Di dunia ini, selain Yesus belum pernah ada manusia yang mengalami penderitaan seberat yang dialami oleh Ayub, di mana dia kehilangan semua yang begitu berharga hanya dalam selang waktu yang tidak lama, hartanya semua raib dalam hitungan menit, belum selesai dengar berita tentang hartanya yang hilang semua anak-anaknya mati dengan cara yang sangat mengenaskan, dan belum selesai sampai di situ saja tetapi juga dia mengalami suatu penyakit di sekujur tubuhnya (penyakit yang bagi saya, bukan hanya sakit tetapi juga memalukan), dan ternyata penderitaan ini tidak berhenti disitu saja, justru disaat-saat di mana dia (Ayub) membutuhkan dorongan moril dan semangat dari orang-orang yang dia kasihi dan dia sayangi yang ada justru penolakan dan cercaan serta penghakiman yang dia peroleh dari istrinya (orang yang sangat dekat dan paling di harap untuk menolong dia pada waktu seperti ini) bahkan teman-teman yang dari jauh yang datang untuk menghibur dia (yang menurut saya juga sangat di harapkan oleh Ayub untuk mendengarkan keluhan-keluhannya dan persoalannya) justru menghakimi dia...bahkan ketika Ayub berkata bahwa dia telah hidup menurut apa yang TUHAN perintahkan tidak ada yang mempercayainya...
Maka berkatalah isterinya kepadanya: "Masih bertekunkah engkau dalam kesalehanmu? Kutukilah Allahmu dan matilah!" (Ayub 2: 9)
Maka berbicaralah Elifas orang Teman ............... Camkanlah ini siapa binasa dengan tidak bersalah, dan dimanakah orang jujur dipunahkan? yang kulihat ialah bahwa orang yang membajak kejahatan dan menabur kesusahan, ia menuainya juga mereka binasa oleh nafas Allah dan lenyap oleh hembusan hidung-Nya (Ayub 4: 1, 7-9) ....... dan dapat dilihat dalam keseluruhan pasal 4, 5, 15
Maka berbicaralah Bildad orang Suah......... masakan Allah membengkokkan keadilan? masakan yang mahakuasa membengkokkan kebenaran? ..... Ketahuilah Allah tidak menolak orang yang saleh? dan Ia akan memegang tangan orang yang berbuat jahat. (Ayub 8: 1, 3, 20) .... dan dapat dibaca dalam Ayub psal 8 secara keseluruhan, pasal 18, 25
Maka berbicaralah Zofar orang Naama... Jika engkau menjauhkan kejahatan dalam tanganmu, dan tidak nenbiarkan kecurangan ada dalam kemahmu (Ayub 11: 1, 14) .... dan dapat dibaca dalam keseluruhan pasal 11, 20, 22
bagaimana teman-teman Ayub menyatakan bahwa semua yang Ayub alami adalah akibat dari dosa yang dia perbuat, dan ketidakmengertian dia akan keadilan Allah, bahwa Allah pasti menghukum orang berdosa.
sungguh suatu penderitaan yang tidak terkira, secara fisik dia telah terluka, namun yang sangat menyiksa adalah tekanan batin yang di berikan oleh teman-temannya bahwa semua yang Ayub alami adalah akibat dosa yang telah dia perbuat...
dunia sekan runtuh bagi Ayub, atau dengan kata pepatah sudah jatuh tertimpa tangga lagi, sudah tidak ada yang percaya lagi kepada Ayub, semua pergi dari Ayub. ironis memang, kalau saya sedikit berandai-andai jika Ayub tidak memiliki hati yang tegar mungkin saja dia sudah kena stroke, strees atau bahkan bunuh diri. semua yang pernah dia bantu ketika dia masih kaya justru tidak ada yang datang menghibur dia, kehidupannya yang dahulu bahagia di kelilingi oleh begitu banyak orang di sekitar dia ketika dia kaya, justru tidak ada satupun yang memunculkan batang hidungnya ketika dia mengalami musibah...!!!
Mengenaskan,,, saya tidak bisa bayangkan bagaimana perasaan Ayub pada saat itu, dia yang selalu membantu orang lain, menolong orang pada saat susah, menghibur orang yang sedang berdukacita, atau dengan kata lain selalu ada buat orang lain ketika orang lain membutuhkan, namun ketika dia membutuhkan orang lain bahkan sangat-sangat membutuhkan justru mereka semua pergi menjauh bahkan yang datang hanya celaan, hinaan dan penghakiman bahwa dia berdosa dan layak untuk mendapatkan hukuman.
seringkali kita ada dalam posisi Ayub (walau secara kuantitas dan kualitas penderitaan berbeda). kita mengalami suatu penderitaan yang datang bertubi-tubi, mungkin kehilangan saudara, orang tua, sahabat atau orang yang kita kasihi dalam waktu yang bersamaan atau dalam kurun waktu yang dekat, dan juga ketika kita mengharapkan adanya dorongan moril, penghiburan dari orang-orang di sekitar kita tetapi yang terjadi justru mereka menjauhi kita, mencela, menghina, menghakimi dan menertawakan penderitaan kita. mungkin tidak masalah jika yang menghina kita adalah orang yang memang membenci kita, tapi jika adalah orang yang selalu kita tolong dan selalu ada dengan kita adalah sesuatu yang sangat menyakitkan. sehingga dalam kondisi seperti ini kita bisa berkata "lebih baik memiliki 10 lawan yang berkompeten daripada seorang teman yang bodoh" hehehhe
atau justru seringkali kita berada dalam posisi sebagai teman-teman Ayub yang bisa nya hanya menghakimi, menggurui dan mencela? ini saatnya kita instropeksi diri masing-masing, dan berdoa kepada TUHAN supaya kita diberi kebijaksanaan dalam menanggapi suatu persoalan yang ada,tidak cepat menghakimi.
dan jika kita ada dalam posisinya Ayub marilah kita belajar untuk melihat bahwa di balik setiap peristiwa pasti ada rencananya TUHAN yang indah, karena TUHAN mempunyai rencana yang beda buat masing-masing ciptaannya. dan jangan pernah kita menyesali satu haripun dalam hidup ini, karena hari yang baik adalah untuk kebahagian tetapi hal yang buruk ada untuk menjadi pengalaman dan kiranya juga kita belajar untuk mengampuni dan mendoakan orang-orang yang telah menghina kita seperti Ayub. Ayub 42: 10, milikilah hati yang lapang untuk menampung semua kepahitan dan tetap berdoa kepada TUHAN. jangan pernah menyerah ketika menghadapi suatu permasalahan, karena kalo kita menyerah maka kita akan menjadi sterss dan stroke...wkwkwkkww....peac
e...!!!
