Yesus Kristus adalah satu-satunya Juruselamat dunia (Yoh. 14:6). Pengakuan ini bukanlah hanya sebuah pengakuan yang dibuat-buat oleh Gereja mula-mula atau para pengikut-Nya pada abad mula-mula, tetapi pengakuan ini adalah sebuah pengakuan yang benar-benar lahir dari sebuah hasil pengujian yang kompeherensif terhadap suatu runtut pemikiran yang logis, lahir dari pengujian empiris yang kokoh dan juga lahir dari sebuah iman yang sejati, iman yang didasarkan kepada Alkitab sebagai satu-satunya Firman Allah, dan yang juga harus selalu diingat bahwa pengakuan ini datangnya dari pihak Tuhan yang memampukan kita untuk mengakui ini melalui karya Roh Kudus bukan karena kita memiliki kemampuan itu ( Matius 16:17)
Yesus Kristus layak menjadi satu-satunya Juruselamat dunia, karena dari lahir, kehidupan sampai mati-Nya, Dia menunjukkan bahwa kepenuhan Allah ada di dalam diri-Nya, bahkan Dia adalah Allah sejati (Yoh.1:1). Allah yang menjadi sama dengan manusia untuk menyelamatkan dan menebus manusia dari dosa dan penghukuman yang sepatutnya ditimpakan kepada manusia. Di dalam sejarah kehidupan manusia, tidak pernah ada manusia yang seperti Dia. Musa, Daud, Socrates, Plato, Kong Fu Tze, Muhammad, Mahatma Gandhi, Bunda Teresa, bahkan Barack Obama yang begitu familiar pada saat ini atau siapapun tidak ada yang sama seperti Yesus, Yesus begitu berbeda, begitu agung, begitu mulia dan begitu tinggi jika dibandingkan dengan semua manusia yang pernah ada dan hidup di dunia ini.
Kini kita berada di Bulan Desember. Bulan Desember menjadi bulan dimana orang percaya merayakan kelahiran Yesus di tengah dunia yakni tanggal 25 Desember. Meski dari sudut sejarah tak ada tanggal paling pasti tentang kelahiran Yesus, namun perayaan Natal per 25 Desember sudah menjadi tradisi Kristen berabad-abad, karena makna perayaan hari besar suatu agama tidak mesti bertempat pada akurasi hitungan hari dan tanggal, tapi bagaimana merevitalisasi makna-makna di balik perayaannya dan bagaimana melalui perayaan tersebut manusia diingatkan bahwa hanya karena kasih Allah mau turun ke dalam dunia, di dalam kandang yang hina, menjadi sama dengan manusia untuk menebus dan menyelamatkan manusia. “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, Tuhan kita, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Yoh. 3:16)
Persoalan mengenai apakah mungkin Allah menjadi manusia dalam diri Yesus Kristus merupakan suatu persoalan yang cukup pelik karena konsep Allah menjadi manusia adalah suatu konsep yang tidak dapat diterima oleh akal manusia (tetapi ini tidak berarti bahwa konsep ini adalah konsep yang irasional justru sebaliknya konsep ini adalah konsep yang supra-rasional (melampaui akal manusia) sehingga seharusnya ketika manusia tidak dapat mengerti akan persoalan ini maka manusia harus menyadari bahwa pekerjaan Allah tidak dapat manusia selami dengan akal mereka (Pengkhotbah 8:17), karena jika manusia dapat memahami keseluruhan pekerjaan Allah maka Allah tidak layak disebut sebagai Allah lagi. Tetapi kenyataan yang terjadi justru sebaliknya! Manusia yang tidak memahami persoalan ini dengan akal mereka menyatakan bahwa konsep ini harus ditolak, harus dibuang dengan alasan-alasan superioritas ilmu pengetahuan dan keselarasan akal mereka…!!! Bagi kebanyakan orang Yesus sebenarnya bukan Allah karena tidak mungkin Allah menjadi Allah yang terbatas dalam waktu dan materi dalam tubuh lemah manusia bahkan dalam tubuh kecil, miskin, papah dan hina yaitu dalam sebuah bayi kecil karena Allah adalah Roh (Yoh. 4:24) bahkan Roh yang mahatinggi, Dia ada dengan sendirinya dan Dia sempurna tanpa batas. Sehingga bertolak dari pemahaman ini begitu banyak orang yang menolak mengakui bahwa Yesuslah Tuhan dan Allah sejati.
