmu pengetahuan,
dan ini secara tidak langsung memberikan peluang sekularisasi Injil, sehingga
berita Injil bukan lagi menjadi berita sukacita dan keselamatan melainkan
diturunkan derajatnya pada tataran pragmatis.
Beberapa solusi alternatif coba dikembangkan oleh berbagai teolog
dalam kaitan dengan pembicaraan mengenai pemberitaan Injil dan konteks
pluralisme yang berkembang adalah dengan mengadakan dialog antar umat beragama,
bagi mereka memang penginjilan tetap merupakan perintah Allah yang tidak dapat
diturunkan derajatnya (taken for granted), tetapi kemajemukan juga merupakan
fakta yang tidak dapat dihilangkan.[22] Sehingga solusi yang coba ditawarkan adalah
mengenai dialog yang melaluinya Injil dapat diberitakan tanpa menghilangkan
kemajemukan[23]
Namun, metode dialog ini tidak sepatutnya dapat digunakan karena
seperti yang dijelaskan oleh Stevri Indra Lumintang, “bahwa metode dialog telah
merubah arti dan hakikat masing-masing agama, termasuk merubah arti agama
Kristen. Karena metode dialog ini telah melangkah lebih jauh dari metode dialog
sebelumnya, di mana dulunya dialog dilihat sebagai wadah persekutuan antar umat
beragama; namun dalam perkembangan selanjutnya, dialog menjadi usaha
masing-masing dan antar agama untuk mempelajari sampai pada taraf menerima
keabsahan, kebenaran semua agama.”[24]
Penulis lebih menyetujui pandangan Lumintang ini, karena pada
dasarnya kekristenan ortodoks dibangun diatas dasar dan pemahaman antithesis[25]
dan bukan sintesis[26]
dalam suatu pengertian bahwa kekeristenan pada dasarnya adalah kebenaran yang
sejati, jika berusaha mengkompromikan kekristenan pada suatu sisi dialog akan
menimbulkan suatu presuposisi mendasar atau sebuah jurang untuk terjebak dalam
situasi pluralisme.[27]
Meskipun demikian, penulis tidak serta merta menolak dialog antar
umat beragama dalam suatu pengertian sebagai sebuah pembuktian iman dan
pembelaan iman (apologetika) karena pada dasarnya “apologetika adalah
pengkomunikasian Injil kepada generasi masa sekarang dalam istilah-istilah yang
mereka pahami.”[28]
Ada begitu banyak lagi persoalan yang hadir di masa kini dalam
pemberitaan Injil, namun secara garis besar yang harus dihadapi Gereja dalam
konteks pemberitaan Injil adalah bagaimana Gereja dapat terus memberitakan Injil dengan terus
menjaga kemurniaan berita Injil dengan menghadirkan kerajaan Allah yang
teologis dan kontekstual.
Dengan kata lain, bagaimana Gereja menata kembali pola pemberitaan
Injil disesuaikan dengan konteks dan perkembangan masa kini, bagaimana
memberitakan Injil dalam masyarakat pengetahuan yang telah bertumbuh dalam
perkembangan telekomunikasi yang pesat, perkembangan Globalisasi dan
keterbukaan terhadap berbagai informasi dalam komunitas majemuk (pluralis) yang
menjunjung tinggi humanitas.
Roh Kudus dalam Penginjilan Masa Kini
Sebuah pertanyaan sederhana hadir dalam konteks pemberitaan Injil
di masa kini, dengan berbagai tantangan, perkembangan dari persoalan yang ada
dan konteks yang berbeda dengan konteks gereja mula-mula adalah apakah bagaimana
Roh Kudus berperan dalam pemberitaan Injil masa kini? Masihkah Roh Kudus
berkarya seperti pada masa lampau di awal Gereja berdiri? Dan bentuk seperti
apakah yang dikerjakan oleh Roh Kudus pada masa kini?
Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, hal pertama yang
perlu dilakukan adalah menerima dan mengakui bahwa “Alkitab adalah wahyu Allah kepada segala kebudayaan dan
dokumen tertinggi dan yang tak dapat ditandingi sebagai patokan tolak ukur
segala kebudayaan manusia dan suatu koreksi bagi segala jenis kebudayaan
manusia.”[29]
Berdasarkan kepada pengakuan ini, maka peran Roh Kudus masih berada
dalam tataran yang sama, yaitu menggerakkan setiap pribadi yang percaya untuk
memberitakan Injil, memperlengkapi orang percaya yang akan memberitakan Injil
dengan mengajar orang percaya tentang Injil, memberikan kekuatan untuk
memberitakan injil dan menjadi jaminan bagi keberhasilan pemberitaan Injil,
seperti yang terjadi pada gereja mula-mula.
Roh yang sama yang bergerak dalam pribadi dan karya para Rasul
mula-mula dalam pemberitaan Injil jugalah yang akan bergerak dalam pribadi dan
karya orang percaya pada masa kini dalam pemberitaan Injil.