semoga ada yang menambahkannya pada komentar-komentarnya supaya semakin jelas apa yang harus kita perbuat ketika semua pergi meninggalkan dan menjauhi kita...!!! Tuhan memberkati
Hal yang sangat menyedihkan adalah saat kau jujur pada temanmu, dia berdusta padamu… Saat dia telah berjanji padamu, dia mengingkarinya…. Saat kau memberikan perhatian, dia tidak menghargainya…
Hal yang sangat menyakitkan adalah saat kau mengirimkan e-mail pada temanmu, dia menghapus tanpa membacanya… Saat kau membutuhkan jawaban dari e-mailmu, dia tidak menjawab dan mengacuhkannya… Saat bertemu dengannya dan ingin menyapa, dia pura2 tidak melihatmu… Saat kau mencintainya dengan tulus tapi dia tidak mencintamu… Saat dia yang kau sayangi tiba2 memutuskan hubungannya denganmu…
Hal yang sangat mengecewakan adalah kau dibutuhkan hanya pada saat dia dalam kesulitan… Saat kau bersikap ramah, dia terkadang bersikap sinis padamu… Saat kau butuh dia untuk berbagi cerita, dia berusaha untuk menghindarimu…
Jangan pernah menyesali atas apa yang terjadi padamu… Sebenarnya hal-hal yang kau alami sedang mengajarimu…
Saat temanmu berdusta padamu atau tidak menepati janjinya padamu atau dia tidak menghargai perhatian yang kau berikan…. sebenarnya dia telah mengajarimu agar kau tidak berprilaku seperti dia…
Saat temanmu menghapus e-mail yang kau kirim sebelum membacanya atau saat bertemu dengannya dan ingin menyapa, dia pura2 tidak melihatmu… sebenarnya dia telah mengajarkanmu agar tidak berprasangka buruk & selalu berpikiran positif bahwa mungkin saja dia pernah membaca e-mail yang kau kirim… atau mungkin saja dia tidak melihatmu…
Dan saat dia tidak menjawab e-mailmu… sebenarnya dia telah mengajarkanmu untuk menjawab e-mail temanmu yang membutuhkan jawaban walaupun kau sedang sibuk dan jika kau tidak bisa menjawabnya katakan kalau kau belum bisa menjawabnya jangan biarkan e-mailnya tanpa jawaban karena mungkin dia sedang menunggu jawabanmu…
Saat kau mencintainya dengan tulus tapi dia tidak mencintaimu atau dia yang kau sayangi tiba2 memutuskan hubungannya denganmu sebenarnya ….Dia sedang mengajarimu untuk menerima rencanaNya…
Saat kau bersikap ramah tapi dia terkadang bersikap sinis padamu… sebenarnya dia sedang mengajarimu untuk selalu bersikap ramah pada siapapun…
Saat kau butuh dia untuk berbagi cerita, dia berusaha untuk menghindarimu… sebenarnya dia sedang mengajarimu untuk menjadi seorang teman yang bisa diajak berbagi cerita, mau mendengarkan keluhan temanmu dan membantunya…
Bila kau dibutuhkan hanya pada saat dia sedang dalam kesulitan… sebenarnya juga telah mengajarimu untuk menjadi orang yang arif & santun, kau telah membantunya saat dia dalam kesulitan…
Begitu banyak hal yang tidak menyenangkan yang sering kau alami atau bertemu dengan orang2 yang menjengkelkan, egois dan sikap yang tidak mengenakkan… Dan betapa tidak menyenangkan menjadi orang yang dikecewakan, disakiti, tidak dipedulikan/dicuekin, tidak dihargai, atau bahkan mungkin dicaci dan dihina…
Yang paling berharga adalah.Sebenarnya orang2 tsb. sedang mengajarimu untuk melatih membersihkan hati & jiwa, melatih untuk menjadi orang yang sabar dan mengajarimu untuk tidak berprilaku seperti itu…
Mungkin Tuhan menginginkan kau bertemu orang dengan berbagai macam karakter yang tidak menyenangkan sebelum kau bertemu dengan orang yang menyenangkan dalam kehidupanmu dan kau harus mengerti bagaimana berterimakasih atas karunia itu yang telah mengajarkan sesuatu dalam hidupmu.
Setelah cukup lama tidak mempost sebuah catatan lagi, saya berpikir untuk menuliskan lagi sesuatu kali ini. Ini terinspirasi dari tidur saya semalam (kamis 19 November 2009) di mana saya bermimpi tentang seorang teman saya yang cukup dekat dengan saya (ya, walaupun saya tidak terlalu percaya dan pada mimpi, karena bagi saya mimpi adalah bunga tidur yang sering kita dapat ketika kita kelelahan namun saya namun saya masih memberi sedikit ruang untuk setidaknya melihat bahwa terkadang mimpi di pakai oleh TUHAN untuk mengingatkan kita, walaupun ini tidak mutlak) seperti kisah Yusuf dll… hehehhe
Karena Allah berfirman dengan satu dua cara, tetapi orang tidak memperhatikannya. Karena Allah berfirman dengan satu dua cara, tetapi orang tidak memperhatikannya. Dalam mimpi, dalam penglihatan waktu malam, bila orang nyenyak tidur, bila berbaring di atas tempat tidur,(ayub 33:14-15)
Dalam mimpi itu saya melihat seorang teman saya, yang cukup dekat dengan saya sedang bergaul dengan seseorang yang saya tidak tahu siapa, tetapi pergaulannya itu sudah menuju kepada suatu keadaan di mana teman saya ini di bawa untuk menjauh dari TUHAN, dan mimpi ini saya dapat dua kali karena pada mimpi yang pertama saya terbangun kemudian tidur lagi dan masih saja bermimpi hal yang sama…dan ketika pagi terbangun saya teringat akan perkataan Rasul Paulus kepada jemaat di Korintus
Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik. Sadarlah kembali sebaik-baiknya dan jangan berbuat dosa lagi! Ada di antara kamu yang tidak mengenal Allah. Hal ini kukatakan, supaya kamu merasa malu. (I Korintus 15:33-34)
Manusia dilahirkan sebagai makhluk religius, makhluk yang tahu bahwa ada TUHAN, sehingga tidak ada manusia yang lahir sebagai Atheis. Dan juga manusia dilahirkan sebagai makhluk sosial, makhluk yang membutuhkan sesama untuk membantunya, tidak ada manusia yang dapat hidup sendiri, Tarzan yang dalam ceritanya dibesarkan di hutan saja, masih butuh gorilla untuk membantu dia hidup, bahkan ketika dia bertemu dengan sesama manusia di dalam hutan itu saja, dia masih membutuhkan manusia yang lain untuk membantu dia menjaga kelestarian hutan di mana dia tinggal, ini membuktikan bahwa manusia selalu adalah makhluk yang ingin membangun’ relasi dengan orang-orang di sekitarnya (kita saja punya teman yang banyak di daftar facebook kita kan? Hehehehhe). Baik itu relasi dalam bentuk hubungan keluarga, saudara atau persahabatan, dan kali ini saya mencoba menyoroti relasi persahabatan itu.
Ada sebuah kata-kata yang pernah say a baca ‘jika ingin menjadi seorang penulis, bergaullah dengan seorang penulis, begitu juga jika ingin menjadi seorang penjahat dan buronan bergaullah dengan seorang penjahat dan buronan’, artinya ingin menjadi apa kita kelak dibentuk dan dipengaruhi oleh dan dengan siapa kita bergaul sekarang. Mungkin ada yang berkata ini tidak mutlak, ya dan memang tidak mutlak tapi kebanyakan yang terjadi adalah seperti itu. Dalam ilmu psikologi di kenal dengan yang namanya factor eksternal yang mempengaruhi seseorang dan salah satunya lingkungan (hehehehehe…sok tau gw tentang psikologi)
Back to topic… Pergaulan, persahaban itu punya pengaruh yang cukup signifikan dalam hidup kita, (Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik) Rasul Paulus mengingatkan itu kepada jemaat di Korintus, sebuah jemaat yang cukup besar dan jemaat yang dikaruniai banyak kasih karunia dari TUHAN, bahwa ‘ada diantara mereka(jemaat) yang tidak mengenal Allah’ sesuatu yang cukup mencengangkan di dalam jemaat (yang notabene menyebut dirinya Kristen) tapi ada yang tidak mengenal Allah. ini jadi pelajaran penting buat kita bahwa dalam persekutuan kita ternyata ada orang yang tidak mengenal Allah (saya berpikir untuk tidak menjelaskan kenapa Paulus menyebut mereka tidak mengenal Allah karena itu sudah termuat sangat jelas dalam keseluruhan suratnya kepada jemaat di korintus). Ini yang berbahaya, karena terkadang kita tertipu dengan penampilan seseorang, kelihatanya dia baik, care dan ya cukup ganteng, cantik atau rohani, tetapi ini tidak cukup karena yang harus kita cari adalah orang yang mengenal Allah, mengenal bukan hanya sekedar dalam pengetahuan saja tetapi juga dalam persekutuan dengan TUHAN.
INTINYA JIKA KITA INGIN MENCARI SAHABAT, CARILAH SAHABAT YANG DAPAT MEMBAWA KITA MAKIN DEKAT DENGAN TUHAN, MAKIN RINDU MEMPELAJARI FIRMAN TUHAN DAN MAKIN BERTUMBUH DALAM IMAN, KASIH DAN PENGHARAPAN KEPADA TUHAN (dan semoga gw salah satunya…hehehehehe…becanda
) Persahabatan diwarnai dengan berbagai pengalaman suka dan duka, dihibur - disakiti, diperhatikan - dikecewakan, didengar - diabaikan, dibantu - ditolak, namun semua ini tidak pernah sengaja dilakukan dengan tujuan kebencian. Seorang sahabat tidak akan menyembunyikan kesalahan untuk menghindari perselisihan, justru karena kasihnya ia memberanikan diri menegur apa adanya. Sahabat tidak pernah membungkus pukulan dengan ciuman, tetapi menyatakan apa yang amat menyakitkan dengan tujuan sahabatnya mau berubah.