Berbicara tentang Allah menjadi manusia dalam diri Yesus Kristus yang berkaitan dengan Natal maka seharusnya kita tidak boleh melepaskan diri dari pemahaman yang Alkitab berikan tentang misteri Inkarnasi dan juga tentang Kenosis dan bukannya harus bergantung dan berharap kepada akal manusia, karena akal manusia dapat juga salah, akal manusia juga dapat menyesatkan bahkan Alkitab berkata bahwa tidak ada seorangpun yang berakal budi (Roma 3: 11) bagaimana Allah dengan rela mengosongkan diri dan mengambil rupa seorang hamba dan menjadi sama dengan manusia agar kita dapat memahami dengan jelas makna daripada natal tersebut, “yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipethankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri (Kenosis) dan mengambil rupa seorang hamba dan menjadi sama dengan manusia (Fil. 2:6-7).
Kata inkarnasi sendiri berasal dari bahasa latin yang terdiri dari 2 kata yaitu in yang berarti masuk dan carne yang berarti daging jadi Inkarnasi berarti masuk ke dalam daging, jadi inkarnasi dalam pengertian yang ditujukan kepada Yesus adalah Yesus Kristus yang adalah Allah, Allah yang adalah Roh, turun ke dalam dunia dan mengambil tubuh sebagaimana tubuh kita sekarang. Kita sulit untuk merenungkan secara tuntas atau menghayati kedalaman maknanya. Kita memiliki tubuh dan daging, di mana ketika dikatakan Kristus menjadi daging, lalu kita melihat diri kita, maka Kristus menjadi seperti kita. Kita tidak mengerti secara tuntas perendahan itu seperti apa karena kita tidak pernah bereksistensi sebagai Roh seperti Allah dan para malaikat. Ini menunjukkan betapa agung dan betapa mulia dan betapa hebatnya pekerjaan Allah. Inkarnasi dalam pengertian secara konsep mudah dipahami, tetapi dalam penghayatan begitu sulit untuk mengerti. Ini tidak berarti ada dualisme antara konsep dan penghayatan, bukan! Melainkan justru konsep itu sungguh-sungguh kita mengerti ketika kita juga menghayatinya. Di dalam iman Kristen kadang-kadang kita justru kagum di dalam kekurang-mengertian secara tuntas, kita kagum dan terharu, dan di dalam keadaan seperti itulah kita mengasihi dan menyembah Tuhan kita.
Theologia Reformed memiliki inti doktrin yaitu kedaulatan Allah, di mana salah satunya Inkarnasi adalah bentuk kedaulatan Allah. Artinya, Allah yang Berdaulat adalah Allah yang Berdaulat membatasi diri-Nya yang kekal untuk menjadi manusia yang terbatas. Jika Allah tidak bisa menjadi manusia, masih layakkah Allah disebut Allah ? Di sini, kegagalan konsep sebuah agama (antroposentris) yang mati-matian mengatakan Yesus itu hanya manusia/nabi saja dan bukan Allah. Di dalam Inkarnasi Kristus, Kekekalan bertemu dengan kesementaraan, sehingga kesementaraan memiliki makna hidup di dalam perspektif Kekekalan. Sehingga kalau Kristus tidak pernah menjadi manusia di dalam Inkarnasi, bagaimana jadinya hidup manusia yang sementara ini ? Hidup yang tidak berada di dalam perspektif kekekalan Kristus adalah hidup yang sia-sia dan tanpa pengharapan.