[1]
Ada yang menyebut keharusan ini dengan sebuah sebutan “mandat missioner” yang
merupakan suatu kesetiaan kepada suatu perintah. (Lih. Leslie Newbigin, Injil
dalam Masyarakat Majemuk (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2010) hlm 163)
[2]
Salah satu penganiayaan terhebat dalam sejarah kekristenan ini dapat dilihat
pada masa pemerintahan Kaisar Nero (+ 64 M), di mana orang-orang Kristen
dituduh dengan tuduhan palsu, dimasukkan ke dalam penjara, diadu dengan singa
sambil dipertontonkan kepada begitu banyak orang, dipenggal kepalanya bahkan
ada yang dibakar hidup-hidup
[3]
Ini terjadi pada waktu Kaisar Konstantinus Agung memerintah sekitar tahun 312 M dengan dikeluarkannya edik
Milano yang menyatakan kekristenan sebagai agama negara.
[4]
Ini tampak dalam lima dokumen keesaan Gereja yang menyatakan bahwa tugas Gereja
adalah memberitakan Injil ( Lih. Lima Dokumen Keesaan Gereja, Jakarta:
BPK Gunung Mulia, 1996) hlm 24
[5]
Theo Kobong, Kerajaan Allah dan Amanat Agung dalam Visi Gereja
Memasuki Milenium Baru ed. Weinata Sairin (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2002)
hlm 118
[6]
Leslie Newbigin, Injil dalam Masyarakat Majemuk … hlm 166
[7]
Memang ada perdebatan mengenai penggunaan istilah keluar dari Bapa dan Anak (Filioque).
[8]
Herman N. Ridderbos, Injil Yohanes Suatu Tafsiran Theologis (Surabaya: Momentum, 2012) hlm
555
[9]
Hlm 784
[10]
Herman N. Ridderbos, Injil Yohanes Suatu Tafsiran Theologis, hlm, 555
[11]
R. C Sproul, Dasar-dasar Iman Kristen (Malang: Literatur SAAT, 1997) hlm
160
[12]
A. A Yewangoe,Tantangan Gereja Memasuki Abad ke XXI dalam Visi Gereja
Memasuki Milenium Baru ed. Weinata Sairin (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2002)
hlm 2
[13]
John Naisbitt, Global Paradox, (Jakarta: 1977) hlm 51 dalam A. A Yewangoe,Tantangan Gereja Memasuki
Abad ke XXI dalam Visi Gereja Memasuki Milenium Baru ed. Weinata
Sairin… hlm 2
[14]
A. A Yewangoe,Tantangan Gereja Memasuki Abad ke XXI, hlm 2
[15]
Yang dimaksud dengan merekonstruksi di sini adalah, kemampuan untuk menghadirkan
Gereja dalam konteks kekinian sehingga memberikan sumbangsih yang berarti atau
dengan kata lain Gereja harus dapat diakui sebagai tanda-tanda kerajaan Allah
di periode kini.
[16]
Ibid, hlm 7
[17]
Y.I. Iswarahadi, Beriman dan Bermedia, Antologi Komunikasi
(Yogyakarta: Kanisius, 2003) hlm 22
[18]
Ini dapat dibandingkan dengan penjelasan mengenai penginjilan model lama dari Rick Richardson dalam bukunya Reimagining Evangelism
(Merombak Citra Penginjilan), (Surabaya: Literatur Perkantas Jawa Timur,
2010) hlm 18
[19]
Jonathan L. Parapak, Pelaksanaan Pekabaran Injil di Tengah Perkembangan
Teknologi Komunikasi (Informasi) dalam Visi Gereja Memasuki Milenium Baru,
ed. Weinata Sairin , hlm 112
[20]
Ibid, hlm 116
[21]
Leslie Newbigin, Injil dalam Masyarakat Majemuk … hlm 1
[22]
Eka Darmaputera, Memberitakan Injil di Tengah Masyarakat Majemuk, dalam Visi
Gereja Memasuki Milenium Baru, ed. Weinata Sairin , hlm 127-128
[23]
Pandangan ini di dukung oleh begitu banyak teolog-teolog mainstream,
yang mengedepankan dialog antar umat beragama, dapat ditemukan dalam pandangan
A. A Yewanggoe, Eka Darmaputera dan banyak teolog lain lagi di Indonesia yang
menggunakan pendekatan ini.
[24]
Stevri Indra Lumintang, Theologia Abu-abu (Surabaya: Gandum Mas, 2009)
hlm 14
[25]
Pemahaman antithesis dapat dijelaskan secara sederhana bahwa jika sesuatu A,
maka yang lain bukan A, dalam hal ini jika kekristenan adalah kebenaran maka yang lain adalah salah.
[26]
Penalaran sintesis adalah penalaran yang menolak kebenaran dari berbagai pihak,
tetapi berusaha mencari kebenaran yang berbeda dengan menggabungkan kedua
penalaran di atas.
[27]
Bandingkan dengan penjelasan Francis A. Schaeffer, Allah Yang Ada di Sana
(Surabaya: Momentum, 2012)
[28]
Francis A. Schaeffer, Allah Yang Ada di Sana (Surabaya: Momentum, 2012)
hlm 201
[29]
Rainer Scheunemann, Misi dan Penginjilan dari Sudut Pandang Theologia-Theologia
Indonesia dalam Dipanggil Untuk Melayani (Malang: Literarur YPPII, 1998)
hlm 125 dalam Petrus Octavianus, Identitas Kebudayaan Asia dalam Terang
Firman Allah (Batu: … 1985) hlm 24
Sangat Memberkati. Terimakasih penulis!
BalasHapus