Lalu bagaimana jika kita sudah terlanjur bersahabat dengan orang yang membawa kita makin jauh dari TUHAN? Paulus bilang dalam suratnya ‘Janganlah kamu sesat…dan juga Sadarlah kembali sebaik-baiknya dan jangan berbuat dosa lagi!, mungkin ada yang bilang masa kita tidak boleh bersahabat dengan orang berdosa untuk memenangkan mereka? Dalam surat ini konteksnya berbeda, dalam bagian ini orang-orang yang percaya sudah terpengaruh pada ajaran-ajaran dari orang yang tidak mengenal Allah sehingga Paulus bilang sadarlah, nah kita bisa saja bersahabat dengan orang-orang tersebut asalkan kita yang mempengaruhi mereka untuk jadi lebih baik dan bukan mereka yang mempengaruhi kita. Tetapi kenyataan yang sering terjadi bagaimana???
Tidak ada persahabatan yang diawali dengan sikap egoistis. Semua orang pasti membutuhkan sahabat sejati, namun tidak semua orang berhasil mendapatkannya. Banyak pula orang yang telah menikmati indahnya persahabatan, namun ada juga yang begitu hancur karena dikhianati sahabatnya.
Ingatlah kapan terakhir kali kamu berada dalam kesulitan. Siapa yang berada di samping kamu ?? Siapa yang mengasihi kamu saat kamu merasa tidak dicintai ?? Siapa yang ingin bersama kamu saat kamu tak bisa memberikan apa-apa ? dan siapa yang membuat kamu untuk terus yakin bahwa TUHAN YESUS tidak pernah meninggalkan mu?
Yesus Kristus adalah satu-satunya Juruselamat dunia (Yoh. 14:6). Pengakuan ini bukanlah hanya sebuah pengakuan yang dibuat-buat oleh Gereja mula-mula atau para pengikut-Nya pada abad mula-mula, tetapi pengakuan ini adalah sebuah pengakuan yang benar-benar lahir dari sebuah hasil pengujian yang kompeherensif terhadap suatu runtutpemikiran yang logis, lahir dari pengujian empiris yang kokoh dan juga lahir dari sebuah iman yang sejati, iman yang didasarkan kepada Alkitab sebagai satu-satunya Firman Allah, dan yang juga harus selalu diingat bahwa pengakuan ini datangnya dari pihak Tuhan yang memampukan kita untuk mengakui ini melalui karya Roh Kudus bukan karena kita memiliki kemampuan itu ( Matius 16:17)
Yesus Kristus layak menjadi satu-satunya Juruselamat dunia, karena dari lahir, kehidupan sampai mati-Nya, Dia menunjukkan bahwa kepenuhan Allah ada di dalam diri-Nya, bahkan Dia adalah Allah sejati (Yoh.1:1). Allah yang menjadi sama dengan manusia untuk menyelamatkan dan menebus manusia dari dosa dan penghukuman yang sepatutnya ditimpakan kepada manusia. Di dalam sejarah kehidupan manusia, tidak pernah ada manusia yang seperti Dia. Musa, Daud, Socrates, Plato, Kong Fu Tze, Muhammad, Mahatma Gandhi, Bunda Teresa, bahkan Barack Obama yang begitu familiar pada saat ini atau siapapun tidak ada yang sama seperti Yesus, Yesus begitu berbeda, begitu agung, begitu mulia dan begitu tinggi jika dibandingkan dengan semua manusia yang pernah ada dan hidup di dunia ini.
Kini kita berada di Bulan Desember. Bulan Desembermenjadi bulan dimana orang percaya merayakan kelahiran Yesus di tengah dunia yakni tanggal 25 Desember. Meski dari sudut sejarah tak ada tanggal paling pasti tentang kelahiran Yesus, namun perayaan Natal per 25 Desember sudah menjadi tradisi Kristen berabad-abad, karena makna perayaan hari besar suatu agama tidak mesti bertempat pada akurasi hitungan hari dan tanggal, tapi bagaimana merevitalisasi makna-makna di balik perayaannya dan bagaimana melalui perayaan tersebut manusia diingatkan bahwa hanya karena kasih Allah mau turun ke dalam dunia, di dalam kandang yang hina, menjadi sama dengan manusia untuk menebus dan menyelamatkan manusia. “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, Tuhan kita, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Yoh. 3:16)
Persoalan mengenai apakah mungkin Allah menjadi manusia dalam diri Yesus Kristus merupakan suatu persoalan yang cukup pelik karena konsep Allah menjadi manusia adalah suatu konsep yang tidak dapat diterima oleh akal manusia (tetapi ini tidak berarti bahwa konsep ini adalah konsep yang irasional justru sebaliknya konsep ini adalah konsep yang supra-rasional (melampaui akal manusia) sehingga seharusnya ketika manusia tidak dapat mengerti akan persoalan ini maka manusia harus menyadari bahwa pekerjaan Allah tidak dapat manusia selami dengan akal mereka (Pengkhotbah 8:17), karena jika manusia dapat memahami keseluruhan pekerjaan Allah maka Allah tidak layak disebut sebagai Allah lagi. Tetapi kenyataan yang terjadi justru sebaliknya! Manusia yang tidak memahami persoalan ini dengan akal mereka menyatakan bahwa konsep ini harus ditolak, harus dibuang dengan alasan-alasan superioritas ilmu pengetahuan dan keselarasan akal mereka…!!! Bagi kebanyakan orang Yesus sebenarnya bukan Allah karena tidak mungkin Allah menjadi Allah yang terbatas dalam waktu dan materi dalam tubuh lemah manusia bahkan dalam tubuh kecil, miskin, papah dan hina yaitu dalam sebuah bayi kecil karena Allah adalah Roh (Yoh. 4:24) bahkan Roh yang mahatinggi, Dia ada dengan sendirinya dan Dia sempurna tanpa batas.Sehingga bertolak dari pemahaman ini begitu banyak orang yang menolak mengakui bahwa Yesuslah Tuhan dan Allah sejati.
Berbicara tentang Allah menjadi manusia dalam diri Yesus Kristus yang berkaitan dengan Natal maka seharusnya kita tidak boleh melepaskan diri dari pemahaman yang Alkitab berikan tentang misteri Inkarnasi dan juga tentang Kenosis dan bukannya harus bergantung dan berharap kepada akal manusia, karena akal manusia dapat juga salah, akal manusia juga dapat menyesatkan bahkan Alkitab berkata bahwa tidak ada seorangpun yang berakal budi (Roma 3: 11) bagaimana Allah dengan rela mengosongkan diri dan mengambil rupa seorang hamba dan menjadi sama dengan manusia agar kita dapat memahami dengan jelas makna daripada natal tersebut, “yang walaupun dalamrupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipethankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri (Kenosis) dan mengambil rupa seorang hamba dan menjadi sama dengan manusia (Fil. 2:6-7).
Kata inkarnasi sendiri berasal dari bahasa latin yang terdiri dari 2 kata yaitu in yang berarti masuk dan carne yang berarti daging jadi Inkarnasi berarti masuk ke dalam daging, jadi inkarnasi dalam pengertian yang ditujukan kepada Yesus adalah Yesus Kristus yang adalah Allah, Allah yang adalah Roh, turun ke dalam dunia dan mengambil tubuh sebagaimana tubuh kita sekarang. Kita sulit untuk merenungkan secara tuntas atau menghayati kedalaman maknanya. Kita memiliki tubuh dan daging, di mana ketika dikatakan Kristus menjadi daging, lalu kita melihat diri kita, maka Kristus menjadi seperti kita. Kita tidak mengerti secara tuntas perendahan itu seperti apa karena kita tidak pernah bereksistensi sebagai Roh seperti Allah dan para malaikat. Ini menunjukkan betapa agung dan betapa mulia dan betapa hebatnya pekerjaan Allah. Inkarnasi dalam pengertian secara konsep mudah dipahami, tetapi dalam penghayatan begitu sulit untuk mengerti. Ini tidak berarti ada dualisme antara konsep dan penghayatan, bukan! Melainkan justru konsep itu sungguh-sungguh kita mengerti ketika kita juga menghayatinya. Di dalam iman Kristen kadang-kadang kita justru kagum di dalam kekurang-mengertian secara tuntas, kita kagum dan terharu, dan di dalam keadaan seperti itulah kita mengasihi dan menyembah Tuhan kita.