Tradisi yang berkembang di NTT ketika merayakan Natal adalah natal identik dengan rumah yang di cat baru, dan banyak lagi yang “berbau baru” tetapi orang Kristen telah melupakan makna Natal yang sesungguhnya. Natal berarti Allah yang begitu tinggi dan kekal masuk ke dunia yang rendah dan sementara agar yang sementara dan rendah itu memiliki arti. Inilah Natal sehingga ketika kita mempersiapkan diri kita untuk merayakan Natal adalah bagaimana kita membuat hidup kita menjadai garam dan terang, menjadi saksi buat Tuhan.
Alkitab memberi kesaksian kepada kita, bahwa dalam peristiwa Natal bagaimana Tuhan membatasi diri ketika Allah menjadi manusia, bahkan Allah bukan turun di tempat yang terhormat, bukan sebagai anak raja atau bangsawan tetapi justru Allah turun dari tempat yang paling tinggi menuju tempat yang paling rendah diantara semua manusia, bahkan kelahiran-Nya saja tidak memiliki tempat. Benarlah apa yang Yesus sendiri katakan kepada murid-murid-Nya bahwa serigala mempunyai liang… tetapi Anak manusia tidak punya tempat untuk meletakkan kepala-Nya (Matius 8:20) ini menunjukkan betapa Allah begitu mengasihi manusia sehingga Allah rela untuk menjadi sama dengan manusia bahkan sangat amat terhina (Yoh 3:16). Kita yang tidak sama seperti Allah tidak bisa sungguh-sungguh mengerti perendahan itu, karena sesama manusia kita berada dalam posisi yang sama. Kita tidak pernah menurunkan diri menjadi ciptaan yang lebih rendah sehingga kita sungguh mengerti apa yang Kristus lakukan. Perendahan yang dilakukan oleh Kristus merupakan penyerahan diri yang absolut, mutlak, sempurna, tidak bisa dilampaui oleh siapapun karena sebagai Pencipta masuk dalam dunia ciptaan. Itu suatu penyangkalan diri yang luar biasa! Kita tidak mungkin turun ke dalam dunia tersebut seperti yang Yesus lakukan untuk mengerti inkarnasi, bahkan seandainya menjadi pasir pun kita tetap di dalam dunia ciptaan, ciptaan yang lebih tinggi menuju ciptaan yang lebih rendah. Tetapi Yesus Kristus dari Pencipta menjadi seperti ciptaan, seperti dikatakan oleh Kierkegaard, a qualitative difference, menjadi suatu kehidupan di dalam dunia ciptaan, terbatas seperti manusia yang terbatas.
Ini misteri yang begitu besar, sehingga ketika kita merayakan Natal sepatutnya kita merayakannya dengan penuh perasaan hormat dan penyembahan kepada Tuhan seperti apa yang dilakukan oleh para gembala dan orang Majus dan jangan seperti Herodes yang berada pada ketakutan akan kehilangan posisinya sebagai raja, sebab Yesus layak disembah dan di puji oleh semua manusia karena Yesus adalah 100% Allah dan 100% manusia. Doktrin dwi-natur Yesus ini banyak diserang oleh orang-orang dunia bahkan beberapa orang “Kristen” sendiri (misalnya, kaum Unitarian). Mereka berkata bahwa ini tidak masuk akal. Benar, ini tidak masuk akal kita yang terbatas dan berdosa, tetapi sangat masuk akal bagi Allah yang kekal dan Mahakudus. Mengapa Yesus harus berdua natur ini ? Mengapa tidak cukup satu natur ? Mari kita memikirkannya. Yesus bernatur Allah, karena hanya Allah yang sanggup dan mampu menebus dosa manusia. Tetapi bagaimana cara Allah menebus dosa manusia, jika Ia sendiri tidak menjelma menjadi manusia ? Oleh sebab itu, Yesus harus bernatur manusia, karena Allah tidak bisa mati, sedangkan manusia bisa mati. Dengan dwi-natur