Theologia Reformed memiliki inti doktrin yaitu kedaulatan Allah, di mana salah satunya Inkarnasi adalah bentuk kedaulatan Allah. Artinya, Allah yang Berdaulat adalah Allah yang Berdaulat membatasi diri-Nya yang kekal untuk menjadi manusia yang terbatas. Jika Allah tidak bisa menjadi manusia, masih layakkah Allah disebut Allah ? Di sini, kegagalan konsep sebuah agama (antroposentris) yang mati-matian mengatakan Yesus itu hanya manusia/nabi saja dan bukan Allah. Di dalam Inkarnasi Kristus, Kekekalan bertemu dengan kesementaraan, sehingga kesementaraan memiliki makna hidup di dalam perspektif Kekekalan. Sehingga kalau Kristus tidak pernah menjadi manusia di dalam Inkarnasi, bagaimana jadinya hidup manusia yang sementara ini ?Hidup yang tidak berada di dalam perspektif kekekalan Kristus adalah hidup yang sia-sia dan tanpa pengharapan. Natal…!!! Kristus turun untuk membawa manusia ke atas, kembali kepada Allah.
Tradisi yang berkembang di NTT ketika merayakan Natal adalah natal identik dengan rumah yang di cat baru, dan banyak lagi yang “berbau baru” tetapi orang Kristen telah melupakan makna Natal yang sesungguhnya.Natal berarti Allah yang begitu tinggi dan kekal masuk ke dunia yang rendah dan sementara agar yang sementara dan rendah itu memiliki arti. Inilah Natal sehingga ketika kita mempersiapkan diri kita untuk merayakan Natal adalah bagaimana kita membuat hidup kita menjadai garam dan terang, menjadi saksi buat Tuhan.
Alkitab memberi kesaksian kepada kita, bahwa dalam peristiwa Natal bagaimana Tuhan membatasi diri ketika Allah menjadi manusia, bahkan Allah bukan turun di tempat yang terhormat, bukan sebagai anak raja atau bangsawan tetapi justru Allah turun dari tempat yang paling tinggi menuju tempat yang paling rendah diantara semua manusia, bahkan kelahiran-Nya saja tidak memiliki tempat. Benarlah apa yang Yesus sendiri katakan kepada murid-murid-Nya bahwa serigala mempunyai liang… tetapi Anak manusia tidak punya tempat untuk meletakkan kepala-Nya (Matius 8:20) ini menunjukkan betapa Allah begitu mengasihi manusia sehingga Allah rela untuk menjadi sama dengan manusia bahkan sangat amat terhina (Yoh 3:16). Kita yang tidak sama seperti Allah tidak bisa sungguh-sungguh mengerti perendahan itu, karena sesama manusia kita berada dalam posisi yang sama. Kita tidak pernah menurunkan diri menjadi ciptaan yang lebih rendah sehingga kita sungguh mengerti apa yangKristus lakukan. Perendahan yang dilakukan oleh Kristus merupakan penyerahan diri yang absolut, mutlak, sempurna, tidak bisa dilampaui oleh siapapun karena sebagai Pencipta masuk dalam dunia ciptaan. Itu suatu penyangkalan diri yang luar biasa! Kita tidak mungkin turun ke dalam dunia tersebut seperti yang Yesus lakukan untuk mengerti inkarnasi, bahkan seandainya menjadi pasir pun kita tetap di dalam dunia ciptaan, ciptaan yang lebih tinggi menuju ciptaan yang lebih rendah. Tetapi Yesus Kristus dari Pencipta menjadi seperti ciptaan, seperti dikatakan oleh Kierkegaard, a qualitative difference, menjadi suatu kehidupan di dalam dunia ciptaan, terbatas seperti manusia yang terbatas.
Ini misteri yang begitu besar, sehingga ketika kita merayakan Natal sepatutnya kita merayakannya dengan penuh perasaan hormatdan penyembahan kepada Tuhan seperti apa yang dilakukan oleh para gembala dan orang Majus dan jangan seperti Herodes yang berada pada ketakutan akan kehilangan posisinya sebagai raja, sebabYesus layak disembah dan di puji oleh semua manusia karena Yesus adalah 100% Allah dan 100% manusia. Doktrin dwi-natur Yesus ini banyak diserang oleh orang-orang dunia bahkan beberapa orang “Kristen” sendiri (misalnya, kaum Unitarian). Mereka berkata bahwa ini tidak masuk akal. Benar, ini tidak masuk akal kita yang terbatas dan berdosa, tetapi sangat masuk akal bagi Allah yang kekal dan Mahakudus. Mengapa Yesus harus berdua natur ini ? Mengapa tidak cukup satu natur ? Mari kita memikirkannya. Yesus bernatur Allah, karena hanya Allah yang sanggup dan mampu menebus dosa manusia. Tetapi bagaimana cara Allah menebus dosa manusia, jika Ia sendiri tidak menjelma menjadi manusia ? Oleh sebab itu, Yesus harus bernatur manusia, karena Allah tidak bisa mati, sedangkan manusia bisa mati. Dengan dwi-natur Yesus, Ia bisa mati sekaligus menebus dosa manusia.
Hal kedua yang perlu kita pikirkan dan renungkan tentang natal adalah menyangkut dengan kenosis. Kata "KENOSIS" (mengosongkan diri) berasal dari kata Yunani κενοω - Kenoô. Ini berasal dari kata kerja εαυτον εκενωσεν - heauton ekenosen, 'Ia mengosongkan diriNya sendiri', Filipi 2:7 : Dalam rangka penafsiran Filipi 2:7 ini, 'kenosis' tidak berarti penjelmaan-Nya menjadi manusia tapi penyerahan akhir dari hidup-Nya, dengan mengorbankan diriNya di kayu salib. Meskipun tafsiran yang baru ini bisa dianggap agak di-paksakan. namun tafsiran ini mengarahkan kita pada jalan yang benar. Kata-kata 'mengosongkan diriNya' dalam Filipi 2:7 sama sekali bukan berkata bahwa Dia melepaskan sifat-sifat ilahi, dan karena itu teori 'kenosis adalah tafsiran yang keliru tentang istilah-istilah Kitab Suci. Menurut Ilmu Bahasa, 'mengosongkan diri sendiri' harus ditafsirkan sesuai dengan kata-kata berikutnya. Yang dimaksudkan di sini adalah 'pelepasan hak-hak sebelum inkarnasi bertautan dengan tindakan "mengambil rupa seorang hamba'" (V Taylor, The Person of Chris: in New Testament Teaching. 195R, hlm 77). Hal mengambil rupa seorang hamba menyangkut juga pembatasan yang perlu terhadap kemuliaan. yang ditanggalkan supaya Ia bisa dilahirkan menjadi 'sama seperti manusia'. Kemuliaan dalam kesatuan-Nya dengan Bapak (Yohanes 17:5, 24) yang sudah dari semula dimiliki-Nya, karena dari kekal Dia 'dalam rupa Allah' (Filipi 2:6), kemuliaan itu yang tersembunyi dalam 'rupa seorang hamba' yang Dia ambil pada waktu Ia mengambil hakikat dan rupa manusia (menjadi manusia). Dalam menerima kemanusiaan kita. Dia menerima juga panggilan-Nya sebagai hamba Tuhan yg merendahkan diriNya sendiri sampai mengorbankan diriNya sendiri di Golgota.Jadi kenosis itu mulai di hadirat Bapa-Nya dengan pilihan-Nya yang mendahului penjelmaan itu untuk mengambil rupa manusia. Pilihan itu membawa-Nya pada ketaatan terakhir di kayu salib, ketika Dia sepenuh-penuhnya menyerahkan nyawa-Nya sampai mati (lihat Roma 8:3; 2 Korintus 8:9; Galatia 4:4-5; Ibrani 2:14-16; 10:5)
Ada sebuah kalimat yang cukup menyentuh saya ketika masih melayani dan berada di Papua untuk menguatkan kami untutk tetap focus melayani Tuhan sekalipun ada di tempat terpencil yaitu bahwa “jalan untuk naik itu turun”dari perspektif ini saya coba melihat bahwa Natal bukan hanya Allah jadi manusia tetapi juga berarti Allah mengosongkan diri-Nya dan rela taat sampai mati bahkan mati di Kayu salib untuk mengerti dan memahami serta menunjukkan jalan keluar terhadap semua masalah yang manusia alami yaitu dosa.. Jadi Natal berarti mengarahkan pandangan kita menuju SALIB.
Banyak dari kita ketika merayakan Natal adalah dengan menghias pohon natal, membuat kandang domba dan palungan, dan semua yang bernuansa kemewahan tetapi jarang dari kita yang merayakan Natal dengan hiasan SALIB, sehingga terkadang membaut kita terlena dan lupa bahwa Natal (palungan, pohon natal, lampu kerlap-kerlip, dll) sebenarnya adalah suatu titik awal dimana Yesus akan menuju salib untuk menanggung semua dosa manusia. Natal adalah kerendahan hati dan kerelaan untuk menderita. Augustinus ketika ditanya oleh seseorang yang ingin mengetahui rahasia kehidupan kekristenan menjawab ada 3 hal yang sangat penting yaitu kerendahan hati, kerendahan hati, dan kerendahan hati. Seperti seolah-olah selain kerendahan hati tidak ada yang lain karena kerendahan hati begitu sulit untuk mendapatkannya, bukan karena di luar kerendahan hati tidak ada topik yang lain di dalam kekristenan. Kerendahan hati begitu sentral dan begitu pokok dan ketika kita menyaksikan kehidupan Kristus sendiri, kita melihat DiriNya dan seluruh hidupNya, adalah kehidupan kerendahan hati.
Banyak dari kita bahkan tidak jarang Gereja-Gereja yang ada ketika menyambut natal maka yang di tingkatkan adalah pelayanan Diakonia (pelayanan kasih) dan membuat begitu banyak perkunjungan ke tempat-tempat yang di mana ada orang-orang yang dianggap terbuang (penjara, panti asuhan, panti jompo dll). Ini adalah sesuatu yang cukup menarik dan seakan-akan menunjukkan spirit Kenosis (mengosongkan diri)bahwa kita juga merasakan apa yang mereka rasakan. Tetapi justru jika di tilik dengan seksama dan jika kita harus jujur maka makna kerendahan hati dan kenosis yang kita cicipi sangat minim bukan? Mengapa? Karena biasanya kita hanya sementara waktu saja ada di ‘tempat penderitaan’ itu. Penulis bukan mengkritik atau mempersoalkan program pelayanan tersebut tetapi yang mau penulis tekankan dalam hal ini ketika kita mau merayakan natal adalah dengan menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.
Kita ada dalammasa di mana ada begitu banyak peristiwa dan musibah yang terjadi. Natal berarti suatu bentuk kerelaan untuk merasakan pergumulan masyarakat yang dialami. Kita hanya dapat mengetahui dan merasakan pergumulan yang dialami oleh masyarakat hanya apabila kita mau menanggalkan keegoan kita dan “mengosongkan diri kita” untuk turundi masyarakat bahkan “rela mati” buat mereka, Seperti Kristus yang tetap mengasihi manusia bahkan ketika Dia disalibkan pun, Dia masih sempat berdoa kepada Bapa agar mereka yang menyalibkan-Nya di ampuni karena mereka tidak tau apa yang mereka perbuat.
Akhirnya Puji Tuhan, Kristus lahir di dunia ini, kelahiran-Nya bukan seperti kelahiran orang biasa (atau orang “suci”), tetapi kelahiran-Nya sangat khusus, karena kelahiran-Nya adalah Inkarnasi (=Allah menjadi manusia) yang dari kekekalan menembus ke dalam kesementaraan, dari kemuliaan menuju kerendahan dan kehinaan agar manusia yang miskin jadi kaya, yang lemah dan tak berdaya jadi kuat, yang tidak berarti menjadi berarti. Biarlah Natal tahun ini, bukan sebagai perayaan religius yang tanpa arti, perayaan rutinitas, atau perayaan sekuler tanpa makna Natal sesungguhnya, tetapi Natal tahun ini adalah Natal Inkarnasional dan kenosis, yaitu kita mengingat kelahiran Kristus sebagai Inkarnasi dan pengosongan diri yang absolute guna menebus dosa manusia dan membawa kedamaian sejati bagi manusia pilihan-Nya. Ketika Allah mau menjadi manusia demi kita yang najis, berdosa, bobrok, rusak total, dll, ingatlah, itu semua terjadi karena kasih dan anugerah-Nya serta keadilan-Nya yang Mahakudus sehingga setiap umat pilihan-Nya yang percaya beroleh hidup yang kekal. Christmas is Incarnation and kenosis. Selamat hari Natal. Solideo Gloria…!!!
Seringkali kita terlalu cepat menghakimi atau menghukum orang lain tanpa tahu fakta yang sebenarnya, hanya karena tidak sesuai dengan persepsi/ rencana kita, sehingga justru lebih sering lagi kita menyakiti orang-orang yang kita cintai. Kita memang perlu terus belajar sebelum terlambat, salah satunya dari kisah di bawah ini: Siu lan,seorang janda miskin memiliki seorang putrid kecil berumur 7 tahun, Lie Mei. Kemiskinan memaksanya untuk membuat sendiri kue-kue dan menjajakannya di pasar untuk biaya hidup berdua. Hidup penh kekurangan membuat Lie Mei tidak pernah bermanja-manja pada ibunya, seperti anak kecil lainnya. Suatu ketika di musim dinginm, saat selesai membuat kue, Siu Lan melihat keranjang penjaja kuenya sudah rusak berat. Dia berpesan agar Lie Mei menunggu di rumah karena dia akan membeli keranjang kue yang baru. Pulang dari membeli keranjang kue, Siu Lan menemukan pintu rumahnya tidak terkunci dan Lie Mei tidak berada di rumah. Marahlah Siu Lan, katanya “dasar tidak tahu diri, hidup sudah susah masih juga pergi bermain dengan teman-temannya”. Lie Mei tidak menunggu di rumah seperti pesannya. Siu Lan menyusun kue dalam keranjang dan pergi keluar rumah untuk menjajakannya, dinginnya salju yang memenuhi jalan tidak menyurutkan niatnya untuk menjual kue, bagaimana lagi? Mereka harus dapat uang untuk makan, sebagai hukuman bagi Lie Mei, putrinya, pintu rumahnya di kunci Siu Lan dari luar agar Lie Mei tidak bias pulang. “Putri kecil itu harus di beri pelajaran” gumamnya geram, “Lie Mei sudah berani kurang ajar”. Sepulang menjajakan kue, Siu Lan menemukan Lie Mei, gadis kecil itu tergeletak di depan pintu. Siu Lan berlari memeluk Lie Mei yang membeku dan sudah tidak bernyawa itu, Siu Lan berteriak membelah kebekuan salju dan menangis meraung-raung, tapi Lie Mei tetap tidak bergerak, dengan segera Siu Lan membopong Lie Mei masuk ke dalam rumah. Siu Lan menggoncang-goncangkan tubuh beku putri kecilnya sambil meneriakkan nama Lie Mei, tiba-tiba jatuh sebuah bungkusan kecil dari tangan Lie Mei, Siu Lan mengambil bungkusan kecil itu, isinya sebungkus kecil biscuit yang di bungkus kertas using. Siu Lan mengenali tulisan pada kertas usang itu…itu adalah tulisan Lie Mei yang masih berantakan namun tetap terbaca “hi..hi..hi..Mama pasti lupa, ini hari istimewa buat mama, aku membelikan biscuit kecil ini untuk hadiah, uangku tidak cukup untuk membeli biscuit ukuran besar…hi..hi..hi..Mama, selamat Ulang tahun.” Ketika membaca cerita ini, saya terharu dan biarpun sudah lebih dari 5 x saya membacanya saya masih tetap terharu (rasanya ingin meneteskan air mata), betapa begitu menyakitkan jika kita kehilangan orang yang kita sayangi oleh karena kesalahan kita dan itu hanya di sebabkan oleh karena keegoisan kita…seringkali kita menemukan bahwa kenyataan memang tidak selalu seperti yang diharapkan, atau justru orang-orang yang kita harapkan dan begitu dekat dengan kita justru mengecewakan kita dan itu membuat kita begitu marah dan emosi ( sehingga terkadang kita mengambil suatu keputusan untuk mengakhiri persahabatan atau suatu hubungan dengan mereka) tetapi dari cerita ini kita di beri suatu pengertian bahwa jangan pernah mengambil suatu keputusan pada saat emosi tidak dalam keadaan stabil karena selalu hasilnya tidak baik…!!!
Hal-hal kecil kelihatan mengganggu, tapi mungkin ada hikmah dibaliknya..