Hal kedua yang perlu kita pikirkan dan renungkan tentang natal adalah menyangkut dengan kenosis. Kata "KENOSIS" (mengosongkan diri) berasal dari kata Yunani κενοω - Kenoô. Ini berasal dari kata kerja εαυτον εκενωσεν - heauton ekenosen, 'Ia mengosongkan diriNya sendiri', Filipi 2:7 : Dalam rangka penafsiran Filipi 2:7 ini, 'kenosis' tidak berarti penjelmaan-Nya menjadi manusia tapi penyerahan akhir dari hidup-Nya, dengan mengorbankan diriNya di kayu salib. Meskipun tafsiran yang baru ini bisa dianggap agak di-paksakan. namun tafsiran ini mengarahkan kita pada jalan yang benar. Kata-kata 'mengosongkan diriNya' dalam Filipi 2:7 sama sekali bukan berkata bahwa Dia melepaskan sifat-sifat ilahi, dan karena itu teori 'kenosis adalah tafsiran yang keliru tentang istilah-istilah Kitab Suci. Menurut Ilmu Bahasa, 'mengosongkan diri sendiri' harus ditafsirkan sesuai dengan kata-kata berikutnya. Yang dimaksudkan di sini adalah 'pelepasan hak-hak sebelum inkarnasi bertautan dengan tindakan "mengambil rupa seorang hamba'" (V Taylor, The Person of Chris: in New Testament Teaching. 195R, hlm 77). Hal mengambil rupa seorang hamba menyangkut juga pembatasan yang perlu terhadap kemuliaan. yang ditanggalkan supaya Ia bisa dilahirkan menjadi 'sama seperti manusia'. Kemuliaan dalam kesatuan-Nya dengan Bapak (Yohanes 17:5, 24) yang sudah dari semula dimiliki-Nya, karena dari kekal Dia 'dalam rupa Allah' (Filipi 2:6), kemuliaan itu yang tersembunyi dalam 'rupa seorang hamba' yang Dia ambil pada waktu Ia mengambil hakikat dan rupa manusia (menjadi manusia). Dalam menerima kemanusiaan kita. Dia menerima juga panggilan-Nya sebagai hamba Tuhan yg merendahkan diriNya sendiri sampai mengorbankan diriNya sendiri di Golgota. Jadi kenosis itu mulai di hadirat Bapa-Nya dengan pilihan-Nya yang mendahului penjelmaan itu untuk mengambil rupa manusia. Pilihan itu membawa-Nya pada ketaatan terakhir di kayu salib, ketika Dia sepenuh-penuhnya menyerahkan nyawa-Nya sampai mati (lihat Roma 8:3; 2 Korintus 8:9;
Ada sebuah kalimat yang cukup menyentuh saya ketika masih melayani dan berada di Papua untuk menguatkan kami untutk tetap focus melayani Tuhan sekalipun ada di tempat terpencil yaitu bahwa “jalan untuk naik itu turun” dari perspektif ini saya coba melihat bahwa Natal bukan hanya Allah jadi manusia tetapi juga berarti Allah mengosongkan diri-Nya dan rela taat sampai mati bahkan mati di Kayu salib untuk mengerti dan memahami serta menunjukkan jalan keluar terhadap semua masalah yang manusia alami yaitu dosa.. Jadi Natal berarti mengarahkan pandangan kita menuju SALIB.