Setelah peristiwa 11 September, sebuah perusahaan mengundang karyawan dari perusahaan lain yang selamat, sedangkan sebagian besar meninggal saat terjadinya serangan atas WTC - untuk menceritakan pengalamannya. Pada pertemuan pagi itu, pimpinan kemanan menceritakan kisah bagaimana mereka bisa selamat … dan semua kisah itu adalah hanyalah mengenai : HAL-HAL YANG KECIL.
* * * * *
Kepala kemanan perusahaan selamat pada hari itu karena mengantar anaknya hari pertama masuk TK. Karyawan yang lain masih hidup karena hari itu adalah gilirannya membawa kue untuk murid di kelas anaknya. Seorang wanita terlambat datang karena alarm jamnya tidak berbunyi tepat waktu. Seorang karyawan terlambat karena terjebak di NJ Turnpike saat terjadi kecelakaan lalu lintas. Seorang karyawan ketinggalan bus. Seorang karyawan menumpahkan makanan di bajunya sehingga perlu waktu untuk berganti pakaian. Seorang karyawan mobilnya tidak bisa dihidupkan. Seorang karyawan masuk ke dalam rumah kembali untuk menerima telpon yang berdering. Seorang karyawan mempunyai anak yang bermalas-malasan sehingga tidak bisa siap tepat waktu untuk berangkat bersama-sama. Seorang karyawan tidak memperoleh taxi.
Sedangkan satu hal yang menahan saya sendiri adalah : sebuah sepatu baru.
Saya memakai sepatu baru pagi itu, dan berangkat kerja dengan bersemangat. Tetapi sebelum sampai di kantor (WTC), sepatu itu menyebabkan luka di tumit. Saya berhenti di sebuah toko obat untuk membeli plester. Inilah yang menyebabkan saya bisa tetap hidup sampai hari ini.
Sekarang, jika saya terjebak dalam kemacetan lalu lintas, ketinggalan lift, harus masuk ke rumah lagi untuk menjawab telpon … dan semua HAL KECIL yang mengganggu (mungkin itu sms dari orang yang tidak anda inginkan sekalipun) - sekarang ini saya sangat memahami, bahwa Tuhan benar-benar menginginkan saya berada di sini untuk saat ini …
Suatu pagi jika saudara merasa semuanya terlihat sangat kacau, anak-anak lambat berpakaian, saudara tidak bisa menemukan kunci mobil, selalu sampai di perempatan saat lampu merah menyala; jangan terburu-buru marah atau frustrasi, karena TUHAN sedang bekerja untuk menjaga kehidupan anda!
Kiranya Tuhan selalu memberkati saudara dengan semua hal-hal kecil yang tampaknya mengganggu - dan semoga saudara mengingat akan maksud dari semua peristiwa kecil itu terjadi
Pada tanggal 7 Desember 1998 di bagian utara Armenia, suatu gempa dengan kekuatan 6,9 skala richter menghancurkan sebuah gedung sekolah diantara bangunan-bangunan lainnya. Di tengah keramaian dan suasana panik, seorang bapak berlari menuju ke sekolah tersebut, dimana anaknya menuntut ilmu setiap harinya. Sambil berlari, ia terus teringat pada kata-kata yang sering ia ucapkan kepada anaknya itu, "Hai anakku, apapun yang terjadi, papa akan selalu bersamamu!"
Sesampainya di tempat di mana sekolah itu dulunya berdiri, yang ia dapati hanyalah sebuah bukit tumpukan batu, kayu dan semen sisa dari gedung yang hancur total! Pertama-tama ia hanya berdiri saja di sana sambil menahan tangis. Namun kemudian...tiba- tiba ia pergi ke bagian sekolah yang ia yakini adalah tempat ruang kelas anaknya. Dengan hanya menggunakan tangannya sendiri ia mulai menggali dan mengangkat batu-batu yang bertumpuk di sana. Ada seseorang yang sempat menegurnya, "Pak, itu tak ada gunanya lagi. Mereka semua pasti sudah mati."
Bapak itu menjawab, "Kamu bisa berdiri saja di sana, atau kamu bisa membantu mengangkat batu-batu ini!" Maka orang itu dan beberapa orang lain ikut menolong, namun setelah beberapa jam mereka capek dan menyerah. Sebaliknya, si bapak tidak bisa berhenti memikirkan anaknya, maka ia menggali terus.
Dua jam telah berlalu, lalu lima jam, sepuluh jam, tigabelas jam, delapan belas jam. Lalu tiba-tiba ia mendengar suatu suara dari bawah papan yang rubuh. Dia mengangkat sebagian dari papan itu, dan berteriak, "Armando!", dan dari kegelapan di bawah itu terdengarlah suara kecil, "Papa!". Kemudian terdengarlah suara-suara yang lain sementara anak-anak yang selamat itu ikut berteriak!
Semua orang yang ada di sekitar reruntuhan itu, kebanyakan para orang tua dari murid-murid itu, kaget dan bersyukur saat menyaksikan dan mendengar teriakan mereka. Mereka menemukan 14 anak yang masih hidup itu! Pada saat Armando sudah selamat, dia membantu untuk menggali dan mengangkat batu-batu sampai teman-temannya sudah diselamatkan semua. Semua orang mendengarnya ketika ia berkata kepada teman-temannya itu, "Lihat, aku sudah bilang kan, bahwa papaku pasti akan datang untuk menyelamatkan kita!"
Mari kita renungkan bagaimana kita menjalani hidup kita. Di saat kita dalam kegelapan, tertimpa oleh macam-macam beban masalah, jatuh dalam kelemahan dan dosa. Apakah kita lantas berkeluh kesah, putus harapan, dan lantas mengibarkan bendera putih pada dunia tanda menyerah? Ataukah kita akan bersikap seperti Armando, yang terus menggenggam HARAPAN? bahwa Seseorang sedang mencari kita dan siap menyelamatkan kita? Seseorang yang tak akan pernah menyerah sampai kita sudah di dalam pelukan-Nya?
Yesus sedang mencari kita dan siap menyelamatkan kita dan tidak akan pernah menyerah sampai kita sudah dalam pelukannya.
".....;seperti Aku menyertai Musa, demikianlah Aku akan menyertai Engkau; Aku tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau."
Ada hal2 yang tdk ingin kita lepaskan, orang2 yang tdk ingin kita tinggalkan tapi ada saatnya dimana kita harus berhenti mencintai seseorang bukan karena orang itu berhenti mencintai kita melainkan karena kita menyadari bahwa orang itu akan lebih berbahagia apabila kita melepaskannya.
Kita tidak ingin melepaskan seseorang ketika kebahagiaan kita sangat bergantung pada orang itu.
Kita tidak ingin melepaskan seseorang ketika kita merasa dia itu ganteng, cantik, teristimewa dibandingkan dgn yang lain.
Kita tidak ingin melepaskan seseorang ketika kita takut tidak dapat menemukan yang seperti dia.
Kita tidak ingin melepaskan seseorang ketika begitu banyak saat2 indah senantiasa terbayang dibenak kita.
Kita tidak ingin melepaskan seseorang ketika hati kita berkata “Saya sangat mencintainya”. Ingatlah !! Melepaskan bukanlah akhir dari dunia melainkan awal dari suatu kehidupan baru…
Kita harus melepaskan seseorang karena kebahagiaan kita tidak tergantung padanya.
Kita harus melepaskan seseorang karena kita menyadari yang ganteng,yang cantik, yang istimewa belum tentu yang terbaik buat kita.
Kita harus melepaskan seseorang karena kita tahu jika Tuhan mengambil sesuatu, Ia telah siap memberi yang lebih baik.
Kita harus melepaskan seseorang ketika saat2 indah hanyalah tinggal masa lalu.
Kita harus melepaskan seseorang karena kepala kita berkata “tidak ada lagi yang dapat dipertahankan”.
Kegagalan tidak berarti Anda tidak mencapai apa2… namun Anda telah memahami sesuatu…! Segala sesuatu ada waktunya, ada saat mempertahankan, ada saat melepaskan…!!
Saya pernah bilang sama anak-anak Pemuda di tempat di mana TUHAN mempercayakan saya melayani-Nya bahwa Sebuah pohon saja tidak mau menolak sebuah benalu (parasit) untuk menempel pada dirinya, walau dia tau bahwa benalu itu tidak terlalu berguna buat dia,bahkan hanya akan menyusahkan dia nanti, tetapi dia tetap menerimanya...kenapa kita yang adalah manusia yang mengerti kasih kadang begitu sulit untuk menerima orang yang telah berbuat salah kepada kita...??? kali ini ada sebuah kisah yang saya dapat, yang akan saya bagikan kepada teman2 semua tentang arti sebuah pengorbanan yang dilakukan dengan kasih, walau terkadang itu harus mengakibatkan beberapa bagian dari diri kita menjadi tersakiti, berlubang dan membuat kita kecewa karena mungkin tidak dianggap apa yang telah kita perbuat, di cuekin, disepelekan dan mungkin hanya di manfaatin saja,sehingga mungkin membuat kita untuk berpikir dan tidak mau berbuat baik (berkorban) lagi dengan landasan kasih, saya hanya mau bilang satu hal tetaplah mengasihi dan tetaplah berkorban karena Firman Tuhan berkata "Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu".(I Korintus 13: 4-7)
Musim hujan sudah berlangsung selama dua bulan sehingga di mana-mana pepohonan tampak menjadi hijau. Seekor ulat menyeruak di antara daun-daun hijau yang bergoyang-goyang diterpa angin.
"Apa kabar daun hijau!!!" katanya. Tersentak daun hijau menoleh ke arah suara yang datang.
"Oo, kamu ulat. Badanmu kelihatan kecil dan kurus, mengapa?" tanya daun hijau.
"Aku hampir tidak mendapatkan dedaunan untuk makananku. Bisakah engkau membantuku sobat?" kata ulat kecil.
"Tentu ... tentu ... mendekatlah ke mari."
Daun hijau berpikir, jika aku memberikan sedikit dari tubuhku ini untuk makanan si ulat, aku akan tetap hijau, hanya saja aku akan kelihatan belobang-lobang, tapi tak apalah.
Perlahan-lahan ulat menggerakkan tubuhnya menuju daun hijau. Setelah makan dengan kenyang, ulat berterima kasih kepada daun hijau yang telah merelakan bagian tubuhnya menjadi makanan si ulat. Ketika ulat mengucapkan terima kasih kepada sahabat yang penuh kasih dan pengorbanan itu, ada rasa puas di dalam diri daun hijau. Sekalipun tubuhnya kini berlobang di sana sini, namun ia bahagia bisa melakukan bagi ulat kecil yang lapar.
Tidak lama berselang ketika musim panas datang, daun hijau menjadi kering dan berubah warna. Akhirnya ia jatuh ke tanah, disapu orang dan dibakar.
-----------
Apa yang terlalu berarti di dalam hidup kita sehingga kita enggan berkorban sedikit saja bagi sesama? Toh akhirnya semua yang ada akan binasa. Daun hijau yang baik mewakili orang-orang yang masih mempunyai "hati" bagi sesamanya. Yang tidak menutup mata ketika melihat sesamanya dalam kesulitan. Yang tidak membelakangi dan seolah-olah tidak mendengar ketika sesamanya berteriak minta tolong. Ia rela melakukan sesuatu untuk kepentingan orang lain dan sejenak mengabaikan kepentingan diri sendiri. Merelakan kesenangan dan kepentingan diri sendiri bagi sesama memang tidak mudah, tetapi indah.
Ketika berkorban, diri kita sendiri menjadi seperti daun yang berlobang, namun itu sebenarnya tidak mempengaruhi hidup kita. Kita akan tetap hijau, Allah akan tetap memberkati dan memelihara kita.
Bagi "daun hijau", berkorban merupakan satu hal yang mengesankan dan terasa indah serta memuaskan. Dia bahagia melihat sesamanya bisa tersenyum karena pengorbanan yang ia lakukan. Ia juga melakukannya karena menyadari bahwa ia tidak akan selamanya tinggal sebagai daun hijau. Suatu hari ia akan kering dan jatuh.
Demikianlah hidup kita, hidup ini hanya sementara kemudian kita akan mati. Itu sebabnya isilah hidup ini dengan perbuatan-perbuatan baik: kasih, pengorbanan, pengertian, kesetiaan, kesabaran dan kerendahan hati.
Jadikanlah berkorban itu sebagai sesuatu yang menyenangkan dan membawa sukacita tersendiri bagi anda. Dalam banyak hal kita bisa berkorban.
Mendahulukan kepentingan sesama, melakukan sesuatu bagi mereka, memberikan apa yang kita punyai dan masih banyak lagi pengorbanan yang bisa dilakukan. Jangan lupa bahwa kita pernah menerima pengorbanan yang tiada taranya dari Yesus hingga kita bisa diselamatkan seperti sekarang ini.
TEOLOGI KEMAKMURAN kadang-kadang disebut pula Teologi Sukses, adalah doktrin yang mengajarkan bahwa kemakmuran dan sukses dalam bisnis adalah tanda-tanda eksternal bahwa yang bersangkutan dikasihi Allah. Kasih Allah ini diperoleh sebagai sesuatu takdir (predestinasi), atau diberikan sebagai ganjaran untuk doa atau jasa-jasa baik yang dibuat orang tersebut.
Jadi bagi mereka yang menganut ajaran ini seorang manusia dapat di katakan sukses jika memiliki uang yang banyak, popularitas, jabatan tinggi dan prestasi yang tinggi. Mereka melihat arti sukses tidak berbeda jauh dengan orang dunia. Bagi mereka, kesuksesan bisa di raih orang Kristen jika hidup kudus/saleh serta memiliki iman yang besar. Mereka banyak mengutip ayat Alkitab yang menekankan tentang hal iman namun mereka lebih suka mencomot satu bagian ayat tanpa melihat konteks keseluruhan ayat tersebut. Iman yang mereka ajarakan adalah iman yang bersifat antroposentris (berpusat kepada manusia).
Tetapi apakah memang Alkitab mengajarkan bahwa karena kita adalah anak Allah, dan Allah itu maha kaya, maka kita juga harus kaya? Alkitab memang tidak pernah melarang orang kristen untuk kaya. Tetapi Alkitab juga tidak mengharuskan orang kristen menjadi kaya! Walaupun kekayaan itu sendiri bukanlah dosa, tetapi kekayaan itu bisa membahayakan kita, kalau kita tidak bersikap benar terhadap kekayaan.
Untuk mempertahankan pandangan bahwa seorang Kristen harus makmur dan kaya, Teologia Kemakmuran menunjuk kepada Perjanjian Lama, contohnya janji Allah kepada Abarahan (Kej. 12:1-2), berkat Allah atas Ayub (Ayb. 42:10-17), dan kepada Yesaya (Yes. 52:13) di mana mereka hanya membaca kalimat, "Sesungguhnya, hamba-Ku akan berhasil..." Penafsiran terhadap bagian-bagian ini adalah suatu penafsiran yang asal-asalan, karena berkat Allah kepada Abraham tidak hanya diliat secara fisik (jasmani saja) bagian ini dipandang dalam Gal. 3:16-20 dan Ibr. 11:39 dalam pengertian rohani, dan digenapi tidak dalam Perjanjian Lama tapi Perjanjian Baru, dalam kedatangan Tuhan Yesus dan karya-Nya bagi gereja-Nya. Dengan menghargai Yes. 52:13, ayat ini tidak dapat ditafsirkan sebagai kemakmuran materi seperti yang ditunjukkan Teologi Kemakmuran. Karena Yes. 52 dan 53 ditafsirkan dalam Perjanjian Baru mengenai penderitaan Yesus, Mesias. Teologi Kemakmuran gagal untuk menafsirkan Perjanjian Lama secara tepat dalam terang Perjanjian Baru. Sejauh Ayub dilibatkan, benar bahwa Allah memberkati Ayub di bidang materi setelah ia menderita dalam waktu yang cukup panjang, tapi kitab Ayub bukan menceritakan bagaimana Allah selalu memberkati yang setia tapi mengenai bagaimana orang yang paling setia pun dapat menderita dan menghadapi keputusasaan. Di dalam PB ayat yang menjadi favorit bagi kaum teologi kemakmuran yaitu Yohanes 10:10, yang mereka tekankan pada frasa hidup berkelimpahan..artinya orang percaya harus hidup dalam kelimpahan..tetapi apakah benar ini yang dimaksudkan hidup berkelimpahan adalah dalam hal materi??? Sekali lagi jika kita ingin melihat suatu ayat maka kita harus belajar memperhatikan konteksnya dan juga melihatnya dari sudut keseluruhan Alkitab. Jangansembarangan menafsirkan kata "berkelimpahan". Kata ini tidak bermaksud bahwa siapa yang ikut Tuhan Yesus bakal kaya, itu tafsiran sesat ! Perikop ini tidak berbicara mengenai kesuksesan materi, tetapi perikop ini berbicara mengenai pribadi Kristus yang adalah Gembala yang memberikan nyawanya bagi domba-dombanya (ayat 11), yang dimaksud dengan kehidupan yang berkelimpahan lebih kepada keselamatan manusia yang tidak dapat hilang bukan pada persoalan materi, terlalu rendah jika yang Yesus maksudkan hanya sekedar pada persoalan materi dan kekayaan.