Banyak dari kita ketika merayakan Natal adalah dengan menghias pohon natal, membuat kandang domba dan palungan, dan semua yang bernuansa kemewahan tetapi jarang dari kita yang merayakan Natal dengan hiasan SALIB, sehingga terkadang membaut kita terlena dan lupa bahwa Natal (palungan, pohon natal, lampu kerlap-kerlip, dll) sebenarnya adalah suatu titik awal dimana Yesus akan menuju salib untuk menanggung semua dosa manusia. Natal adalah kerendahan hati dan kerelaan untuk menderita. Augustinus ketika ditanya oleh seseorang yang ingin mengetahui rahasia kehidupan kekristenan menjawab ada 3 hal yang sangat penting yaitu kerendahan hati, kerendahan hati, dan kerendahan hati. Seperti seolah-olah selain kerendahan hati tidak ada yang lain karena kerendahan hati begitu sulit untuk mendapatkannya, bukan karena di luar kerendahan hati tidak ada topik yang lain di dalam kekristenan. Kerendahan hati begitu sentral dan begitu pokok dan ketika kita menyaksikan kehidupan Kristus sendiri, kita melihat DiriNya dan seluruh hidupNya, adalah kehidupan kerendahan hati.
Banyak dari kita bahkan tidak jarang Gereja-Gereja yang ada ketika menyambut natal maka yang di tingkatkan adalah pelayanan Diakonia (pelayanan kasih) dan membuat begitu banyak perkunjungan ke tempat-tempat yang di mana ada orang-orang yang dianggap terbuang (penjara, panti asuhan, panti jompo dll). Ini adalah sesuatu yang cukup menarik dan seakan-akan menunjukkan spirit Kenosis (mengosongkan diri) bahwa kita juga merasakan apa yang mereka rasakan. Tetapi justru jika di tilik dengan seksama dan jika kita harus jujur maka makna kerendahan hati dan kenosis yang kita cicipi sangat minim bukan? Mengapa? Karena biasanya kita hanya sementara waktu saja ada di ‘tempat penderitaan’ itu. Penulis bukan mengkritik atau mempersoalkan program pelayanan tersebut tetapi yang mau penulis tekankan dalam hal ini ketika kita mau merayakan natal adalah dengan menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.
Kita ada dalam masa di mana ada begitu banyak peristiwa dan musibah yang terjadi. Natal berarti suatu bentuk kerelaan untuk merasakan pergumulan masyarakat yang dialami. Kita hanya dapat mengetahui dan merasakan pergumulan yang dialami oleh masyarakat hanya apabila kita mau menanggalkan keegoan kita dan “mengosongkan diri kita” untuk turun di masyarakat bahkan “rela mati” buat mereka, Seperti Kristus yang tetap mengasihi manusia bahkan ketika Dia disalibkan pun, Dia masih sempat berdoa kepada Bapa agar mereka yang menyalibkan-Nya di ampuni karena mereka tidak tau apa yang mereka perbuat.
Akhirnya Puji Tuhan, Kristus lahir di dunia ini, kelahiran-Nya bukan seperti kelahiran orang biasa (atau orang “suci”), tetapi kelahiran-Nya sangat khusus, karena kelahiran-Nya adalah Inkarnasi (=Allah menjadi manusia) yang dari kekekalan menembus ke dalam kesementaraan, dari kemuliaan menuju kerendahan dan kehinaan agar manusia yang miskin jadi kaya, yang lemah dan tak berdaya jadi kuat, yang tidak berarti menjadi berarti. Biarlah Natal tahun ini, bukan sebagai perayaan religius yang tanpa arti, perayaan rutinitas, atau perayaan sekuler tanpa makna Natal sesungguhnya, tetapi Natal tahun ini adalah Natal Inkarnasional dan kenosis, yaitu kita mengingat kelahiran Kristus sebagai Inkarnasi dan pengosongan diri yang absolute guna menebus dosa manusia dan membawa kedamaian sejati bagi manusia pilihan-Nya. Ketika Allah mau menjadi manusia demi kita yang najis, berdosa, bobrok, rusak total, dll, ingatlah, itu semua terjadi karena kasih dan anugerah-Nya serta keadilan-Nya yang Mahakudus sehingga setiap umat pilihan-Nya yang percaya beroleh hidup yang kekal. Christmas is Incarnation and kenosis. Selamat hari Natal. Solideo Gloria…!!!
Thanks.. memberkati saya dalam penulisan paper tentang kenosis. God bless you.
BalasHapus