Tidak dipertanyakan bahwa Perjanjian Lama (dan sedikit menyangkut Perjanjian Baru) dapat melihat kemakmuran duniawi sebagai berkat yang diberikan Allah. Walaupun hanya beberapa bagian yang menyatakan poin ini, yang lain menyatakan dengan jelas bahwa bahkan seseorang yang tidak benarpun dapat makmur dan sukses, sementara orang benar kadang mengalami ketidakberuntungan. Perjanjian Baru, secara keseluruhan, negatif terhadap kekayaan (lihat Mat. 13:22; 19:24; Mrk. 4:19; Luk. 1:53; 6:24; 1Tim. 6:9, 17; Yak. 1:11; 2:5-6; 5:1).
Teologi Kemakmuran juga memberitakan bahwa orang Kristen harus sehat dan bahwa penyakit adalah tanda dari dosa dan kurang beriman. Alkitab dikatakan menjanjikan kesembuhan kepada setiap orang Kristen. Beberapa dari kutipan Alkitab yang paling mendukung pandangan ini adalah Yes. 53:4-6; Mrk. 16:15-18; Yak. 5:13-16; dan 1Pet. 2:24. Apa yang dapat dikatakan mengenai pandangan ini? Pertama, walaupun bagian-bagian yang ditunjukkan harus ditangani secara serius, Perjanjian Baru sendiri menjelaskan bahwa penyakit tidak selalu merupakan konsekuensi dari dosa tertentu yang dilakukan oleh seseorang yang sedang atau menjadi sakit, misalnya Yoh. 9:1-3. Kedua, ada contoh-contoh dalam Perjanjian Baru mengenai orang Kristen menjadi sakit tanpa ada alasan untuk menganggap bahwa ini dapat dihubungkan dengan beberapa dosa yang mereka lakukan, contohnya Flp. 2:25-27; 1Tim. 5:23; 2Tim. 4:20. Ketiga, meskipun Perjanjian Baru tidak memandang kesakitan atau penderitaan memiliki nilai intrinsik -- penderitaan tidak bernilai dalam penderitaan itu sendiri -- dapat menjadi alat yang bernilai karena dapat memimpin kepada suatu hal yang baik, misalnya kesabaran; lihat Rm. 5:3-5; 8:35-37. Akhirnya, Perjanjian Baru tidak menjanjikan kita hidup tanpa penderitaan atau masalah Kerajaan Allah dengan berkat-berkatnya (termasuk berkat jasmani) telah datang ke dalam sejarah bersama Yesus, tapi sebagai orang Kristen kita hanya 'mencicipi' Kerajaan Allah, yang kepenuhannya kita harapkan dan rindukan (lihat Rm. 8:18-28; 2Kor. 5:6-8; Why. 21:23-27; 22:1-5).
Satu hal lagi dari Gerakan Teologi kemakmuran memperkenalkan ajaran positive confession atau word of faith dalam sikap berdoa orang Kristen. Ajaran ini dewasa ini telah masuk ke dalam gereja-gereja dengan mempopulerkan kata-kata “berkuasa” yakni “name it & claime it” (sebutkan dan klaim janji Tuhan) sehingga orang percaya dengan segala ucapannya dapat menjadikan apa saja menjadi nyata. Positive Confession percaya bahwa pikiran manusia melalui pengakuan yang positif (positive thinking) mempunyai kuasa menciptakan realitanya sendiri baik itu kesehatan, kekayaan serta kesuksesan. Pengakuan yang dimaksud gerakan positive confession berbeda dengan ajaran Alkitab tentang pengukan yang lebih menekankan ketidak-berdayaan diri, bahwa manusia itu berdosa dan terbatas.
Doa (positive confession ) seperti ini, bukanlah doa yang menunjukan ketidak-berdayaan kita sebagai manusia. Doa seperti ini justru adalah doa yang congkak, yang memanipulasi Alkitab untuk kepentingan diri. Kesalahan utama mereka yang mengikuti gerakan faith movement atau positive confession ini adalah mereka meletakkan diri pada posisi yang tidak tepat. Orang yang mengerti posisinya dihadapan Tuhan pastilah rendah hati.
Implikasi dari ajaran positive Confession ini akhirnya hanya menjadikan Allah sebagai penjawab doa kita, atau pemenuh semua keperluan kita, sehingga jika Allah tidak menjawab doa mereka maka mereka tidak akan percaya kepada Allah lagi. Inti dari Iman Kristen bukanlah menjadikan Allah sebagai sebatas pemenuh kebutuhan kita tetapi Allah harus menjadi semua atas semua,Ajaran inisering juga mendatangkan konsekuensi bencana pada kesehatan mental mereka yang ingin menjadi Kristen tapi tidak mengalami semua berkat yang (dianggap) disediakan oleh para pengkhotbah Teologi Kemakmuran. Orang-orang yang mengalami hal sedemikiansering menjadi terganggu secara mental.
Kalau kita betul-betul memeperhatikan dan membandingkan keseluruhan Alkitab, maka akan mengambil kesimpulan bahwa Tuhan tidak pernah menjanjikan bahwa seseorang yang percaya selama hidup di dunia pasti akan bebas dari kemiskinan, sakit-penyakit, masalah rumah tangga dan masalah relasi, serta lepas dari penderitaan dan penganiayaan. Justru sebaliknya, Kristus datang ke dunia, hidup dalam penderitaan dan mati ditinggalkan pengikut-pengikut-Nya, Sehingga Iman yang sejati bukan iman yang melihat kepada berkat jasmani tetapi adalah iman yang melihat kepada Salib Yesus sebagai pusatnya.Setiap pengikut Kristus yang telah diselamatkan dari kematian kekal, dipanggil keluar dari kegelapan, akan menjalani hidup yang berhadapan dengan penderitaan akibat eksistensinya di dalam dunia yang sudah jatuh ke dalam dosa ini. Setiap orang wajib menyangkal diri mengikut Tuhan.
Teologi kemakmuran yang menyatakan bahwa setiap orang yang mengasihi Allah akan diberkati sebenarnya membuat sebuah kesalahan fatal dalam asumsi mereka. Tuhan memang berjanji akan memberkati setiap orang yang mengasihiNya, akan tetapi BUKAN BERARTI BERKAT TERSEBUT HARUS BERUPA BERKAT FISIK/MATERI.
Di dalam Alkitab kita temui banyak contoh akan orang-orang yang mengasihi Allah namun hidupnya tidak “makmur”. Kitab Ayub dengan jelas menyatakan bahwa Ayub adalah orang yang benar di hadapan Allah (bahkan Allah sendiri memuji Ayub!), akan tetapi kita tahu bahwa tetap Tuhan mengijinkan penderitaan terjadi pada diri Ayub. Kita juga melihat kisah nabi Yeremia yang sepanjang hidupnya menderita. Apakah ia kurang mengasihi Allah?
Contoh terakhir adalah Kristus sendiri. Dapatkah kita mengatakan bahwa IA kurang mengasihi Allah? Dapatkah kita mengatakan bahwa IA kurang setia dalam menjalankan FirmanNya? Tetapi kita tahu bahwa Kristus adalah orang yang tergolong miskin pada jamanNya. Selain itu, cara Ia mati pun bukanlah cara mati yang “terbaik”.
Jadi sebenarnya apakah berkat yang dijanjikan oleh Allah apabila kita mengasihiNya? Berkat tersebut adalah berkat rohani. Dan yang terutama dari segala berkat rohani itu adalah karya keselamatan yang diberikan melalui Kristus.
Pengejaran kita akan kekudusan tidaklah boleh dilandaskan akan harapan untuk mendapatkan berkat jasmani. Namun, apabila Tuhan mempercayakan berkat jasmani kepada kita, kita wajib mempergunakan apa yang Tuhan percayakan untuk kemuliaanNya. Solideo Gloria…!!!